Minggu Paskah III

8 Mei 2011
Kis : 14.22-33  +  1Pet 1: 17-21 +  Yoh 24: 13-35
 
 
 
Lectio :
Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.
Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?" Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat."
Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.
Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?"
Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon." Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.
 
Meditatio :
'Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?'.
Ungkapan kejengkelan dari kedua murid terhadap Seseorang yang ada di dekatnya; Orang itu bersama dengan mereka, tetapi mereka tidak mengenalNya. Namun kedua murid itu lalu menceritakan kepadaNya bahwa ada seorang Nabi dari Nazaret, Yesus namaNya, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa, telah diserahkan oleh imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin bangsa untuk dihukum mati dan disalibkan. Padahal Dialah harapan bangsa, yang akan datang untuk membebaskan Israel. Tetapi pagi tadi, hari ketiga sejak semuanya itu terjadi, beberapa perempuan malahan mengejutkan mereka, bahwasannya pagi-pagi buta ketika pergi ke kubur, mereka tidak menemukan mayat Yesus, malaikat-malaikat kudus menjumpai mereka dan mengatakan, bahwa Yesus hidup. Beberapa teman mereka pun sempat pergi ke kubur mendapati, bahwa yang dikatakan perempuan-perempuan itu memang benar, tetapi Dia tidak mereka lihat.
'Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?'.
Teguran Yesus kepada mereka, dan mereka menanggapiNya tanpa kata dan tiada komentar sedikitpun. Teguran Yesus membuat mereka tidak berkutik, dan sepertinya mereka mengakui keberadaan diri mereka.
'Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu?', dan bahkan berkat kematian dan kebangkitanNya, sebagaimana kita kutip dari surat pertama Petrus tadi, 'kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu'. Suatu karya penebusan yang luhur dan mulia itu 'bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat'.
Dia memang adalah Mesias, Dialah 'Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu. Dan Dia yang secara sengaja diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka. Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu', tegas santo Petrus di hari raya Pentakosta. Derita dan sengsara, kematian dan kebangkitan Kristus, sang Mesias adalah kemauan dan kehendak Allah. Dia mati, bukan binasa, dan kini Dia bangkit dan hidup!
Mereka dengan setia hanya mendengarkan dan mendengarkan. Inilah sebuah intervensi Allah kepada umatNya; dan memang amatlah tepat, bila Dia bersabda, kita berdiam diri mendengarkan dan mendengarkan, kita  harus berani 'duduk manis dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya' (Luk 10: 39), dan 'menyimpannya di dalam hati dan merenungkannya' (Luk 2: 19).  Yesus pun menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang DiriNya dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.
'Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam'.
Sebuah ucapan terima kasih terkatakan dari kedua orang yang mendapatkan perhatian dan pelayanan dari Orang yang baik hati, tetapi tidak dikenalnya; dan memang hanya orang-orang yang tahu bersyukur dan berterimakasih berani mengundang sesamanya untuk  'tinggal di rumahnya', terlebih bila 'hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam'. Ajakan itulah yang dikatakan kedua murid ketika mereka mendekati kampung yang mereka tuju. 'Yesus berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya', karena secara sengaja Dia menunggu umatNya untuk berani berkata-kata, bercerita dan mengundangNya datang ke rumah kediamannya.  
Undangan kepada Tuhan Yesus sungguh-sungguh mendatangkan rahmat dan berkat, sebab ajakan itu malahan memberi kesempatan kepada mereka untuk ambil bagian dalam Paskah bersama Kristus, yang bangkit dan hidup. Sebab pada waktu duduk makan bersama di rumah mereka, 'Yesulah yang mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka'. Mereka merayakan Paskah bersama Kristus dalam perjamuan Ekaristi. Mereka menerima  Tubuh Paskah, 'yang  sungguh-sungguh Makanan' (Yoh 6: 55); dan pada saat itu juga 'terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia'; keikutsertaan  dalam perjamuan membuat mereka semakin mengenal Sang Anak Domba Paskah  yang berbicara kepada mereka. 'Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?'; pembicaraan mereka tergenapi dalam Perjamuan bersama dengan Dia. Sungguh benarlah, yang ditegaskan oleh bapa-bapa Gereja dalam Konsili Vatikan II, bahwasannya perjamuan  Ekaristi adalah pusat dan puncak perayaan hidup kristiani, karena di dalamnya kita, umat yang dikasihiNya, berjumpa dengan Dia dalam Sabda dan TubuhNya.
Bila Yesus tiba-tiba 'menghilang dari tengah-tengah mereka', karena Dia, yang mengatasi ruang dan waktu, tidak mengikatkan diri lagi, Dia membataskan diri dalam waktu yang dibuat oleh manusia. KehadiranNya di Emaus adalah penyaksian diri akan kebenaran bahwa Anak Manusia, Kristus Tuhan telah bangkit dan hidup, kehadiran Allah dalam Paskah baru semakin terasa dinikmati oleh umat  yang berkumpul dan bersatu dalam perjamuan bersamaNya.
'Sungguh, Tuhan telah bangkit'.
Itulah pewartaan kedua murid, yang terus kembali ke Yerusalem. Kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.
 
Oratio :
Yesus Kristus, Engkau Mesias Putera Allah yang hidup, Engkaulah Anak Domba Paskah. Kami bersyukur kepadaMu, karena berkat kematian dan kebangkitanMu, kami memperoleh hidup baru, hidup kekal. Kiranya kami semakin menghayati rahmat pembaptisan yang menyelamatkan kami.
 
Contemplatio :
            Kristus bangkit dan hidup.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening