Hari Minggu Palma

Mengenangkan Sengsara Tuhan
17 April 2011
 
 
 
Perarakan :  Mat 21: 1-11
 
'Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!'.
Pujian dan sorak-sorai inilah yang diberikan orang-orang di Yerusalem yang hendak merayakan Paskah Yahudi. Pujian dan sorak-sorai mereka membuat 'gempar seluruh kota itu',  karena kedatangan Yesus. 'Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea', seru mereka. Dia bukan Orang Betlehem, sebagaimana kota asal dan kelahiranNya, melainkan kota, di mana Dia dibesarkan oleh keluargaNya, Maria dan Yusuf. Yesus dan kita semua sama-sama orang Nasrani.
'Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan'. Semuanya ini adalah tanda sukacita atas datang seorang Mesias. Sorak-sorai dan pujian adalah ungkapan sukacita dan kegembiraan. Namun apakah mereka tahu maksud kedatangan Yesus ke Yerusalem? Sepertinnya tidak tahu! Sebab seandainya mereka tahu, kiranya mereka tidak akan tinggal diam, kiranya 'batu-batu itu akan berteriak' (Luk 19: 40); dan secara sengaja Yesus sendiri tidak memberitahukan semuanya ini kepada orang banyak, kecuali hanya kepada keduabelas muridNya; walau pun mereka ternyata hanya berdiam diri, tidak tahu apa yang dilakukan.
Kedatangan sang Mesias ini juga tidak ditampakkan sebagai seorang penguasa datang, ataupun seorang pahlawan yang dielu-elukan dan diagung-agungkan masyarakat, tidak juga seperti Daud (1Sam 18: 5-7). Sebaliknya, 'Ia yang lemah lembut itu datang dengan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda'.
Inilah misteri kedatangan sang Penyelamat, sang Mesias. Kini kita menyambut dan merayakan kedatangan Yesus di Yerusalem, sebagai orang-orang yang sudah tahu dan paham akan apa yang terjadi pada diri Yesus Tuhan. Kita tahu sungguh bahwa Dia datang untuk mati di kayu salib sebagai korban tebusan bagi seluruh umatNya. Kita sambut Dia, Yesus sang Mesias; hosanna dan puji syukur kepada Dia, yang mau mati demi keselamatan kita, sebab kematianNya adalah kematian terhadap dosa, agar kita bangkit dan hidup bersama Dia.
 
 
Misa Kudus :  Fip 2: 6-11
 
Berkorban itu memang pahit, bila ditanya mengapa; namun membahagiakan bila dilaksanakan dengan ikhlas. Korban Kristus adalah jaminannya.
Percayakah kita bahwa jalan salib apapun bagi kita menjadi jalan bahagia? Percayakah kita bahwa korban apapun mampu  membawa berkat bagi kita?
Itulah berkat salib Kristus!
Kutipan ini sungguh-sungguh memberi peneguhan kepada kita. Kita diminta berani berkurban dan berkurban, karena kurban Kristus sendiri jaminannya. Kisah sengsara yang baru saja kita dengarkan adalah kisah sengsara yang memang disengaja, yang sebetulnya bisa dihindari. 'Ya Bapa, sekiranya mungkin, biarlah cawan ini berlalu daripadaKu, tetapi jangalah seperti yang Aku kehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki', seru Yesus kepada Bapa di surge yang mengutusNya. Kisah sengsara adalah pengurbanan diri Yesus.
Sebab peristiwa yang tidak adil semenjak awal sudah dirasakan oleh Yesus, Dia ditangkap oleh sebuah pengkhianatan, Dia dikejar-kejar padahal Dia selalu mengajar di tempat-tempat umum, Dia diadili walaupun tanpa seorang pembela, Dia didera walau tak bersalah, dan Dia disalibkan hanya untuk menarik semua orang untuk datang kepadaNya. Semua peristiwa dilewati tahap demi tahap, sebagaimana kehendak Allah, karena memang itulah pekerjaan-pekerjaan yang diterima daripadaNya.
'Dia  yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia'. Semuanya terjadi semenjak Dia hadir di tengah-tengah umatNya, Dia tidak menampakkan diri sebagai malaikat, tetapi merendahkan diri sama seperti kita umatNya.
'Dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib'. Inilah yang terjadi sekarang ini, sebagaimana kita renungkan dalam Injil tadi. Yesus berani menghadapi semua, baik pengkhianatan, pengadilan, penganiayaan dan bahkan kematian. Semuanya dilakukan hanya karena kemauan dan kehendak Allah Bapa yang hendak menyelamatkan umatNya.
'Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: -Yesus Kristus adalah Tuhan-, bagi kemuliaan Allah, Bapa!'. Siapa yang percaya beroleh selamat. Berkat kematian dan kebangkitanNya, semua orang percaya beroleh kehidupan kekal; kematianNya terhadap dosa membebaskan manusia dari belenggu dan hamba-hamba dosa (Yoh 8: 34-36), di dalam NamaNya tidak ada lagi sekat antara Allah dan manusia, tidak ada dari atas dan dari bawah (Yoh 8: 23-24), karena semuanya telah disatukan berkat kematian Kristus di salib, ketika Dia ditinggikan.
Sungguh luhur dan mulia kurban Kristus! Sebab kurbanNya adalah tebusan bagi umat manusia. Kurban Kristus inilah yang menjadi jaminan kemauan kita untuk berkurban, untuk merelakan diri menjadi sesame bagi orang lain, dan inilah jalan salib yang nyata. Seperti dikatakan dalam bacaan Yesaya, aku pun siap sedia dan maju terus, dan 'aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi'. Kurban Kristus hanya menuntut keberanian kita, karena Dia sendiri adalah jaminanNya.
Aku berani, karena 'Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.
Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu'.
 
Oratio :
Yesus, Engkaulah Putera Allah yang hidup, Engkau tidak menggunakan fasilitas hidup dalam karya pelayanan di dunia ini, Engkau malahan mengambil rupa sebagai hamba, mengosongkan diri dan mempertaruhkan nyawa. Semoga keberanianMu juga menjadi keberani kami dalam pelayanan terhadap sesame. Semoga jalan salibMu juga menjadi peneguhan kami dalam memanggul salib hidup kami sehari-hari.
 
Contemplatio :
Kristus kurban cintaNya
 
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening