Rabu Abu

Awal masa pra-Paskah, 9 Maret 2011
Yl 2: 12-18  +  2Kor 5:20 – 6:2  +  Mat 6: 1-6.16-18
 
 
 
Lectio :
Yesus mengingatkan para muridNya agar dalam melakukan kewajiban agama, janganlah mereka bertujuan supaya dilihat orang dan mendapatkan pujian dari banyak orang. Bila memberi sedekah, berdoa dan berpuasa, hendaknya dilakukan secara tersembunyi, dan cukuplah hanya diketahui oleh Bapa di surge, agar Dia sendiri yang akan melimpahkan berkat dan kasihNya.
 
Meditatio :
 
'Sekarang juga berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh. Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allahmu. Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya'.
Demikianlah firman TUHAN yang disampaikan oleh nabi Yoel. Puasa disebut secara khusus sebagai tanda pertobatan, berbalik kepada Tuhan yang disertai dengan penyesalan diri atas dosa dan kesalahan. Puasa adalah permintaan Tuhan sendiri guna mendamaikan umatNya, agar Dia membatalkan hukuman yang hendak diberikan kepada umatNya; puasa berarti tanda berbaliknya umat yang dikasihiNya ke dalam perhatian dan kasih sayangNya, puasa adalah tanda penyangkalan diri umatNya dan keberserahan diri dalam kendali dan penjagaan Tuhan Allah sendiri.
Puasa diadakan karena adanya perlawanan dan pemberontakan umat terhadap sang Pemilik kehidupan, puasa adalah usaha pendamaian antara Allah dan umatNya, bukan untuk kepentingan Allah atau karena Allah mempunyai kepentingan tertentu, melainkan demi keselamatan umat Allah sendiri. Puasa adalah pendamaian seorang pribadi dengan Allah, bukan dengan dengan sesamanya.
Karena itu, tegas Yesus, 'apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa, tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu'.
Sekali lagi, dengan penyataanNya ini Yesus hendak mengembalikan makna puasa dalam diri setiap orang. Puasa adalah usaha pendamaian seorang pribadi dengan Tuhan Allah, dan bukan dengan sesamanya; puasa, dalam arti lurus, tidak ada kaitan sama sekali dengan orang lain, karena dengan berpuasa seseorang ingin kembali kepada Allah, berdamai dengan Allah,  dia menyesal dan bertobat  karena telah berseberangan dengan Allah dan tidak mengikuti kehendakNya.
Demikian juga, 'jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga'. Peringatan Yesus ini mengajak para muridNya, kita semua, agar kita tidak melakukan kewajiban agama hanya supaya dilihat orang, hanya untuk mencari muka; bila memang demikian, sama sekali tidak mendatangkan berkat dan rahmat dari Tuhan. 'Bila memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu, dan bila berdoa, janganlah seperti orang munafik,  jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu'.
Tak dapat disangkal memang, memberi sedekah, berdoa dan berpuasa memang ungkapan iman pribadi seseorang kepada Tuhan, dia mau meningkatkan komunikasi akrabnya dengan Tuhan dengan berani berdoa dan berdoa, dia berbicara dan mengeluh dengan Tuhan; keakrabannya itu juga dia tunjukkan dengan berpantang dan berpuasa sebagai pernyataan bahwa hidupnya hanya mau dikendalikan oleh Allah, bukan oleh makanan dan minuman, sebaliknya keakrabannya itu dia tunjukkan dengan berani memberi sedekah sebagai penyataan berbagi kasih terhadap sesamanya.
Namun begitu, ungkapan iman pribadi  bisa malahan menjatuhkan hidup rohani seseorang, bila memang semuanya diungkapkan hanya untuk mencari muka, mencari nama dan ketenaran diri di depan orang. Dia ingin mendapatkan pujian dan sanjungan dari banyak orang yang melihatnya, karena rajin memberikan sedekah, berdoa dan berpuasa. Tindakannya ini bukannya mendatangkan berkat dari Tuhan, melainkan sebaliknya murka Allah akan menerkam dia; dan memang secara sengaja Yesus mengemukakan hal ini karena banyak orang tidak lagi melihat makna terdalam dari pemberian sedekah, berdoa dan berpuasa.
Baiklah, nasehat Paulus dalam bacaan kedua, 'berilah dirimu didamaikan dengan Allah, dan janganlah  menjadikan sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima, sebab Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah'.
Penekanan Paulus ini hendak mengingatkan kita bahwa pendamaian diri dengan Allah telah dikondisikan dan telah diberikan oleh Allah Bapa sendiri dalam diri Yesus Kristus PuteraNya. Ajakan Paulus ini menegaskan perlunya kemauan diri seseorang untuk didamaikan dengan Allah, bukan pada tindakan puasanya, sebab puasa adalah ungkapan diri seseorang yang mau berdamai dengan Allah. Puasa adalah sebuah ungkapan, sebuah tindakan keagamaan, sebuah ritual dari seorang pribadi yang mau berdamai kepada Allah dan kembali dalam pelukan kasih sayangNya.
Ini hari Rabu Abu, awal masa pra-Paskah, kita diundang untuk berani berpuasa dan berpantang; bukan soal mengurangi dan tidak menikmati makanan dan minuman, atau bahkan kebiasaan-kebiasaan buruk, melainkan lebih pada kemauan hati kita untuk kembali mendamaikan diri dengan Allah, karena memang kita telah banyak berbuat dosa dan salah kepadaNya. Hanya pada Tuhan Allah-lah, aku hendak berpaut dan hidup.
 
 
 Oratio :
Yesus, ajarilah kami bertobat dan bertobat, kembali kepadaMu, karena memang telah banyak dosa yang telah kami lakukan, kami telah banyak melakukan segala sesuatu, yang hanya supaya ingin dilihat orang dan mendapatkan kepopuleran diri. Yesus, kasihanilah kami orang berdosa. Amin.
 
Contemplatio :
Hanya pada Tuhanlah, hatiku tenang.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening