Rabu Prapaskah II

23 Maret 2011
Yer 18: 18-20  +  Mzm 31  +  Mat 20: 17-28
 
 
Lectio :
Yesus menyatakan apa yang akan terjadi dengan diriNya di Yerusalem, bahwa Dia akan didera dan dibunuh oleh imam-imam kepala. Seusai penyampaian pernyataanNya itu, datanglah ibu Zebedeus dan anak-anaknya, yang  meminta agar kedua anaknya itu diijinkan duduk di sebelah di kanan dan kiriNya dalam kemuliaan kelak. Mereka pun sanggup memang meminum cawan yang diberikanNya, tetapi untuk duduk di sebalah kiri dan kananNya adalah kehendak Bapa di surge.
 
Meditatio :
'Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan'.
         Yesus tahu sungguh akan apa yang terjadi terhadap diriNya. Yesus tahu siapa yang akan mendera Dia dan membunuhNya. Yang menentukan hukuman mati adalah mereka 'imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat', sedangkan pada hari-H-nya kelak ada sedikit perubahan, bahwasannya: 'ketika hari mulai siang, semua imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi berkumpul dan mengambil keputusan untuk membunuh Yesus', entah kenapa para ahli Taurat tidak turut serta di dalamnya, apakah mereka menemukan suatu pesan baru dalam kitab Taurat sehingga mereka tidak ikut campur sekarang ini; sedangkan para pelaksana atau eksekutor hukuman mati itu adalah 'bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah', yakni para serdadu Romawi. Sungguh cerdas, kematian Yesus dimasukkan  dalam dunia permainan politik, supaya kabur siapakah yang harus bertanggungjawab.
'Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu'.
Itulah permintaan ibu anak-anak Zebedeus bagi kedua anaknya itu kepada Yesus, yang memang datang setelah Yesus menyampaikan apa yang akan dialamiNya di Yerusalem. Mengapa seperti itu? Lalu tantang Yesus kepada kedua bersaudara itu: 'kamu tidak tahu, apa yang kamu minta; dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?', sahut mereka: 'kami dapat'.
'Cawan-Ku memang akan kamu minum', tegas Yesus kepada mereka, 'tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya'. Mereka sanggup menerima tugas perutusan yang diberikan, bahkan tugas yang berat, sebagaimana dikatakan tadi, bagaikan minum cawan yang diminum Kristus sendiri, yakni didera dan dibunuh. Semuanya itu bisa dilakukan hanya karena cinta yang memberi dan memberi, tanpa mengharapkan balasan. Inilah rumusan hidup yang sulit dimengerti dan tidak masuk akal: kita diminta berani memanggul salib, tetapi semuanya itu tidak memberi kepastian untuk duduk di sebelah kanan dan kiriNya. Sungguh keterlaluan iman kristiani itu!
'Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu'. Tidak jelas memang mengapa mereka marah. Apakah mereka iri hati atas permintaan seorang ibu, karena memang selama ini mereka tidak pernah meminta sesuatu seperti itu dari Yesus? Apakah mereka menghubungkan permintaan ibu ini dengan peristiwa yang akan dialami Yesus di Yerusalem? Sepertinya perkiraan yang kedua ini amatlah mustahil.
Yesus memanggil mereka lalu berkata: 'kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka; tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang'.
Yesus sepertinya mendamaikan para muridNya tadi, bahwasannya barangsiapa berusaha dan berusaha, akan mendapatkan hasil, barangsiapa mengetuk, maka pintu akan dibukakan; dan memang setiap orang harus berani berusaha untuk mendapatkannya, orang barus berani berakit-rakit ke hulu dan berenang-renang ke tepian. Seseorang harus berani menjadi hamba dan pelayan bagi sesamanya, seperti Yesus sendiri yang 'datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang'.
Berakit-rakit ke hulu dan berenang-renang ke tepian memang merupakan rumusan hidup, bahkan bagaikan rumusan matematis yang indah, tetapi dalam kehidupan ini sering terjadi susu dibalas tuba, dan setiap orang harus berani dan siap menerimanya. Kiranya berakit-rakit ke hulu dan berenang-renang ke tepian cukuplah menjadi sebuah slogan kehidupan, terlebih dalam karya pelayanan, tetapi janganlah dijadikan spiritualitas hidup. Bacaan pertama memberi contoh bagaimana yang dialami Yeremia dalam berbagi kasih, dalam mewartakan sabda Tuhan; di tengah pergulatan hidupnya dia sempat mengeluh, katanya: 'akan dibalaskah kebaikan dengan kejahatan? Namun mereka telah menggali pelubang untuk aku!', sebab dengan mata dan telinganya sendiri, Yeremia telah melihat dan mendengar  teriakan mereka: 'marilah kita mengadakan persepakatan terhadap Yeremia, sebab imam tidak akan kehabisan pengajaran, orang bijaksana tidak akan kehabisan nasihat dan nabi tidak akan kehabisan firman. Marilah kita memukul dia dengan bahasanya sendiri dan jangan memperhatikan setiap perkataannya!'.
            Kita dibiasakan dalam masa Prapaskah ini untuk meniru Yesus yang datang untuk melayani dan melayani,
 
 Oratio :
Yesus, tumbuhkanlah jiwa layan kami dalam hidup bersama, sebab tak jarang kami hanya mencari kehormatan diri dalam kebersamaan hidup, kalau tokh kami melakukan sesuatu perbuatan baik, hanya dimaksudkan supaya dilihat orang. Yesus, buatlah kami siap sedia melayani dan siap sedia menerima kritikan dan tantangan dalam karya-karya pelayanan itu.
 
Contemplatio :
Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening