Jumat - Sabtu Hening

22-23 April 2011
 
 
Meditatio :
Dalam pemerintahan Pontius Pilatus
Disalibkan dan dimakamkan
Yang turun ke tempat penantian.
Pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati.
Sejarah mencatat dalam pemerintahan Pontius Pilatus, Yesus mengalami penderaan, siksaan, dan kiranya yang paling mengerikan adalah penyaliban, sebuah hukuman yang paling keji yang dikenakan pada orang-orang yang membikin keonaran dan kejahatan dalam masyarakat. Penyaliban adalah hukuman bagi penjahat-penjahat kelas kakap. Kisah sengsara Tuhan kita Yesus Kristus dapat membantu kita mengenal  siapakah Dia sang Mesias itu.
Dia disalibkan dan mati! Dia mengakhiri hidupnya dan menyerahkan nyawaNya di kayu salib!
Maria yang hafal sang buah hatinya, menerima Dia dalam pangkuannya, pieta, tidak mungkin keliru; Dia bukan yang dulu lagi, seorang bayi yang kecil dan manis, tetapi kini Maria menerima seorang Anak Manusia yang tergeletak tidak bernyawa, lemas, pucat dan tak berdaya. Maria tahu dengan hati dan budinya siapakah yang ada dalam pangkuannya. Pemberhentian XIII Jalan Salib mencatat keberanian Maria menerima Yesus yang  diturunkan dari salib, dia yang sudah menemani semenjak awal perjalanan salibNya, kini mengakhiri dan menerima kembali sang Anak Manusia kesayangan dalam pangkuannya.
Semua orang melihat, bahwa 'Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, maka mereka tidak mematahkan kaki-Nya' (Yoh 19: 34). 'Sesudah itu Yusuf dari Arimatea meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus, dan Pilatus meluluskan permintaannya itu, segera diturunkannya mayat itu' (Yoh 19: 38). 'Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi' (Yoh 19: 40), dan 'meletakkan mayat Yesus ke dalam kubur itu' (Yoh 19: 42).
Petang hari ini, yang sudah masuk dalam hitungan Sabtu hening dan suci, kita harus berjaga bersama Kristus yang berada dalam kubur. 'Dia turun ketempat penantian, ke tempat kematian'. Inilah iman kepercayaan kita. Berjaga bersama Dia yang berada dalam maut berarti kita menikmati keheningan dan kesucian dalam situasi tiada kata dan karya, kita mengadakan laku tapa, pantang dan puasa dan matiraga. Tiada sorak-sorai, tepuktangan dan puji-pujian dalam kematian, tiada kehidupan dalam alam maut. Sebab secara inderawi kita dapat membayangkan bahwa Kristus Tuhan sedang menghancurkan kuasa maut, Dia melebur dosa dan kesalahan umat manusia, Dia membinasakan kuasa kejahatan, Dia sedang mengobrak-abrik kuasa kematian, dan hendak membangkitkan semua orang dan menarik kepada diriNya.
Petang hari ini kita memasuki Sabtu hening nan suci. Kita menantikan kebangkitan sang Penyelamat yang menghidupkan kita.
 
Oratio :
Yesus Kristus, Engkau turun ke alam maut untuk menyelamatkan kami. Hancurkanlah kuasa dosa dalam diri kami, agar kami pun kelak bangkit bersama Engkau; janganlah Engkau memperhitungkan dosa dan kesalahan kami, tetapi bebaskanlah kami dari kuasa yang jahat. Amin.
 
Contemplatio :
            Aku mati bersama Kristus
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening