Selasa Masa Biasa IX

8 Maret 2011
Tb 2: 9-14  +  Mzm 112  +  Mrk 12: 13-17
 
 
 
 
Lectio :
Beberapa orang Farisi dan Herodian menjebak Yesus dengan sebuah pertanyaan: apakah mereka diperbolehkan membayar pajak atau tidak, kepada Kaisar. Yesus malah menegaskan: berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan juga kepada Allah yang menjadi hak Allah.
 
 
Meditatio :
 
'Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?'.
Itulah luapan bibir manis dari beberapa orang Farisi dan Herodian kepada Yesus, yang sengaja hendak menjerat Dia dengan suatu pertanyaan. Bibir manis yang penuh kemunafikan memang selalu mengeluarkan kata-kata pujian dan menyenangkan hati orang lain, dan orang dapat terbius olehnya. Kata-kata yang terungkap hanya sekedar dan sengaja untuk membinasakan lawan bicara.
Tetapi Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka: 'mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah ke mari suatu dinar supaya Kulihat!'. Yesus, bukannya menghindari cobaan mereka, malahan menghadapi dan menantang mereka.  'Gambar dan tulisan siapakah ini?', tanya Yesus.  Jawab mereka:  'gambar dan tulisan Kaisar!'.
'Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!', sahut Yesus kepada mereka. Mereka sangat heran mendengar Dia, mereka bungkam dan tidak mampu menjawab apa-apa. Mereka tidak dilarang untuk membayar pajak, karena memang kewajiban mereka sebagai anggota masyarakat, namun kiranya mereka juga wajib memberikan kepada Allah yang memang wajib diberikan kepadaNya. Yesus tidak menghentikan mereka pada kewajiban-kewajiban sebatas garis  lurus horizontal, sebatas relasi mereka dalam hidup bersama, melainkan juga mengarahkannya pada kewajiban mereka berhadapan dengan Dia, Tuhan sang Empunya kehidupan, sebab pada Dia perjalanan hidup setiap orang tertuju.
Bagaimana dengan kita, rajinkah kita membayar pajak sebagai kewajiban kita sebagai anggota masyarakat? Janganlah terbayang-bayang dalam benak kita wajah saudara kita Gayus yang memakan habis hasil pajak itu. Apakah kita juga berani membayangkan ada teman Gayus yang lain?
Apa yang kita berikan kepada Allah, yang memang wajib kita berikan kepada Allah? Kiranya seperti Injil Minggu kemarin, hanya kemauan dan kesetiaan mendengarkan dan melaksanakan sabdaNya itulah yang  diminta dari kita, itulah kewajiban yang perlu kita berikan kepada Allah, yang memang semuanya itu tidak akan menambah keagungan dan kemuliaanNya, melainkan demi keselamatan kita sendiri.
Salahsatu contoh keberanian mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakanNya menurut bacaan pertama tadi terungkap dalam keberanian seseorang menerima orang lain apa adanya, menerima segala kelebihan dan sekaligus kekurangan orang yang kita jumpai. Emosi Tobit menunjukkan bahwa masih adanya kekurangan diri pribadi  dalam menerima kelemahan fisik yang dideritanya dan menerima Hanna isterinya yang telah berjuang demi kehidupan keluarga mereka.
 
 Oratio :
Yesus, karena kesibukan, kami sering lupa akan kewajiban kami, malah tak jarang dengan mudah kami menuntut hak yang ada pada kami. Ajarilah kami, ya Yesus, untuk berani mendahulukan kewajiban kami dalam hidup bersama, terlebih kewajiban kami dalam mengabdi kepadaMu. Amin.
 
 
Contemplatio :
Hendaknya kamu rendah hati dan berani menerima keberadaan orang lain sebagaimana adanya.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening