Jumat Prapaskah I

18 Maret 2011
Yeh 18: 21-28  +  Mzm 130  +  Mat 5: 20-26
 
 
Lectio :
Yesus menghendaki agar para muridNya, yakni kita semua yang percaya kepadaNya tidak bertindak seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, sebab bila hidup keagamaan kita sama seperti mereka, kita tidak akan beroleh kesempatan masuk dalam Kerajaan Surga. Yesus malahan meminta kita jeli terhadap dosa-dosa kita, sekecil apapun dosa itu harus kita hilangkan, karena akan menodai perbuatan baik kita terhadap Tuhan dan sesame.
 
Meditatio :
'Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga'.
Pernyataan Yesus ini menegaskan bahwa hidup keagamaan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu sudah benar dan baik, tetapi itu tidak cukup; hidup keagamaan para muridNya harus melebihi mereka, dan malahan tidak boleh sama dengan mereka. Konkritnya bagaimana agar cara hidup para muridNya, kita semua, lebih baik daripada kaum Farisi dan para ahli Taurat?
Pertama, jangankan mereka yang membunuh harus dihukum, setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; jangankan mereka yang berteriak: kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, siapa yang berkata: jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Hendaknya kita tidak menunggu dosa itu sudah menumpuk dan memuncak  baru ada sanksi hokum, segala sikap, tindakan dan kata yang sudah menjadi bibit dosa yang mematikan haruslah dihapus dan dihindari. Janganlah kita mengeluh dan resah, bila terjadi banjir di rumah dan halaman kita, kebersihan rumah dan aneka selokan kiranya harus mendapatkan perhatian semenjak semula, janganlah mengeluh kesakitan karena kondisi gula tinggi dalam tubuh kita, bila memang kita berdiam diri dan tidak mau bertarak dari segala makanan yang mengundang nafsu serakah. Cabutlah akarnya, dan bukan daunnya, bila memang halaman rumah kita ingin bersih dari rerumputan.
Kedua, demikian juga dalam kebaikan, kita diundang dan diundang untuk melakukan kebaikan, tetapi sebaiknya 'jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu'. Janganlah kemauan baik dan perbuatan kasih kita dikotori dan dinodai oleh tindakan kita sendiri; janganlah kita memberi salam kepada teman kita, tetapi perhatian dan senyum wajah ini kita arahkan kepada orang lain; lambaian tangan menunjukkan kemauan seseorang untuk menyampaikan salam perpisahan dan bahkan berkat bagi temannya, dan bukannya dengan pangkuan tangan dan tanpa tebaran senyum sedikitpun.
Bila kita melakukan kedua hal ini, kiranya hidup keagamaan kita akan lebih baik dan benar dari para ahli Taurat dan kaum Farisi yang seringkali bertindak munafik dan hanya sebatas aturan dan hokum. Dengan menguduskan diri dan berusaha tidak mempunyai bibit-bibit dosa, seseorang memang berusaha dan berusaha ingin selalu mengendalikan diri untuk hidup suci dan kudus di hadapan Tuhan dan sesame, bukan untuk pamer, melainkan dia berusaha dan berjuang mengikuti panggilan Tuhan yang adalah kudus. Dosa sekecil virus pun dia bersikan dan dia hapuskan dari dirinya; dia tidak mau dosa berkembang dan terdaftar dalam catalog kehidupan, dia tidak bertindak sebatas hokum yang sungguh kasat mata itu. Demikian juga dalam relasi bersama, dia tidak mau berpura-pura dan bertindak segala sesuatu agar mendapatkan pujian dari sesamanya, dia berusaha berbuat baik dalam pelbagai bidang kehidupan, malahan diharapkan semuanya itu saling mendukung satu dengan lainnya, dia tidak menghendaki perbuatan baiknya yang satu dinodai dan dikaburkan oleh perbuatan lainnya.
'Hendaknya hidup keagamaanmu lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi' ini adalah sebuah kebenaran yang disampaikan Yesus. Orang, yang mengamini sabdaNya ini, dia tidak mau berkanjang dalam dosa, dosa sekecil apa pun sudah dia cabut dan dijauhinya. Bersikap dan betindak seperti ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berarti berdiam diri dan berkanjang dalam dosa, dan seturut bacaan pertama, dia berarti 'beralih dari kebenaran, dan Ia harus mati karena ia berobah setia dan karena dosa yang dilakukannya'.
Sebaliknya orang berusaha hidup keagamaannya lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berarti selalu 'berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia; ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya'. Inilah puasa dan pantang yang wajib dilatih dalam masa Prapaskah ini; puasa dan pantang dari dosa kecil dan dosa besar, malahan sebaliknya, kebenaran Tuhan menjadi kesukaannya sehari hari.
 
 
 Oratio :
Yesus ajarilah kami untuk hidup lebih baik dan kebih baik dalam keseharian kami, dan ajarilah kami berani mencabut akar-akar dosa yang dalam diri kami, agar dalam diri kami tidak tumbuh aneka tanaman dosa yang merambat ke mana-mana.
Yesus buatlah kami selalu berpuat kepadaMu dengan berpantang dan puasa dari dosa.
 
Contemplatio :
Aku berusaha hidup keagamaanku  lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi agar dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening