Rabu dalam Oktaf Paskah

26 April 2011
Kis 3: 1-10  +  Mzm 105  +  Luk  24: 13-35
 
 
 
Lectio :
Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.
Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?" Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat."
Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.
Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?"
Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon." Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.
 
Meditatio :
'Yesus sendiri datang dan mendekati kedua muridNya itu dan berjalan bersama-sama dengan mereka, tetapi mereka tidak dapat mengenal Dia,  karena ada sesuatu yang menghalangi mata mereka'.
Kekecewaan dan kesedihan meliputi kedua murid yang berjalan ke Emaus. Mereka kecewa dan sedih, karena 'Yesus, seorang Nabi dari Nazaret, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa, telah diserahkan oleh imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin bangsa untuk dihukum mati dan disalibkan. Padahal Dialah harapan bangsa, yang akan datang untuk membebaskan Israel'. Ada pula yang  mengatakan, bahwa Yesus hidup. Berita terakhir ini semakin membuat mereka berdua gelisah. Alam pikiran yang lebih menguasai kaum Adam tidak berjalan juga, sebagaimana dialami Maria Magdalena sebagai diceritakan Injil kemarin.
'Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?'.
Nada sapaan kedua ini pun kiranya juga lebih keras daripada sapaan Yesus yang pertama tadi. Maria Magdalena kemarin mengalami hal yang sama. Sapaan ini menjadi sebuah teguran yang membuat mereka tidak berkutik, hanya berdiam diri. Mereka hanya mendengarkan dan mendengarkan. Teguran Yesus ini kiranya sebuah intervensi Allah kepada umatNya.  Yesus pun menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang DiriNya dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.
'Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam'.
Sebuah ucapan terima kasih terungkap dari kedua orang yang mendapatkan perhatian dan pelayanan; dan memang hanya orang-orang yang tahu bersyukur dan berterimakasih akan berani mengundang sesamanya untuk  'tinggal di rumahnya', terlebih bila 'hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam'. Ajakan itulah yang dikatakan kedua murid ketika mereka mendekati kampung yang mereka tuju. 'Yesus berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya', karena secara sengaja Dia menunggu umatNya untuk berani berkata-kata, bercerita dan mengundangNya datang ke rumah kediamannya.  
Undangan mereka sungguh-sungguh mendatangkan rahmat dan berkat, sebab bisa makan bersama dengan Kristus, yang bangkit dan hidup. Sebab pada waktu duduk makan, 'Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka'. Mereka merayakan Paskah bersama Kristus dalam perjamuan Ekaristi. Mereka menerima pemberian TubuhNya, 'yang adalah sungguh-sungguh Makanan' (Yoh 6: 55); dan pada saat itu juga 'terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia'; makan bersama membuat mereka semakin mengenal Seseorang yang berbicara kepada mereka. 'Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?';  sukacita hati mereka  tergenapi dalam Perjamuan bersama dengan Dia. Sungguh benarlah, yang ditegaskan oleh bapa-bapa Gereja dalam Konsili Vatikan II, bahwasannya perjamuan  Ekaristi adalah pusat dan puncak perayaan hidup kristiani, karena di dalamnya kita, umat yang dikasihiNya, berjumpa dengan Dia dalam Sabda dan TubuhNya.
Bila Yesus tiba-tiba 'menghilang dari tengah-tengah mereka', karena Dia, yang mengatasi ruang dan waktu, tidak mengikatkan diri lagi, Dia membataskan diri dalam waktu yang dibuat oleh manusia. KehadiranNya di Emaus adalah penyaksian diri akan kebenaran bahwa Anak Manusia, Kristus Tuhan telah bangkit dan hidup, kehadiran Allah dalam Paskah baru semakin terasa dinikmati oleh umat  yang berkumpul dan bersatu dalam perjamuan bersamaNya.
'Sungguh, Tuhan telah bangkit'.
Itulah pewartaan kedua murid, yang terus kembali ke Yerusalem. Kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.
'Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!'.
Dengan kata-kata ini, dalam Kisah Para Rasul tadi, malahan secara berani Petrus dan Yohanes 'menjual nama Yesus yang bangkit', yang menjadikan segala-galanya baik adanya, kepada seorang lumpuh sejak lahir, sehingga ia harus diusung. Mereka menjual namaNya, bukan untuk mencari popularitas diri, melainkan keselamatan dan sukacita orang lain. Dan sungguh orang yang tadinya lumpuh itu 'melonjak berdiri lalu berjalan kian ke mari dan mengikuti kedua murid ke dalam Bait Allah, berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah; dan seluruh rakyat itu melihat dia berjalan sambil memuji Allah'. Membagikan kabar sukacita itu membuat orang bergembira ria dan memuji Allah (Mat 5: 16)
 
Oratio :
Kristus yang bangkit dan hidup, ajarilah kami untuk selalu mengungkapkan rasa terima kasih kepada sesame kami, kepada orang-orang yang ada di sektar kami, karena Engkau sendiri telah banyak memperhatikan dan menolong kami melalui mereka yang ada di sekitar kami. Ajarilah kami untuk semakin berani merasakan kehadiranMu dalam diri sesame kami, amin.
Kristus, kuasailah kami dengan Roh KudusMu.
 
Contemplatio :
            Dalam nama Yesus Kristus, bangkitlah.
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening