Sabtu Prapaskah III

2 April 2011
Hos 6: 1-6  +  Mzm 51  +  Luk 18: 9-14
 
 
Lectio :
Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain,  kataNya: 'ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."
 
Meditatio :
'Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain'.
Dengan membandingkan dua orang yang berbeda satu dengan lainnya, menunjuk  ada sesuatu yang tidak beres. SabdaNya: 'ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku; tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini'.
Nada doa dari kedua orang ini memang berbeda, yang satu dengan posisi dan fasilitas yang ada, dia bangga dan bangga, karena tidak melakukan segala kesalahan, malahan bisa melakukan kewajiban agama benar dan berbuat baik, tidaklah demikian dengan orang yang lain ini, dia tidak merinci tindakan dan perbuatan yang telah dilakukan, sepertinya tidak ada yang dibanggakan. Orang Farisi itu sempat mengucapkan syukur, sedangkan sang pemungut cukai ini memohon belaskasih dan pengampunan; dan dia pun tidak berani membandingkan dirinya dengan orang lain, sedangkan orang Farisi menunjukkan keunggulan dan kehebatan dirinya dari orang lain.
Orang Farisi ini memang orang yang baik, dari kacamata kita tentunya, tetapi belum sempurna, dengan sengaja dia memerkan dan membanggakan diri, dia pun meremehkan dan merendahkan orang lain; semua itu dilakukan bukan di hadapan sesamanya, malahan di hadapan Tuhan. Dia seorang pemberani, bukan dalam kebaikan, melainkan dalam dosa!
'Aku berkata kepadamu', tegas Yesus kepada para muridNya, 'orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan'.
Pemberani dalam dosa tidak mendapatkan ganjaran sedikitpun
Kecenderungan untuk meninggikan diri amat terbuka lebar bagi orang-orang yang mapan hidupnya, bukan saja bagi mereka yang mapan karena fasilitas hidup sehari-hari, juga karena kemampuan dan keunggulan diri, bahkan kemapanan dalam hidup rohani.  Ada seorang yang bangga bisa pergi ke mana-mana dan siap melayani orang-orang yang meminta bantuannya, karena memang fasilitas kebutuhan sehari-hari telah terpenuhi; ada kendaraan yang siap dipakai ke mana-mana, tidak ada lagi momongan, penghasilan nafkah hidup sudah pasti didapatnya, rajin mengikuti misa pagi dan pelbagai kegiatan komunitas, dan 'mukjizat  itu nyata' sungguh menenteramkan jiwa, rupawan dan tutur katanya pun halus dan tertata, dia hanya gelisah terhadap mereka yang tidak bisa memberi waktu dan  melayani orang lain seperti dirinya. Percikan-percikan 'gunung tabor' seharusnya membuat orang semakin berani mengevaluasi diri, discretio spirituum, pembedaan roh.
Apakah pernah kita meninggikan diri?
Baiklah, seruan Hosea dalam bacaan pertama hendaknya menjadi perhatian kita bersama. 'Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita. Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi'.
Merendahkan diri di hadapan Tuhan adalah sebuah usaha, perjuangan dan persembahan hidup. 'Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran', sabda Tuhan.
Meninggikan diri tidak membutuhkan latihan, malahan sebuah kecenderungan yang kiranya harus dipadamkan.
 
Oratio :
Yesus, kami bersyukur kepadaMu atas segala kebaikan yang boleh kami terima daripadaMu, melalui orang-orang yang ada di sekitar kami, dan atas segala kemampuan yang kami miliki. Semoga segala kebaikan hatiMu itu semakin membuat kami merunduk di hadapanMu.
 
Contemplatio :
Rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening