Hari Raya Kabar Sukacita

25 Maret 2011
Yes 7: 10-14  +  Ibr 10: 4-10  +  Luk 1: 26-38
 
 
Lectio :
Injil menceritakan pengalaman Maria dalam menanggapi sapaan dan kehendak Tuhan Allah dalam dirinya. Ia mendengar kabar sukacita, tetapi tidak dimengertinya. Namun berkat imannya, bahwa bagi Allah tiada yang mustahil, Maria pun menerima kehendak dan kemauan Tuhan,  sebab 'aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku, menurut perkataanMu'.
 
Meditatio :
'Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau'.
Sapaan malaikat Gabriel kepada Maria, seorang gadis perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud.  Peristiwa itu terjadi di sebuah kota Nazaret di daerah Galilea. 'Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu'. Maria bukanlah seorang yang bodoh, dia bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa salam itu disampaikan kepada dirinya dan apakah artinya? Karunia apa? karena dia tidak merasa menerima apa-apa selama ini?
'Jangan takut, hai Maria', tegas malaikat itu kepadanya, 'sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi, dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan'. Karunia itu adalah bahwa dia akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki.
'Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?', sahut Maria. Dia tidak mempertanyakan mengapa laki-laki, Anak yang dikandungnya itu, harus dilahirkan di mana, dan akan jadi apa Anak itu nanti; konkrit Maria menanyakan bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena dia belum bersuami?;  Anak itu mau menjadi apa atau mempunyai kedudukan apa, adalah konsekuensi kelak, kalau memang dia bisa mengandung, karena memang sekarang ini Maria amat sadar siapa dirinya, dia hanyalah seorang gadis, seorang perawan, dia belum terikat perkawinan dengan siapun juga, dan bukan yang lain!
'Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah', jawab malaikat itu. Maria akan mengandung karena Roh Kudus dan kuasa Allah sendiri, Allah sendiri akan berkarya dalam dirinya. Ini adalah kehendak Allah! Semuanya bisa terjadi, lihatlah 'Elisabet pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil'.
Maria bukanlah orang yang bodoh, dia kritis dan berani bertanya-tanya. Keberanian Maria bertanya-tanya menunjukkan adanya pergulatan bathin dalam dirinya menanggapi kemauan dan kehendak Tuhan, kehendak yang mengatasi kemampuan kodrati manusia; tetapi ketika dihadapkan kepada Tuhan Allah yang Empunya segala, imannya bersuara dan membuat dirinya merunduk di hadapan Allah yang Mahakuasa, sebab memang bagi Allah tidak ada yang mustahil. Tuhan Allah pasti membuat segala-galanya baik adanya! Maria sungguh-sungguh seorang perempuan yang beriman. 'Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu', tegasnya mengungkapkan keberanian menerima kemauan dan kehendak Tuhan. Segala keraguan dan pertanyaan-pertanyaan dalam dirinya ia abaikan, 'sebab Tuhan Allah mau mengatur hidupku; bukan lagi aku yang hidup dalam diriku, biarlah Kristus sendiri yang hidup di dalam diriku' (Gal 2: 20).
Saat itulah Yesus lahir dalam hati Maria. Detik itulah Yesus hadir di tengah-tenagh umatNya. Proses Inkarnasi pun berjalanlah sesuai dengan kehendak Allah Bapa; nubuat Allah: 'bahwa seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel', sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama, sungguh-sungguh terlaksana sekarang juga.
Hari ini adalah Hari Raya Kabar Sukacita, tepat 9 bulan sebelum perayaan Natal; hanya saja mengapa perayaan Santo Yusuf, suami Maria, yang menggenapi karya penyelamatan ini, dirayakan satu minggu sebelum perayaan kabar sukacita? Apakah terlalu berani kalau kita mengatakan bahwa peran Yusuf memang amat dibutuhkan dalam mendapatkan status social, sehingga tercatat dalam sejarah? Bukankah proses Inkarnasi sudah dimulai dan sedang berjalan semenjak jawaban Maria? Secara kronologis memang lebih tepat dirayakan sesudah perayaan kabar sukacita, tapi kiranya tidak ada yang sulit bagi orang yang percaya (Mrk 9: 23) untuk merayakannya.
            Hari Raya Kabar Sukacita menunjukkan betapa indah dan luhurnya iman kepercayaan kepada Allah. Iman mensukseskan kemauan Allah untuk menyelamatkan kita manusia. Beriman  menunjukkan bahwa kita mau diselamatkan Allah, karena memang Dia, Yesus Tuhan, datang hanya untuk menyelamatkan seluruh umatNya. Beriman berarti gayung bersambut akan karya penyelamatan, dan 'karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus', tegas Paulus dalam bacaan kedua tadi.
 
 Oratio :
Yesus, murnikanlah iman kami kepadaMu, dan semoga Engkau selalu membimbing pikiran dan hati kami dalam menanggapi sapaanMu yang selalu menyelamatkan.
Yesus, segarkanlah iman semua orang dalam menanggapi Engkau, agar kami semua tidak bertindak mengenal Engkau hanya sebatas akal budi dan nalar kami, melainkan terbuka akan karya kasih dan kehendakMu.
 
Contemplatio :
Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku, menurut perkataanMu.
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening