Selasa Prapaskah I

15 Maret 2011
Yes 55: 10-11  +  Mzm 34  +  Mat 6: 7-15
 
 
 
 
Lectio :
Yesus meminta para muridNya untuk pandai berdoa, bukan dengan banyaknya kata-kata, seperti orang yang tidak mengenal Allah, sebab memang Allah sudah mengetahui apa yang menjadi kebutuhan umatNya. Yesus mengajarkan doa Bapa Kami kepada kita, terlebih Yesus meminta kita agar semakin berani mengampuni dan mengampuni, sebagaimana Bapa sendiri Maha Pengampun dan Pemurah.
 
 
Meditatio :
 
'Bila berdoa, janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan'.
Ajakan Yesus ini amatlah mendasar dalam hidup rohani. Doa yang bertele-tele itu adalah doa yang tidak berujung-pangkal, orang itu berkata-kata dan berkata-kata, entah apa yang diinginkankannya, sebab dia beranggapan semakin banyak kata-kata semakin banyak permohonannya dikabulkan. 'Janganlah kamu seperti mereka', tegas Yesus kepada para muridNya, kepada kita semua, 'karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya'. Tidak bertele-tele berarti dalam setiap doa, hendaknya kita berkata-kata dengan jujur dan terus-terang mengatakan apa adanya, dan apa yang menjadi kebutuhan kita; kebutuhan itupun sungguh-sungguh perlu bagi hidup kita, menumbuhkembangkan hidup dan bukannya mematikan diri.
Walau Bapa sudah mengetahui apa yang kita perlukan, baiklah kita tetap berani bermohon dan bermohon, sebab di situlah kita juga menguji kemurnian dan keseriusan doa kita. Janganlah kita meniru kerewelan anak kecil yang dengan merengek-rengek minta ini dan itu, tetapi dia tidak tahu apa yang dimintanya, apa yang dipikirkannya pada saat itu; demikian juga apa yang dilihatnya dan apa yang dirasakannya, itulah yang diminta, walau dia tidak tahu apa yang dimaksudkannya, berguna bagi dirinya atau tidak. Seorang bapa atau ibu yang baik, dan dia tidak merasa gelisah, tidak akan mengabulkan rengekan sang buah hatinya itu.
'Karena itu berdoalah demikian', ajar Yesus kepada kita semua: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu,
jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.
Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.
Secara khusus Yesus menegaskan: 'jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga, tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu'. Hal ini mendapat tekanan, karena sepertinya pada waktu itu, dan juga sekarang ini, memaafkan dan mengampuni kesalahan orang lain adalah hal yang amat sulit dan mendasar dalam relasi dengan sesame, padahal kelemahan dan keterbatasan tampak dalam diri setiap orang; ketidakmauan mengampuni dan memaafkan kesalahan akan membuat terjadinya kebuntuhan social. Kemauan seseorang untuk memaafkan dan mengampuni orang lain membuat dia semakin merasakan dan mengalami sendiri belaskasih dan kemurahanhati Allah sendiri, sebab memang kasih Allah akan semakin dirasakan oleh seseorang yang dalam hidupnya mau membagikannya kepada orang lain, sesamanya; pengertian: 'Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu, jikalau kamu mengampuni kesalahan orang lain' harus dipahami demikian.
Malahan lebih tegas lagi dalam bacaan pertama dikatakan tadi bahwasannya sabda dan kehendak Allah yang mengampuni dan mengampuni itu terus-menerus melembutkan hati yang keras untuk berani memaafkan dan mengampuni sesamanya; Allah Bapa itu mengampuni dan bermurahhati kepada setiap orang, dan rahmatNya itu semakin dirasakan bila kita membagikannya kepada orang lain; rahmatNya yang melembutkan itu terus-menerus bekerja dan bekerja, 'seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan'.  'Demikianlah  firman Tuhan sang Pengampun yang keluar dari mulut-Ku' tegasNya, 'tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya'.
Masa Prapaskah adalah kesempatan yang indah untuk semakin mempunyai hati yang mengampuni, sebab dalam kesempatan ini kita diajak sungguh-sungguh belajar dan berlatih untuk menerima orang-orang lain sekitar kita apa adanya, karena memang kita harus hidup bersama mereka, sebagaimana Kristus sendiri yang sadar dan tahu akan spiritualitas hidup yang diembanNya.
 
 
 Oratio :
Yesus, ajarilah kami rajin berdoa dan berdoa, bukan dengan banyaknya kata-kata, melainkan dengan hati yang jujur dan murni.
Yesus buatlah kami juga mempunyai hati pengampun sebagaimana Engkau sendiri.
 
 
Contemplatio :
Doa hendaknya menjadi nafas kehidupanku.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening