Selasa dalam Oktaf Paskah

25 April 2011
Kis 2: 36-41  +  Mzm 33  +  Yoh  20: 11-18
 
 
 
Lectio :
Suatu kali Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.
Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan." Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya."
Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.
 
Meditatio :
'Ibu, mengapa engkau menangis?'
Pertanyaan yang menyapa itu, di jawab Maria dengan seenaknya: 'Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan'. Sebuah jawaban yang keluar begitu saja, mengingat kesedihan yang mendalam dari seorang perempuan, Maria Magdalena, pengagum Yesus. Dia sama sekali tidak respek, dan mengabaikan 'dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring'. Malaikat menyapa Maria, tetapi dia tidak memberi perhatian. Kesedihan yang mendalam dan berlarut-larut menutup mata seseorang untuk melihat kenyataan yang ada, bahkan kehadiran ilahi, kehadiran adikodrati yang  dirindukan banyak orang. Sungguh keterlaluan kesedihan Maria yang menutup mata inderawi dan terlebih mata hatinya.
'Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?', sapa Kristus yang dia cari, dan itupun tidak dikenalinya. Yesus, yang dia cari dan dia kagumi, ada di dekatnya dan menyapanya, tidak dikenalinya, karena kesedihan hati. Malahan Maria menyangka Yesus itu adalah penunggu taman, 'tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya'.
Aneka tantangan hidup tak jarang membuat seseorang menjadi galau bahkan putus asa. Pengalaman Maria menegaskan kepada kita, agar kita tidak mudah tenggelam dalam persoalan diri, malahan sebaliknya kita harus mampu mengatasi persoalan-persoalan kehidupan, walau kita belum mampu menyelesaikannya. Tenggelam dalam aneka persoalan kehidupan, membuat kita tidak mampu melihat dan memandang kehadiran yang ilahi, yang sebenarnya menjadi kerinduan hati kita sendiri.
'Maria!'
Kiranya panggilan Yesus kepada Maria untuk kedua kalinya ini lebih tinggi nadanya dibanding panggilanNya yang pertama tadi. Yesus tidak membiarkan dia berkepanjangan dalam duka cita, dan Maria mendengar dan menjawab 'Guru'. 'Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa', kata Yesus kepadaNya. Yesus tidak mau menjadi sasaran kesedihan umatNya, terlebih sebuah kesedihan akibat dari tindakan dan perbuatan diri pribadi, kesedihan Maria adalah sebuah resiko dari ketidakmampuan dirinya memandang misteri perutusan Kristus, sang Mesias. Kematian Kristus bukanlah kekalahan manusia, melainkan kemenangan manusia atas maut, berkat kematian dan kebangkitan Kristus. Kematian Kristus adalah kesengajaan Allah untuk mau mati di salib, ditinggikan di salib guna menarik semua orang datang kepadaNya.
'Pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu'.  Maria Magdalena diminta untuk memberi kabar kepada para muridNya bahwa Dia, Yesus telah pergi kepada Bapa, Asal hidupNya, yang tidak berawal dari dunia; Dia pergi kepada Bapa, yang kini menjadi Bapa bagi setiap orang yang percaya kepadaNya, sebab mereka semua berasal dari  bawah, dari dunia, yakni kita semua, telah diberi kesempatan untuk menjadi milik Bapa yang mengutusNya, bila kita mau percaya kepadaNya (Yoh 8: 23-24).
Maria pun pergi dan berkata kepada murid-muridNya: 'aku telah melihat Tuhan!'. Maria adalah pewarta pertama kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Maria adalah orang pertama, karena memang seperti diceritakan dalam Kisah Para Rasul tadi, para murid juga ambil bagian dalam pewartaaan itu, dan banyak orang tertarik dan membiarkan diri dibaptis.
'Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti', seru rasul Petrus, 'bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus'. 'Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?', sahut mereka serentak. Jawab Petrus kepada mereka: 'bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita'.  Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.
 
Oratio :
Kristus yang bangkit dan hidup, dengan perayaan Paskah ini kami Engkau ingatkan, agar kami tidak mudah egois dan mementingkan diri sendiri, baik dalam suka maupun duka. Bantulah kami, ya Yesus, agar kami tidak mudah tenggelam dalam aneka masalah, malahan berani memandang dan memangil Engkau memohon bantuan penyelesaian daripadaMu.
Kristus, kuasailah kami dengan Roh KudusMu.
 
Contemplatio :
            Pertajamlah telinga dan mata kami ya Tuhan
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening