Malam Paskah

23 April 2011
Kej 1:1 – 2:2  +  Kel 14:15 - 15: 1  + 
Yes 55: 1-11  +  Rom 6: 3-11  +
Mat 28: 1-10
 
 
Lectio :
Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu. Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya. Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju. Dan penjaga-penjaga itu gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati.
Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: "Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring. Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya aku telah mengatakannya kepadamu."
Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus. Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: "Salam bagimu." Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Maka kata Yesus kepada mereka: "Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku."
 
Meditatio :
'Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu. Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya. Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju. Dan penjaga-penjaga itu gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati'.
Hanya karena cinta, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain ke kubur, tanpa rasa takut dan kuatir. Pemberani juga mereka ini; bukankah kematian Orang yang dikasihinya ini sudah masuk dalam ranah social-politik; kekuatan militer pasti akan hadir juga dalam situasi seperti itu. Tampak di sana memang ada beberapa penjaga yang siap sedia.  Sekali lagi, tanpa rasa kuatir dan was-was mereka pergi ke makam; atau malahan sebaliknya, kedatangan kaum perempuan tidak menjadi perhitungan dalam dunia social-politik, keamanan mereka juga menjadi tanggungjawab masing-masing pribadi. Konsep Allah yang menciptakan laki-laki dan perempuan sesuai dengan gambarNya (Kej 1: 26), sebagaimana tersurat dalam bacaan Kejadian, sengaja diabaikan.
Sekarang pun masih terasa, perempuan dirumahkan, ditutupi dan disepelekan dalam realitas social. Namun di sela-sela penutupan itu, mulailah menggeliat gerakan kaum perempuan yang ingin tampil dan berperan, karena memang itulah hak hidup, hak azasi mereka; kiranya perlu kita apresiasi, kita dukung dan haruslah diberi kesempatan seluas-luasnya.
Dalam liturgi, Gereja membatasi perempuan dalam penerimaan sakramen imamat, mereka tidak diperkenankan menerima sakramen imamat, sebagaimana Yesus sendiri, yang memberikan konsep ilahi, tidak meminta secara khusus kepada mereka duduk dalam karya perutusanNya, entah itu Maria bundaNya, Maria atau Marta, kedua saudari Lazarus, si perempuan Samaria, atau Maria-maria  yang lain, walau perhatian Yesus kepada mereka amatlah besar. Namun Yesus memberi tempat istimewa bagi kaum perempuan dalam Gereja menjadi penyaksi-penyaksi iman yang sejati; merekalah saksi-saksi kebangkitan Kristus yang hidup. Iman akan Kristus tumbuh dari dalam rahim hati seorang perempuan! Gereja tumbuh dan berkembang  juga karena doa dan kesucian hati kaum perempuan!
Kedua perempuan pergi ke makam tepat  'setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu', artinya terjadinya sesuatu yang indah dan mulia ini bukan pada hari Sabat,  sebagaimana diagung-agungkan orang-orang pada saat itu. Semuanya terjadi setelah hari Sabat, tepat pada hari yang mengikutinya, ketika fajar menyingsing, yang kita kenal sekarang ini sebagai hari Minggu, Dominggo, hari bagi Tuhan.
Ketika kedua perempuan mendekat makam,  'terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya. Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju'. Sebuah peristiwa alami sungguh-sungguh terjadi dan mengejutkan, sebuah gempa yang mengiringi kedatangan malaikat Allah yang membuka pintu kubur;  sebuah kehadiran yang ilahi sungguh tampak nyata, dapat dilihat, didengar dan dirasakan,;dia sang malaikat dengan wajah bagaikan kilat, dan pakaian putih bagaikan salju, ada di depan mata mereka. Kilau dan kecermelangan dalam penampakan seperti itu pernah juga dialami oleh Petrus, Yakobus dan Yohanes ketika mereka bersama di gunung Tabor. Maria Magdalena dan Maria yang lain, sebagai orang-orang yang merindukan Allah, mampu melihat dan merasakan kehadiranNya, berbeda dengan 'penjaga-penjaga yang gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati itu'.
'Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring. Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia'.
Itulah pernyataan malaikat kepada mereka. Yesus telah bangkit dari alam maut, sebagaimana yang telah dikatakanNya sendiri, 'sesudah tiga hari Aku akan bangkit'. (Mat 27: 63). Mereka pun diajak untuk melihat dan membuktikannya sendiri bahwa Dia sudah tidak ada dalam kubur lagi. Namun mereka tidak mempergunakan kesaksian mata, karena iman kepada sang Kristus menjiwai mereka; dan berkat iman kepercayaan, mereka diajak untuk memberitakan dan mewartakan bahwa 'Yesus telah bangkit dari antara orang mati'. Hanya orang-orang beriman dan percaya kepada Kristus, yang diajak dan diundang untuk mewartakan kabar sukacita, sebab memang mereka yang tidak mempunyainya tidak akan mampu membagikannya, nemo dat quod non habet. Dan selanjutnya, kesediaan dan kesetiaan seseorang mendengarkan sabdaNya akan memampukan dia berkata-kata tentang kebenaran dan hidup.
'Salam bagimu. Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku'.
Sebuah salam sapaan yang memberikan penghiburan dan menyempurnakan jiwa, sebab Dia yang dicari ada di depan mereka. Suara Yesus membuat hati dan jiwa mereka lega dan bersukacita. Semuanya terjadi di luar dugaan mereka, semua terjadi ketika mereka berniat untuk mewartakan kabar sukacita, kabar kebangkitan. Kemauan untuk memberitakan bahwa: Yesus telah bangkit, diteguhkan oleh sang Kebangkitan dan Hidup itu sendiri. Kemauan akan Allah mendatangkan keselamatan, kemauan untuk melihat Yesus memberikan kehidupan baru (Luk 19: 1-10). Kedua perempuan itu lalu 'mendekati Yesus dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya'.  
Dalam Malam Paskah yang suci dan mulia ini, kita merayakan iman kepercayaan kita. Kesaksian kedua perempuan saudari kita meneguhkan bahwa kerinduan kita kepada Kristus  akan mendatangkan keselamatan. Kita bersyukur atas kematian dan kebangkitan Kristus, Alleluya!
Kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya.
Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.
Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.
Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.
Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah.
 
Oratio :
Kristus bangkit bangkit, Kristus jaya
Ya Yesus, kami bersyukur kepadaMu atas anugerah yang luhur dan mulia ini. Kami Engkau ijinkan menikmati kematian dan kebangkitanMu; semoga kebangkitan hidupMu menjadi juga kebangkitan kami. Semoga kerinduan kami akan hidup kekal semakin teguh dan tidak diombang-ambingkan oleh badai kehidupan.
Yesus, kami mohon limpahan rahmatMu bagi saudari-saudari kami yang dengan setia memperjuangkan hak hidup, yakni mereka yang menegakkan suara-suara yang terabaikan; semoga semangat mereka semakin berkobar dalam menyatakan bahwa Engkau menciptakan manusia laki-laki dan perempuan sesuai dengan gambarMu. Yesus, bangkitkanlah mereka dari puji-pujian diri yang membelenggu dan meninakbobokan.
 
Contemplatio :
            Kristus bangkit dan hidup, Alleluya, Alleluya.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening