Rabu Prapaskah V

13 April 2011
Dan 13: 14-20.24-28 +  Mzm   +  Yoh 8: 31-42
 
 
Lectio :
Kata Yesus kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu."
Jawab mereka: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka. Aku tahu, bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu. Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa yang kamu dengar dari bapamu."
Jawab mereka kepada-Nya: "Bapa kami ialah Abraham." Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri."
Jawab mereka: "Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah." Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.
 
Meditatio :
'Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu'.
Penegasan Yesus ini meminta agar setiap orang, kita semua yang mengaku diri sebagai murid-muridNya, tetap bersatu dengan Dia dan berani mendengarkan sabda dan kehendakNya, dan merindukan kebenaran dari Allah, kebenaran yang menyelamatkan hidup. Orang yang mengaku diri sebagai orang kristiani harus berani mendengarkan sabdaNya, rajin membaca Kitab Suci, dan malahan sebagai kewajiban kita untuk membacanya, agar kita dapat terbiasa mendengarkan sabdaNya. Semakin mengenal Kitab Suci semakin mengenal Dia, sang Empunya kebenaran.
Mendengarkan sabda berarti juga melaksanakannya, dan bukan pendengar-peendengar sabda yang menipu diri (Yak 1: 22-25), dan memang kita dapat semakin mengenal Dia, karena memang kita melaksanakan kehendakNya; dan itulah yang ditegaskan Yesus kepada kita dalam beberapa hari ini. 'Aku datang melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku'.
'Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Bagaimana Engkau dapat berkata: kamu akan merdeka?"
Itulah pembelaan diri orang-orang yang merasa diri benar dan terikat pada konsep hidup lama. Mereka sulit menerima pembaharuan hidup yang digerakan Yesus, padahal yang dikatakanNya adalah kebenaran-kebenaran Allah, yang menyelamatkan.
'Setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa' tegas Yesus,
'hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka'. Dosa membuat orang keluar dari Rumah Bapa, sebaliknya kesetiaan mendengarkan dan melaksanakan kehendak Bapa membuat seseorang tinggal bersama Bapa dalam rumahNya; dan hanya Anak yang sampai sekarang ini dan untuk selamanya setia tinggal dalam rumahNya, yang akan memerdekakan kita, hanya saja bila kita mau mendengarkan sabdaNya.
'Aku tahu, bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu'. Teguran Yesus mengingatkan bahwasanya benarlah mereka itu bangga akan Abraham, tetapi sayangnya mereka tidak mau mendengarkan Tuhan sendiri sang Sumber kehidupan, yang diimani Abraham; malahan mereka 'mengerjakan pekerjaan bapa mereka sendiri, yang mana pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham'.
         Pekerjaan Abraham yang mendatangkan kebenaran dan keselamatan adalah imannya (Rom 40), dan inilah yang tidak mereka lakukan.
'Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebaliknya kamu malahan berusaha membunuh Aku; Aku keluar dan datang dari Allah. Kamu memang bukan anak-anak Bapa (Mat 5: 45).
Pembelaan orang-orang Yahudi di atas sepertinya hanya bertitiktolak dari keterpilihan mereka sebagai anak-anak Abraham secara jasmani, tetapi sikap Abraham sendiri dalam menanggapi kehendak dan perintah Tuhan Allah tidak mendapatkan perhatian. Keberanian untuk menanggapi kehendak Tuhan belum menjadi keberanian mereka. Iman menjadi dasar dari sebuah kepercayaan diri seseorang untuk bertindak, bahkan sebuah tindakan yang di luar kemampuan nalar manusia. Pengalaman Sadrakh, Mesakh dan Abednego, membuktikannya, sebagaimana diceritakan dalam Kitab Daniel tadi.
'Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja;  tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu'.
Yang dikatakan ketiga tokoh besar tadi bukanlah hal yang masuk akal atau mudah dicerna logika. Namun tak dapat disangkal, mereka begitu percaya diri dan bahkan meyakinkan orang lain bahwa diri mereka akan selamat, walau harus berhadapan dengan kekuasaan. Lihatlah, iman mereka tertabur juga dalam diri orang-orang belum percaya. Berkatalah Nebukadnezar: 'terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah mana pun kecuali Allah mereka'.
 
Oratio :
Ya Yesus, pengenalan akan Engkau memang membutuhkan usaha dan perjuangan. Jadikanlah kami pelaksana-pelaksana sabdaMu; dan buatlah kami, ya Tuhan, tidak mudah termakan oleh pikiran kami sendiri, yang terlalu mudah terbentur pada kemampuan diri.
Yesus tembahkanlah iman kepercayaan kami kepadaMu, amin.
 
Contemplatio :
Tuhan, Engkaulah kepercayaanku semenjak masa mudaku.
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening