Jumat Agung

Mengenang Sengsara dan Wafat Tuhan Yesus
22 April 2011
Yes 52:13 – 53:12  +  Ibr 4: 14-16; 5: 7-9  +  Yoh 18:1 – 19:42
 
 
Meditatio :
Dalam Jalan Salib pemberhentian VIII diceritakan Yesus menghibur perempuan-perempuan yang menangis. Mereka menangis, karena melihat  dan merasakan bahwa: di depan mata mereka ada peristiwa ketidakadilan yang menimpa Yesus, sang Guru, Mesias yang dinanti-nantikan umat manusia. Mereka semua menanti-nantikan kedatangan seorang Mesias, sang Penyelamat umat manusia, tetapi ketika Dia datang dan berdiri di hadapan mereka, mereka malahan menahan Dia, mengolok-olok Dia, mencibirkan Dia, mendera Dia dan hendak menyalibkanNya.  
Dalam kisah sengsara, yang kita dengar hari ini, di hari suci dan mulia, ada satu yang menarik perhatian yang coba kita cermati. Pertama,  adanya seorang imam agung yang menasihatkan orang-orang Yahudi: 'adalah lebih berguna jika satu orang mati untuk seluruh bangsa'. Sebuah ucapan seorang pejabat tinggi, yang dipertuan agung, yang tidak bisa dipertangungjawabkan. Dia sebagai seorang Imam Agung yang bertugas mengayomi dan mendampingi seluruh masyarakat, tetapi dengan mudahnya dia menyelesaikan persoalan hidup dengan membuat seseorang menjadi korban bagi yang lain.
Kedua, gerakan massa yang seringkali emosional dan irasionil, ketika mendapatkan angin segar, walau dalam hal kejahatan, sebagaimana diserukan seorang imam agung tadi, semakin kuat meneriakan nafsu dan gejolak hati. 'Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!'. Situasi korban Paskah, kurban darah pada waktu semakin mengobarkan gelora hati; 'Dia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah', walau pun 'menurut hukum Taurat kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang'. Aneh tapi nyata!
Inilah peristiwa pembohongan! Peristiwa ketidakadilan! Permainan mafia hokum! Ini permainan kuasa dan kekuatan!
Adakah peristiwa-peristiwa semacam ini juga terjadi di tengah-tengah bangsa kita? Coba kita teliti!
Dalam perayaan Paskah, kita tidak cukup, dan memang tidak perlu menangis seperti perempuan-perempuan, sebagaimana yang kita temukan dalam pemberhentian VIII. Konteks jamannya sudah berbeda!
Sebab, bersama dan dalam Surat kepada umat Ibrani, 'sekarang kita mempunyai seorang Imam Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah'.  Dia bukan seperti Kayafas! 'Imam Agung yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa'. Yesus tidak memikirkan diri sendiri, Dia tidak mau menyenangkan dan menyelamatkan diri, dan Dia tidak mencari keamanan diri sendiri, atau pun membela kelompoknya sendiri. Dia malahan turba, merendahkan diri dan 'turut merasakan kelemahan-kelemahan kita', umatNya.
'Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Bapa, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan'. Doa memang menjadi nafas keseharian Yesus. Segala yang hendak dilakukan diawali dan dipersembahkan dengan doa. 'Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya'. Ketaatan kepada Bapa adalah modal dasar Yesus dalam menghadapi segala peristiwa kehidupan; segala bentuk kepahitan hidup Dia terima: diremehkan, dicela, diolok-olok, difitnah, didera, disiksa, bahkan dibunuh di kayu salib dan turun ke liang kubur!  Semua dipenuhi dan digenapinya, yang pada akhirnya, 'Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya'.
 
Apa yang dapat kita buat?
Wajar kita ikut berbeladuka atas kematian Yesus. Namun kita harus bangga atas kematianNya, yang memberi keselamatan kepada kita umat manusia. Maka seperti dikatakan dalam surat kepada umat Ibrani, 'marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya'.
Salib suci nan mulia
Kayu paling utama
Tiada yang menandingi
Daun bungah buahnya
Kayu paku bahagia
Memangku Pangkal hidup
 
Engkaulah kayu yang pantas
Mentakhtakan Penebus
Menyajikan tempat labuh
bagi bumi yang karam
Berhiaskan darah suci
Anak Domba sejati
 
 
Oratio :
Yesus, teguhkanlah kami memanggul salib kehidupan ini. Ajarilah kami untuk mempelajari hidup yang seringkali penuh diwarnai ketidakadilan, kebohongan dan penyelewengan hokum. Semoga Engkau semakin melimpahkan rahmat pertobatan kepada bangsa dan negara ini, sehingga semakin terwujudlah kesejahteraan, keadilan dan damai bagi seluruh rakyat. Berkatilah bangsa dan negara kami ya Tuhan.
 
Contemplatio :
            Aku bangga akan salib Tuhan kita Yesus Kristus
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening