Minggu Prapaskah I

13 Maret 2011
Kej 2: 7-9; 3: 1-7  +  Rom 5: 12-19  +  Mat 4: 1-11
 
 
 
 
Lectio :
Yesus dicobai iblis, pertama di padang gurun, tempat yang memang amat menantang dan menyulitkan, mengingat terbatasnya fasilitas yang ada; kedua, di kota kudus, Yerusalem, tepatnya di bubungan bait Allah, tempat setiap orang berjumpa dengan Tuhan; dan ketiga di atas gunung yang membuat orang mampu memandang dunia dengan lebih indah dan mempesona.
 
 
Meditatio :
 
'Yesus digerakan oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis'. Mengapa harus di padang gurun, apa tidak memungkinkan di tempat lain? Apakah karena di padang gurun itu lebih parah situasi dan kondisinya daripada di kota?
'Setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus'. Lama kali puasaNya Yesus, 1 bulan lebih, dan pada saat itulah waktu yang pas datangnya sebuah cobaan. 'Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti'. Suatu cobaan yang memang tepat sasaran dan waktu, apalagi lagi kita bisa melakukannya secara mudah dan terkendali.
'Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah', jawab Yesus, dan memang inilah kehidupan. Hidup seseorang tidak bergantung pada makanan dan minuman! Namun amatlah sulit memang dimengerti jawaban Yesus ini, bila kita dalam keadaan berkekurangan, bagaimana mungkin saya bisa berdoa dan berdoa, dan  pengharapan pun terasa pudar, bila memang dalam keadaan lapar dan haus? Komunikasi kita dengan Tuhan bisa terasa kering, dan sepertinya Tuhan meninggalkan kita, bila berada di padang gurun kehidupan.
'Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah'. Menarik kali memang. Padang gurun tidak menjatuhkan Yesus dalam pencobaan. Kini Yesus dibawa ke kota kudus, di bait Allah; di tempat yang suci dan kudus, tempat perjumpaan manusia dengan Tuhan, ada muncul cobaan! Di gereja pun iblis pun menyempatkan diri bergerilya dan mengaum-aum mencari mangsanya, pernahkah kita menjumpainya, atau kita malahan jatuh bersamanya?
'Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, bukankah Allah akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu?' kata si penggoda. Mengapa berani-beraninya kita hendak membuktikan kebaikan Allah dengan bertindak bodoh dengan mencelakakan diri? 'Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!', tegas Yesus, sebab semua itu tidak akan menghasilkan apa-apa, malahan kebinasaanlah buah-buahnya tentunya. Biarkanlah sepeda motor itu tidak terkunci dan terparkir di pinggir jalan, bukankah Tuhan itu Penjaga kita umatNya? Ini pun kebodohan dan bukannya ungkapan sebuah iman.
'Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya'. Dari tempat di atas, kita memang bisa melihat segalanya dengan lebih baik dan indah, di luar perkiraan sebelumnya. Masih ingatkan kita akan pengalaman Daud yang terpesona pada Batsyeba binti Eliam (2Sam 11), ketika dia sebagai seorang raja dan penuh kuasa berdiri di atas sotoh rumahnya? Dari sebuah jabatan di atas pun kita dapat melakukan segala sesuatu hanya dengan kata-kata perintah.  Dari atas gunung yang sangat tinggi tampaklah semua kerajaan dunia dengan kemegahannya.
'Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku', seru si penggoda kepada Yesus. Berani sungguh memang dunia kejahatan itu berseru dan berseru, bahkan menantang seorang Yesus, yang adalah Tuhan!  'Enyahlah, Iblis! hanya kepada Tuhan, Allahmu sajalah engkau menyembah dan berbakti!', tegur Yesus kepada kuasa kegelapan itu.
Tergoda! Bisa terjadi di sembarang tempat dan di segala waktu. Tergoda bisa terjadi karena ada godaan dari luar diri seseorang, sekaligus ada kemauan untuk menanggapi. Kedua-duanya harus ada dan saling mengandaikan; ada godaan, tetapi tidak ada kemauan menanggapinya, maka tidaklah terjadi situasi yang menjerumuskan.
Di padang gurun mungkin orang lebih mudah tergoda karena memang tempat yang mengkondisikan, sebagaimana dialami Yesus tadi, demikian juga di tempat yang kudus, di bait Allah, tempat yang seharusnya kita bisa berdoa dan mendengarkan sabdaNya, malahan bisa membuat seseorang seenaknya tenggelam dalam dosa, terlebih lagi bila mempunyai posisi dan kuasa yang memungkinkan seseorang melihat dunia dengan lebih indah dan mempesona, sebagaimana ketika Yesus berada di atas gunung untuk dicobai tadi. Dan tak dapat disangkal, sebagaimana diceritakan dalam bacaan pertama, manusia pertama yang tinggal di taman Eden pun terpaksa harus terusir dari sana karena tergoda untuk menikmati buah-buahan yang ada di tengah taman.
Tempat dan keberadaan kita  sekarang ini tidak membebaskan kita dari pelbagai godaan yang menjatuhkan kita dalam  dosa; di tempat yang paling suci dan kondisi hidup yang amat mapan pun, kita bisa terpelanting jatuh dalam dosa.
Apa yang dapat kita buat? Kita meragukan segala sesuatu? Masa Prapaskah ini mengajak kita untuk semakin menaruh harapan hanya pada Tuhan; bertobat berarti mengalihkan perhatian hanya pada Tuhan, Tuhan Yesus sendiri yang memberi jaminan keselamatan hidup kita; bukan tempat-tempat atau waktu-waktu tertentu yang memastikan kita dapat berkomunikasi baik dengan Tuhan, bukan pula komunitas dan kondisi-kondisi tertentu yang membantu kita berasakan kasih dan penyertaanNya; pengikatan diri seseorang akan tempat, waktu dan komunitas tententu dalam merasakan kehadiran dan belaskasih Allah adalah sebuah kebohongan dan kepalsuan rohani.
Kasih karunia Allah lebih kuasa dan merajai hidup, Dia amat terbuka. Bacaan kedua menegaskan: 'jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus dan oleh ketaatanNya juga semua orang dibenarkan. Kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa'. Kiranya kita perteguh iman dan harapan kepadaNya; hanya pada Tuhanlah hendaknya kita mengandalkan hidup ini.
 
 
 Oratio :
Yesus, aneka godaan sering datang dan datang ke tengah-tengah kami, dan kami mudah terbuai oleh gaya penampilan mereka. Bantulah kami, ya Tesus, agar kami teguh pendirian dalam mengikuti Engkau, bahwa hidup kami tidak bergantung pada makan, minum dan fasilitas kehidupan. Hanya sabdaMulah yang menguatkan kami.
Yesus, buatlah kami semakin setia kepadaMu, sebab hanya Engkaulah yang pantas disembah dan dipuji  
 
 
Contemplatio :
SabdaMulah ya Tuhan adalah Roh dan kehidupan
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening