Selasa Prapaskah II

22 Maret 2011
Yes 1: 10.16-20  +  Mzm 50  +  Mat 23: 1-12
 
 
Lectio :
Yesus meminta agar kita, para muridNya, tidak mengikuti kelakuan dan perbuatan  para ahlit Taurat dan kaum Farisi, tetapi tetap mengikuti ajaran yang disampaikan mereka, mereka memang ahli dalam bidang Kitab Suci, dan sekarang  mereka telah menduduki kursi-kursi Musa. Kelakuan, perbuatan dan gerak-gerik mereka tak perlu diperhatikan, karena mereka hanya mencari kepuasan dan penghormatan diri. Sebaliknya, Yesus meminta kita benar-benar menjadi pelayan bagi sesame.
 
Meditatio :
'Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya'.
Begitulah penegasan Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya. Mereka harus mentaati apa yang diajarkan para ahli Taurat dan kaum Farisi, tetapi tidak mengikuti perbuatan dan tindakan mereka. Sebab mereka, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu 'mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya, mereka melakukan pekerjaan hanya dimaksud supaya dilihat orang, seperti memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang, duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat, suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi'.
Mereka harus tetap dihormati dan ditaati, karena memang mereka telah menduduki kursi Musa, mereka menempati infra-sutruktur dan peran sentral dalam tata sosio-religius dalam masyarakat. Sulit memang, mentaati ajaran dan perintah orang yang tidak bertindak benar, bisa-bisa kita yang terpaut kepadanya ikut jatuh dalam dosa dan kesalahan yang sama, sebaliknya kita yang antipati kepadanya akan mengabaikan perintah dan ajaran yang disampaikan, yang memang baik dan benar adanya. Alam pemikiran dan budaya Timur memang semakin mempersulit membedakan perilaku pribadi, tugas dan jabatan seseorang.
Bagaimana dengan beberapa figure public yang sering muncul dalam mass media, mereka yang seharusnya membawa peran yang memang patut dicontoh dan diteladani, tetapi tidaklah dilakukan, ada yang bermain uang dan kuasa, ada juga yang malahan bermain cinta, tetapi tetap berani berlenggang ke sana ke mari tanpa harus ada nada segan terhadap pelbagai mata yang memandang mereka. Mereka benar-benar menikmati profesi mereka yang sebatas menghibur dan menghibur.
'Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias'.
Penegasan Yesus ini bukannya hendak meniadakan dan merombak sturktur dalam masyarakat, yang memang mengakui dan menghormati keberadaan jabatan dalam struktur social atau pun tata sosio-religius. Penegasan Yesus ini hanya meminta agar orang-orang, kita semua, sungguh-sungguh mempunyai jiwa pelayan dalam hidup bersama, dan bukannya mencari keuntungan diri dalam karya-karya pelayanan social. 'Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu; dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan'. Yesus secara sengaja akan mengintervensi orang-orang yang meninggikan diri dan mencari kehormatan diri. Yesus menghendaki kita para muridNya menjadi pelayan-pelayan bagi sesame. Ini kemauan Tuhan!
Ada baiknya kita kutip bacaan pertama tadi, bahwasannya: 'jika kamu menurut dan mau mendengar kehendakNya, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu; tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang. Sungguh, TUHAN yang mengucapkannya'.
Yesus meminta kita menjadi pelayan bagi sesame, karena memang Dia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, dan bahkan hidupNya menjadi tebusan bagi umat manusia. Percaya kepadaNya berarti siap sedia menjadi pelayan bagi sesame. Masa Prapaskah mengingatkan hal ini secara khusus, karena memang jiwa kelayanan dan pemberian diriNya ditampakkan secara radikal dalam kurban salib. Prapaskah menegaskan kemauan kita untuk menjadi seorang pelayan, konkritnya pelayan di tengah-tengah komunitas-komunitas kategorial yang kita ikuti, hidup berumahtangga, dan terlebih keluarga.
 
 Oratio :
Ya Yesus Keristus, kami seringkali mencari penghormatan diri dan pujian dari orang lain dengan melakukan kebaikan-kebaikan social. Berat kali kami  untuk mengatakan 'kami ini hamba yang tak berguna, yang melakukan apa yang menjadi tugas dan kewajiban kami'. Kiranya InjilMu hari ini mengingatkan kami semua, agar kami menjadi pelayan bagi sesame, sebagaimana Engkau sendiri yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani.
Yesus, tumbuhkanlah jiwa layan kami dalam hidup bersama.
 
Contemplatio :
Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening