Senin Prapaskah III

28 Maret 2011
2Raj 5: 1-15  +  Mzm 42  +  Luk 4: 24-30
 
 
Lectio :
Ketika mengajar dalam rumah ibadat di Nazaret, berkatalah Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri, tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.  Demikian juga pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu."
Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu, tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.
 
Meditatio :
'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya'.
Itulah salah satu akhir pernyataan Yesus dalam pengajaranNya di dalam rumah ibadat di Nazaret, di kota Dia dibesarkan. Yesus berkata demikian karena ada komentar sumbang: 'bukankah Dia ini Anak Yusuf'; mereka tidak menanggapi pewartaanNya, melainkan melawanNya. Yesus sadar sungguh akan resiko seorang nabi. Ia memberikan contoh: 'Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri, tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.  Demikian juga pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu'.
'Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu'. Mereka marah, karena ucapan Yesus tadi amat menyakitkan. Ucapan yang meremehkan Israel sebagai bangsa terpilih. Ucapan Yesus sungguh-sungguh menonjok mereka, bahwa mereka orang-orang yang mengenal Allah  dan dikenal oleh Allah, tetapi tidak mendapat perhatian Allah, karena ketidakmauan mereka menerima kebaikan dan belaskasih Allah. 'Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu, tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi'. Yesus menerobos begitu saja kerumunan orang-orang yang hendak membunuhNya, dan mereka membiarkan Dia lewat pergi, mereka tidak menangkapNya, walau Yesus ada di tengah-tengah mereka. Waktunya belum tiba! Sungguh benarlah: Yesus hendak memberikan nyawa menjadi tebusan bagi umatNya, tetapi Dia tidak mau dibinasakan oleh umatNya.
Bagaimana kita, yang juga telah dipilih oleh Allah menjadi anak-anakNya, bagaimana kita yang juga telah berani meminum cawan yang telah diminumNya (Mat 20: 23)? Apakah ucapan Yesus juga meremehkan kita, yang memang adalah GerejaNya yang ludus? Bukankah kita juga orang-orang yang mengenal Allah dan juga dikenal oleh Allah? Apakah kita selalu merasakan kehadiranNya, sebagaimana dialami juga oleh janda Sarfat dan panglima Siria? Atau sebaliknya, malahan terlintas dalam benak kita dan berkata-kata seperti Naaman: 'aku sangka bahwa setidak-tidaknya ia datang ke luar dan berdiri memanggil nama TUHAN, Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku! Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel? Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir?', ketika kita berada di tengah-tengah kegelisahan hidup, seperti dikatakan dalam bacaan pertama? Kesulitan dan aneka tantangan hidup tak jarang membuat orang, yang sudah beriman pun, berkata-kata senada dengan Naaman: meragukan, menyepelekan dan merendahkan kehadiran ilahi dalam tahapan-tahapan hidup ini. Kita masih haus akan peristiwa-peristiwa yang menomental; kiranya amatlah baik mengenangkan pengalaman Elia dalam merasakan kehadiran Allah (1Raj 19: 11-13).
            Masa Prapaskah mengajak kita untuk semakin bangga menjadi orang-orang Nasrani, karena kita memang memiliki Kristus, sang Penyelamat.
 
 Oratio :
Ya Yesus, buatlah kami semakin hari semakin bangga sebagai orang Nasrani, orang-orang yang mengikuti Engkau, karena memang Engkau tinggal di tengah-tengah kami. Semoga dalam segala peristiwa kehidupan sehari-hari, kami tetap merasakan kehadiranMu yang menyelamatkan; dan malahan ajaklah kami untuk menemukan kahadiranMu dalam peristwa-peristiwa hidup yang sederhana dan membosankan.
 
Contemplatio :
Bukan lagi aku yang hidup dalam diriku, melainkan Kristuslah yang hidup dalam aku.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening