Sabtu Masa Biasa VIII

5 Maret 2011
Sir 51: 12-20  +  Mzm 19  +  Mrk 11: 27-33
 

 
 
Lectio :
Tua-tua Yahudi atau para penatua Yahudi, para ahlit Taurat dan imam-imam kepala meminta keterangan dari Yesus tentang darimana kuasa yang diperolehNya, sehingga Dia berhak dan terpanggil untuk mengusir para pedagang dari halaman bait Allah. Yesus membalik mereka dengan meminta keterangan juga dari mereka, yakni kuasa mana yang digunakan Yohanes dalam karyanya, dari Allah atau dari manusia. Mereka tidak bisa menjawab, maka Yesus pun juga tidak mau memberi jawaban kepada mereka.

 
Meditatio :
 
'Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?'.
Itulah pertanyaan yang diajukan oleh imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua kepada Yesus, ketika Dia dan murid-murid-Nya tiba pula di Yerusalem. Entah apa maksud pertanyaan itu disampaikan kepadaNya, namun yang jelas perasaan jengkel dan marah menguasai mereka, sebab Yesus telah memarahi, mengusir dan menegur orang-orang yang berjual-beli di halaman Bait Allah. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya, bukankah 'rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!' (Mrk 11: 15-17). Teguran Yesus kepada para pedagang berarti juga teguran dan tamparan kepada diri mereka, karena memang merekalah yang mengijinkan dan meminta para pedagang berjualan di halaman bait Allah. Kewibawaan mereka terganggu dengan sikap dan tindakan Yesus terhadap para pedagang.
'Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu', kata Yesus kepada mereka, 'berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Baptisan Yohanes itu, dari sorga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!'. Pandai kali Yesus ini; dan sebaliknya memang terlalu berani mereka mengajukan dan mencobai Yesus Tuhan, melawan koq melawan Yesus. Yesus tidak mau dikalahkan tentunya oleh jebakan mereka, dan pasti Tuhan Yesus tahu apa maksud dan tujuan mereka mengajukan pertanyaan itu.
Mereka memperbincangkannya di antara mereka, mereka sepertinya tidak siap dengan pertanyaan balik yang disajikan Yesus kepada mereka. Mereka belum satu pendapat sepertinya, dan tanpa persiapan diri.  Kata mereka satu terhadap lainnya: 'jikalau kita katakan: dari sorga, Ia akan berkata: kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi, masakan kita katakan: dari manusia!'. Tidak dijelaskan memang, mengapa mereka pun tidak berani mengatakan dari manusia, apakah  mereka itu takut kepada orang banyak, yang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi; penolakan terhadap Yohanes berarti perlawanan terhadap masyarakat.
'Kami tidak tahu', jawab mereka.
'Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu', sahut Yesus kepada mereka. Selesailah sudah persoalannya, tidak ada dialog lagi.
Peringatan Yesus tentang 'rumah-Ku adalah rumah doa bagi segala bangsa', yang dikutip dari Yesaya 56: 7, dirasakan oleh ahli-ahli Taurat, imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi sebagai tamparan bagi mereka, sebab seharusnya mereka tahu akan penyataan itu, bukankah mereka itu orang-orang tahu banyak tentang Kitab Suci; peringatan itu juga terasa menyakitkan mereka, karena Yesus menggoyang kewibawaan dan kuasa mereka, mereka kehilangan pajak yang mereka dapatkan dari para pedagang, karena memang mereka diperbolehkan berjualan di situ. Sabda Yesus menghancurkan kemapanan mereka semua, mengobrak-abrik tatanan sosio-religi yang sudah terbina.
Sabda dan perintah Yesus menggoyang sendi-sendi kehidupan! Itulah yang memang sering terjadi, terlebih bagi mereka orang-orang yang mencari kepuasan diri dan kemapanan bagi komunitasnya.
Bagaimana dengan kita?
Atau malahan sebaliknya, kita berani seperti yang direnungkan dalam bacaan pertama bahwa sabda dan kehendak Tuhan adalah kebijaksanaan bagi hidup kita. Sabda dan kehendak Tuhan adalah habonaron na tutu do (kebenaran yang sejati), kata orang-orang Parongil di daerah Sumatera Utara sana. Sabda Tuhan itu adalah kebijaksanaan hidup, yang semenjak 'aku masih muda dan sebelum mengadakan perjalananku, kebijaksanaan dari Allah telah kucari dengan sungguh-sungguh dalam sembahyangku. Di depan Bait Allah telah kupohonkan dan sampai akhir hidup akan kukejar. Hatiku bersukacita atas kebijaksanaan, karena bunganya yang bagaikan buah anggur yang masak. Aku maju di dalamnya, dan kuhormati orang yang memberikan kebijaksanaan kepadaku. Sebab aku berniat melakukannya, dengan rajin kucari apa yang baik dan aku tidak dikecewakan. Hatiku memperjuangkan kebijaksanaan, dan dengan teliti kulaksanakan hukum Taurat. Tanganku telah kuangkat ke sorga, dan aku menyesal karena kurang tahu akan dia. Hatiku telah kuarahkan kepada kebijaksanaan, dan dengan kemurnian hati telah kutemukan. Sejak awal mula kuikatkan hatiku padanya, dan karenanya aku tidak ditinggalkan'.
Semoga.

 
 Oratio :
Yesus sabdaMU adalah kebenaran dan hidup, maka ajarilah kami untuk berani mendengar dan mendengarkan sabdaMu, sehingga hidup kami hanya berpedoman pada sabda dan kehendakMu.
Yesus pertajamlah telinga hati kami untuk mendengkarkan sabdaMu, amin.
 

Contemplatio :
Bersabdalah ya Tuhan, hambaMu siap mendengarkan
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening