Senin Masa Biasa IX

7 Maret 2011
Tb 2: 1-8  +  Mzm 112  +  Mrk 12: 1-12
 
 
 
Lectio :
Yesus memberikan perumpamaan tentang para penggarap kebun anggur yang tidak bertanggungjawab, mereka mengabaikan sang pemilik anggur, bahkan dengan berani mereka membunuh sang ahli waris kebun anggur. Semuanya dilakukan untuk mencari kepuasan diri dan kebun itu diharapkan menjadi milik mereka. Pada akhirnya, sang pemilik anggur membinasakan mereka dan memberikan hak pengelolaan kebun itu kepada orang-orang lain.
 
 
Meditatio :
 
'Beberapa orang yang ada di situ berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak, jadi mereka pergi dan membiarkan Dia'.
Itulah yang sering terjadi dengan orang-orang yang mengerumuni dan mengikuti Yesus, ada yang mau berusaha menangkap Yesus, tetapi tidak berani berhadapan dengan khalayak umum, yang memang mendukung dan menaruh perhatian kepadaNya. Beberapa orang tadi mau menangkap Yesus, karena mereka merasa tertampar oleh perumpamaan Yesus. Mereka tertuduh sebagai penggarap-penggarap kebun yang tidak bertanggungjawab, karena tidak mau berbagi hasil kerja dengan sang pemilik kebun, bahkan dengan berani mereka hendak membinasakan anak tuannya, sang ahli waris kebun itu. 'Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu'.
Namun itulah memang yang harus terjadi, perlawanan terhadap karya penyelamatan Allah, bahkan orang-orang yang sudah lama dipilihNya semenjak semula dinomerduakan dalam karya keselamatan, karena memang ketidakmauan dan kedegilan hati mereka.'Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita'. Perlawanan terhadap Allah sang Empunya kehidupan akan menghilangkan jaminan keselamatan yang memang semenjak semula ditetapkan bagi mereka yang berkenan kepadaNya.
Kebaikan sang pemilik kebun memang kemurahanhati seseorang kepada sesamanya; dia bersikap demikian, bukan karena kebaikan hati dari para penggarapnya, melainkan karena sikap hatinya sendiri yang berani memberi kepada semua orang tanpa memandang muka. Dia sungguh murahhati kepada semua orang. Bacaan pertama juga menampilkan contoh seorang Tobit yang juga bermurahhati, seorang yang tidak gentar dalam menanggung resiko karena kemurahan-hatinya. Kemurahan-hatinya ditampakkan, pertama, dengan ketidakmauannya menikmati kelimpahan hidup hanya untuk dirinya sendiri, dia ingat akan orang lain, yang menderita khususnya; katanya: 'nak, pergilah dan jika kaujumpai seorang miskin dari saudara-saudara kita yang diangkut tertawan ke Niniwe dan yang dengan segenap hati ingat kepada Tuhan, bawalah ke mari, supaya ikut makan. Aku hendak menunggu, anakku, hingga engkau kembali'; kedua, keberanian Tobit menerima resiko atas perbuatan baiknya , yang memang bertentangan dengan semangat hidup pada jamannya, dia tidak menuntut balasbudi, malahan dengan rela dia 'pergi menggali liang lalu menguburkan jenasah yang tidak dikenalnya, padahal para tetangga sudah menertawakan dia dan berkata: dia ini belum juga takut! Sudah pernah ia dicari untuk dibunuh karena perkara yang sama. Dahulu ia melarikan diri dan sekarang ia menguburkan mayat lagi'.
Kemurahan-hati itu memang memberi dan memberi, tidak menuntut balik sedikitpun. Inilah memang semangat  Bapa di surge yang memberi matahari dan menurunkan hujan bagi orang-orang yang baik dan jahat, orang-orang yang benar dan salah, tanpa memandang muka. Kemurahan-hati kita terkadang secara otomatis terhenti karena adanya ketidak-perhatian dari mereka yang kita layani, terlebih perlawanan dari yang mendapatkan perhatian kita.
         Kedua, hendaknya kita mempunyai hati yang mampu bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan atas segala kesempatan yang ada pada diri kita untuk tumbuh dan berkembang. Para penggarap mempunyai banyak kemampuan dan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang, tetapi tidak dimanfaatkan semuanya, malahan hanya dipergunakan untuk memuaskan diri. Segala anugerah dan fasilitas hidup yang kita miliki adalah modal dasar untuk tercapainya sebuah cita-cita.
 
 
 Oratio :
Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami menjadi orang-orang yang bertanggungjawab dalam hidup ini, dalam tugas-tugas yang diberikan kepada kami. Semoga Engkau mendampingi kami dalam menyelesaikan tugas secara bertanggungjawab, sehingga banyak orang semakin percaya kepada kami.
Yesus, jadikanlah kami juga menjadi orang-orang yang bermurahhati kepada setiap orang yang kami jumpai dalam hidup sehari-hari. Amin.
 
Contemplatio :
Hendaknya kamu murah hati seperti Bapamu di surge.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening