Sabtu Prapaskah II

26 Maret 2011
Mi 7: 14-20  +  Mzm 103  +  Luk 15: 1-3.11-32
 
 
Lectio :
Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat merasa gelisah dan gerah melihat Yesus menerima baik para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Yesus menanggapi mereka dengan sebuah perumpamaan tentang bapa yang baik hati; dan apa yang dilakukan seorang bapa dalam perumpamaan itu, sekarang dilakukan oleh Yesus, dengan penuh kasih Dia menerima orang-orang berdosa yang mau mendengarkanNya.
 
Meditatio :
'Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka'.
Itulah komentar orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang melihat Yesus menerima baik  para pemungut cukai dan orang-orang berdosa; mereka orang-orang berdosa itu memang sengaja datang untuk mendengarkan Dia. Namun bagaimana mungkin seorang Guru yang mengajarkan jalan Tuhan menerima dan bergaul akrab dengan mereka, para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, orang-orang yang tidak perlu diperhatikan, dan tak perlu di-wong-ke (Jw: diorangkan), karena mereka telah melanggar kehendak Allah, mereka adalah kaum pendosa.
Atas kesulitan mereka, Yesus menyampaikan sebuah perumpamaan tentang seorang bapa yang mempunyai dua orang anak. Si anak bungsu, yang tidak punya hak atas kekayaan keluarga, berbicara dan bahkan meminta bagian yang menjadi haknya. Bapa itu memberikannya. Si anak itu pun pergi dan menghambur-hamburkan harta bendanya dengan aneka pesta pora. Tanpa disangka-sangka, kemelaratan pun menimpa dia; dia berjuang dan berjuang untuk mendapatkan makanan guna menyambung hidupnya, tetapi tidak mendapatkannya. 'Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa', itulah tekad si bungsu untuk menyambung hidupnya; ia pulang ke rumah ayahnya untuk mendapatkan kehidupan.
Lihatlah, 'ketika anak itu masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan; ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia'. Rumusan kepulangan  sang anak: 'bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa', tidaklah mendapatkan perhatian dari sang ayah. Kepulangan sang anak adalah sukacita sang bapa; 'lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya; ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali'.
Lebih lagi, yang dilakukan dalam acara pertemuan itu bukanlah rumusan dan permintaan sang anak, melainkan kemauan dan kehendak bapa. Inilah realitas surgawi yang menyambut kedatangan seorang pendosa, dan inilah memang yang dilakukaan Yesus dengan menerima baik kedatangan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Yesus menjabarkan cinta kasih Allah yang menyelamatkan umatNya, Dia tidak bertitiktolak dari keberadaan mereka orang-orang berdosa, melainkan berlandaskan kasih Allah bagi setiap umatNya.
Benarlah memang, mereka orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat adalah anak sulung yang selalu mengangkat tangannya dan berkata-kata kepada Allah: 'telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku, tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia'. Mereka adalah gambaran orang-orang yang tidak membutuhkan pertobatan, mereka sudah bangga dengan gelar umat pilihan, bangsa yang kudus.
Apa kita harus berdosa seperti anak bungsu untuk mendapatkan belaskasih Bapa?
Bangga akan gelar 'umat pilihan dan bangsa yang kudus' tanpa menikmati rahmat keterpilihan dan kekudusan itu adalah sebuah dosa!  Menikmati rahmat keterpilihan dan kekudusan berarti menjawabi selalu undangan Allah kepada seluruh umatNya untuk menjadi kudus dan berkenan kepadaNya; Allah tidak hanya mengundang kita, apalah kita ini, Dia mengundang semua orang tanpa terkecuali. Itu adalah hak Allah! Mengapa kita bersungut-sungut, kalau Yesus menerima para pemungut cukai dan orang-orang berdosa? Penolakan akan sikap Tuhan Yesus yang Maharahim adalah dosa!
'Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira, karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali'. Inilah yang disampaikan Yesus kepada kita di masa Prapaskah ini; kita diajak untuk berani menerima orang lain apa adanya seperti yang dilakukan Yesus; kiranya jaminan Yesus bahwasannya 'segala kepunyaanKu adalah kepunyaanmu, karena kita  yang selalu bersama-sama denganNya', semakin menguatkan kita untuk berani menikmati anugerah yang luhur dan mulia sebagai bangsa yang terpilih dan kudus.
Pujian  akan kemurahan dan kerahiman hati Allah terungkap juga dalam bacaan pertama tadi; mereka bersyukur dan bersyukur kepada Tuhan, mereka merasakan sungguh betapa besar kasih Allah kepada mereka, mereka telah sempat jatuh dalam dosa dan menjauh daripadaNya, tetapi Allah tetap menerima mereka dengan penuh kasih. 'Sungguh, siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut', seru mereka.
 
 Oratio :
Yesus, tambahkanlah iman kami kepadaMu, agar kami pun berani bersikap seperti Engkau yang menerima orang berdosa, yang datang untuk mendengarkan sabdaMu; sebab tak jarang kami mudah kali menghakimi orang lain seturut ukuran kami sendiri. Yesus, kuasailah kami dengan RohMu agar kami mempunyai jiwa pemaaf dan pengampun.
 
Contemplatio :
Ampunilah kesalahan kami, seperi kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening