Hari Raya Paskah

Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus
24 April 2011
Kis 10: 34.37-43  +  Kol 3: 1 - 4  +  Luk 24: 13-35
(Misa Sore)
 
 
Lectio :
Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.
Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?" Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat."
Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.
Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?"
Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon." Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.
 
Meditatio :
'Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?'.
Pancingan Yesus mengenai tepat sasaran. 'Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?', tanya Yesus kepada dua orang muridNya. Yesus pandai memang membangkitkan semangat orang; walau dengan wajah muram, Kleopas mau menjawab pertanyaan Yesus yang menantang.  'Yesus sendiri datang dan mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka, tetapi mereka tidak dapat mengenal Dia'. Yesus ada bersama mereka, tetapi mereka tidak mengenalNya, karena 'ada sesuatu yang menghalangi mata mereka'. Kekuatan inderawi lebih kuat daripada keinginan roh. Peristiwa tentang kebangkitan Yesus begitu cepat tersebar pada hari itu juga, merebak ke seluruh daerah; dan dua orang dari murid-murid Yesus yang pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira duabelas kilometer jauhnya dari Yerusalem itu,  pun menegtahuiNya dan sedang memperbicangkanNya.
Kedua orang itu lalu menceritakan bahwa Yesus, seorang Nabi dari Nazaret, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa, telah diserahkan oleh imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin bangsa untuk dihukum mati dan disalibkan. Padahal Dialah harapan bangsa, yang akan datang untuk membebaskan Israel. Tetapi pagi tadi, hari ketiga sejak semuanya itu terjadi, beberapa perempuan malahan mengejutkan mereka, bahwasannya pagi-pagi buta ketika pergi ke kubur, mereka tidak menemukan mayat Yesus, malaikat-malaikat kudus menjumpai mereka dan mengatakan, bahwa Yesus hidup. Beberapa teman mereka pun sempat pergi ke kubur mendapati, bahwa yang dikatakan perempuan-perempuan itu memang benar, tetapi Dia tidak mereka lihat.
Curahan hati harus terungkap dan bukannya dipendam melulu, sebab akan meringankan beban hati, dan itulah yang terucapkan oleh kedua muridNya. Yesus dengan setia mendengar dan mendengarkan kedua muridNya bercerita; Dia menahan diri untuk memberikan komentar, sebab mendengarkan dengan penuh perhatian menyenangkan hati mereka yang bercerita dan menurunkan ketegangan dan kegelisahan hati.
'Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?'.
Teguran Yesus kepada mereka, dan mereka menanggapiNya tanpa kata dan tiada komentar sedikitpun. Teguran Yesus membuat mereka tidak berkutik, dan sepertinya mereka mengakui keberadaan diri mereka. Mereka hanya mendengarkan dan mendengarkan. Teguran Yesus ini kiranya sebuah intervensi Allah kepada umatNya; dan memang amatlah tepat, bila Dia bersabda, kita hendaknya berdiam diri mendengarkan dan mendengarkan, kita  harus berani 'duduk manis dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya' (Luk 10: 39), dan 'menyimpannya di dalam hati dan merenungkannya' (Luk 2: 19).  Yesus pun menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang DiriNya dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.
'Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam'.
Sebuah ucapan terima kasih terucap dari kedua orang yang mendapatkan perhatian dan pelayanan; dan memang hanya orang-orang yang tahu bersyukur dan berterimakasih berani mengundang sesamanya untuk  'tinggal di rumahnya', terlebih bila 'hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam'. Ajakan itulah yang dikatakan kedua murid ketika mereka mendekati kampung yang mereka tuju. 'Yesus berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya', karena secara sengaja Dia menunggu umatNya untuk berani berkata-kata, bercerita dan mengundangNya datang ke rumah kediamannya.  
Undangan mereka sungguh-sungguh mendatangkan rahmat dan berkat, sebab ajakan itu malahan memberi kesempatan kepada mereka untuk ambil bagian dalam Paskah bersama Kristus, yang bangkit dan hidup. Sebab pada waktu duduk makan bersama di rumah mereka, 'Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka'. Mereka merayakan Paskah bersama Kristus dalam perjamuan Ekaristi. Mereka menerima pemberian TubuhNya, 'yang adalah sungguh-sungguh Makanan' (Yoh 6: 55); dan pada saat itu juga 'terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia'; keikutsertaan  dalam perjamuan membuat mereka semakin mengenal Seseorang yang berbicara kepada mereka. 'Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?'; pembicaraan mereka tergenapi dalam Perjamuan bersama dengan Dia. Sungguh benarlah, yang ditegaskan oleh bapa-bapa Gereja dalam Konsili Vatikan II, bahwasannya perjamuan  Ekaristi adalah pusat dan puncak perayaan hidup kristiani, karena di dalamnya kita, umat yang dikasihiNya, berjumpa dengan Dia dalam Sabda dan TubuhNya.
Bila Yesus tiba-tiba 'menghilang dari tengah-tengah mereka', karena Dia, yang mengatasi ruang dan waktu, tidak mengikatkan diri lagi, Dia membataskan diri dalam waktu yang dibuat oleh manusia. KehadiranNya di Emaus adalah penyaksian diri akan kebenaran bahwa Anak Manusia, Kristus Tuhan telah bangkit dan hidup, kehadiran Allah dalam Paskah baru semakin terasa dinikmati oleh umat  yang berkumpul dan bersatu dalam perjamuan bersamaNya.
'Sungguh, Tuhan telah bangkit'.
Itulah pewartaan kedua murid, yang terus kembali ke Yerusalem. Kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.
 'Kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuat-Nya di tanah Yudea maupun di Yerusalem; dan mereka telah membunuh Dia dan menggantung Dia pada kayu salib. Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga'.
Itulah kesaksian Petrus, yang kita dengar dalam Kisah Para Rasul tadi, dialah memang orang yang mengenal Kristus secara lengkap, bukan kedua murid yang pergi ke Emaus. Petrus mempunyai pengenalan secara lengkap dan sempurna kepada Kristus, sebab dia mempunyai pengalaman bagaimana dia percaya dan menerima sungguh-sungguh siapakah Yesus itu, Yesus yang mampu membuat mukjizat, mengusir setan, menguasai alam dan Yesus yang menampakkan kemuliaanNya; dia juga mempunyai pengalaman bagaimana menyangsikan, menolak dan bahkan mengingkari Kristus yang dipercaya dan diimaninya itu. Petrus tahu dengan baik apa yang diperbuat Yesus semenjak di tanah Yudea sampai hari kebangkitanNya.
Petrus memberi kesaksian bahwa: 'Yesus pun berkenan menampakkan diri, bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati'.
Dan akhirnya, Petrus pun siap sedia ditugaskan, dan bukan diminta, itulah istilah yang dipakainya, untuk 'memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati dan barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya'.
Perayaan Paskah adalah perayaan iman. Perayaan pengakuan bahwa Dia, Yesus Tuhan yang telah merendahkan diri sampai mati, mati di kayu salib itu telah bangkit dan jaya. Paskah adalah sebuah perayaan peneguhan barangsiapa percaya kepadaNya  akan beroleh kebangkitan dan hidup, sebab Dialah Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati. Bersyukurlah dan berbahagialah kita orang-orang yang percaya kepadaNya.
Karena itu, Paulus dalam suratnya kepada umat di Kolose meminta, 'kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan'. Paulus meminta supaya kita tidak tenggelam dalam urusan sehari-hari,  seluruh perhatian dan tenaga janganlah dihabiskan hanya untuk tinggal di dunia ini, kita tidak berhenti di sini, 'sebab kemah kita di dunia ini pun akan dibongkar'  (2Kor 5: 1); hendaknya pikiran dan kerinduan hati ini, kita arahkan hanya pada keselamatan hidup, dan bukan yang lain, dan semuanya itu hanya ada dalam Kristus yang telah bangkit mengalahkan maut. Keterarahan pada perkara-perkara di atas berarti merayakan Kristus yang telah bangkit dan yang tidak mengikatkan diri dengan dunia lagi.
Keberanian kedua murid, yang tetap mendesak mengundang Yesus, yang tak dikenali oleh mata,  tinggal bersama mereka,  kiranya menjadi semangat  kita juga untuk berani mengundang Dia dan tinggal bersamaNya. Merayakan Paskah tidaklah cukup merayakannya di dalam gereja, melainkan juga terlebih dalam rumah hati kita.
Kuduskan rumah kami
untuk kami berdoa,
Kuduskan hati ini
untuk kami menyembah
Biar segala perkara
kuserahkan padaMu Yesus
dan Roh Kudus bekerja
membimbing kami semua.
 
Oratio :
Kristus bangkit bangkit, Kristus jaya.
Engkau telah menang dan jaya mengalahkan kuasa maut, ya Yesus. Semoga kami semakin terpaut  kepadaMu, karena hanya Engkaulah  Tuhan Allah Penguasa hidup yang membahagiakan, dan Engkaulah Hakim atas semua orang hidup dan mati. Yesus, teguhkanlah iman kami kepadaMu.
 
Contemplatio :
            Tinggallah bersama kami, ya Kristus bangkit dan hidup.
            Alleluya, Alleluya.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening