Jumat Prapaskah IV

8 April 2011
Keb 2: 1.12-22  +  Mzm 34  +  Yoh 7: 1-2.10.25-30
 
 
Lectio :
Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea, karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. Ketika sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun, berangkatlah saudara-saudara Yesus ke pesta itu, dan Ia pun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam.
Ketika melihat Dia, beberapa orang Yerusalem berkata: "bukankah Dia ini yang mereka mau bunuh? Dan lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu, bahwa Ia adalah Kristus? Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, tetapi bilamana Kristus datang, tidak ada seorang pun yang tahu dari mana asal-Nya."
Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru: "Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku."
Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba.
 
Meditatio :
Kehadiran Yesus menjadi persoalan banyak orang.
Itulah kesan dan kesimpulan sementara yang dapat kita pahami. Memang ada orang-orang yang  merindukan kehadiranNya, ada pula yang dibuatNya gelisah dan was-was, karena pengajaranNya banyak melawan kemapanan sosio-religio yang sudah tertata rapi. Yesus pun menyadari semuanya itu, maka ketika hendak merayakan hari raya Pondok Daun, hari raya orang-orang Yahudi, Dia pun datang, tetapi 'tidak secara terang-terangan, melainkan diam-diam'.
Namun begitu, kenyataannya, Yesus tidak berdiam diri atau berpangku tangan. Yesus tetap setia pada tugas perutusanNya: mewartakan kabar keselamatan. Maka ketika melihat Dia tetap mengajar, beberapa orang Yerusalem yang kritis terhadapNya berkata: 'bukankah Dia ini yang mereka mau bunuh? Dan lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu, bahwa Ia adalah Kristus? Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, tetapi bilamana Kristus datang, tidak ada seorang pun yang tahu dari mana asal-Nya'. Tantangan dan perlawanan dari mereka, yang dikasihiNya dan yang akan diselamatkan, tidak mengubah dan membatalkan tugas perutusanNya, Yesus tetap setia.
Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru: 'memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku'. Bagi Yesus, asal usul dan di mana Dia dilahirkan tidaklah penting, dan memang Dia tidak mau semua hal itu diperhitungkan,  apakah memang Dia disebut sebagai Orang Betlehem (Mat 2: 5-6), atau Orang Nazaret (Mat 2: 23), atau Anak seorang tukang kayu (Mat 13: 35). Namun dengan sadar, Yesus tahu dan mau bahwa Dia datang atas kehendak Bapa yang mengutusNya, dan Dia mengajak setiap orang untuk terlibat bersamaNya, menikmati anugerah keselamatan dengan melaksanakan kehendak Bapa di surge (Mat 12: 49-50), sebagaimana yang Dia lakukan.
Kita tentunya bukan orang-orang yang gelisah dan was-was dengan kehadiranNya, malahan kita merindukan kehadiran dan pendampinganNya. Dan memang, berkat kematian dan kebangkitanNya, kita boleh menikmati rahmat penebusanNya, kita malahan diangkat menjadi saudara dan saudariNya, menjadi putera-puteri Bapa di surge.
Bacaan dari Kitab Kebijaksanaan mengingatkan kita, bahwasannya menjadi orang-orang pilihanNya, bukanlah orang-orang yang bebas dari teriknya matahari dan taburan hujan badai. Malahan keberanian kita menikmati keterpilihanNya akan mendapatkan pemurnian hari demi hari.
'Pendek dan menyedihkan hidup kita ini, dan pada akhir hidup manusia tidak ada obat mujarab; seseorang yang kembali dari dunia orang mati tidak dikenal'.
Kematian yang menakutkan itu akan tetap dihadapi oleh orang-orang yang percaya kepadaNya. Malahan secara sengaja nada sumbang dan ancaman akan datang, kata mereka orang-orang provokator :
'marilah kita menghadang orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan serta menentang pekerjaan kita. Pelanggaran-pelanggaran hukum dituduhkannya kepada kita, dan kepada kita dipersalahkannya dosa-dosa terhadap pendidikan kita. Ia membanggakan mempunyai pengetahuan tentang Allah, dan menyebut dirinya anak Tuhan. Bagi kita ia merupakan celaan atas anggapan kita, hanya melihat dia saja sudah berat rasanya bagi kita. Sebab hidupnya sungguh berlainan dari kehidupan orang lain, dan lain dari lainlah langkah lakunya. Kita dianggap olehnya sebagai orang yang tidak sejati, dan langkah laku kita dijauhinya seolah-olah najis adanya. Akhir hidup orang benar dipujinya bahagia, dan ia bermegah-megah bahwa bapanya ialah Allah.
Coba kita lihat apakah perkataannya benar dan ujilah apa yang terjadi waktu ia berpulang. Jika orang yang benar itu sungguh anak Allah, niscaya Ia akan menolong dia serta melepaskannya dari tangan para lawannya. Mari, kita mencobainya dengan aniaya dan siksa, agar kita mengenal kelembutannya serta menguji kesabaran hatinya. Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati keji terhadapnya, sebab menurut katanya ia pasti mendapat pertolongan'.
 
Oratio :
Yesus, kedatanganMu dahulu banyak digelisahkan oleh orang-orang yang memang menolak kehadiranMu sebagai sang Juruselamat. Namun tanpa ragu dan kuatir, Engkau tetap maju dan maju mewartakan sabda kehidupan, yang semuanya adalah demi keselamatan umatMu.
Yesus, teguhkanlah iman kami, agar kami pun tetap setia dan semakin berani mewartakan sabda dan kehendakMu. Amin.
 
Contemplatio :
Aku datang untuk melaksanakan kehendakMu,  ya Tuhan.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening