Pesta Maria mengunjungi Elizabet

31 Mei 2011
Zef  3: 14-18  +  Mzm 149  +  Luk 1: 39-56
 
 
 
Lectio :
Beberapa waktu setelah mendengar kabar sukacita berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.
Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."
Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.
 
 
Meditatio :
'Beberapa waktu setelah mendengar kabar sukacita berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda'.
Suatu perjalanan yang amat jauh yang dilakukan oleh seorang perempuan; entah dengan siapa Maria berangkat ke wilayah Yehuda, naik apa dia pergi ke kota dekat Yerusalem itu; diperkirakan jaraknya lebih dari 50 km; dan jalan antar kota tidaklah seperti di pulau Jawa sekarang ini. Dia berjalan dari daerah Galilea, melewati wilayah Samaria dan masuk daerah sekitar Yerusalem. Yesus saja mendapatkan perlawanan dari orang-orang Samaria ketika Dia beserta para muridNya diketahui hendak menuju ke Yerusalem. Maria ini memang seorang pemberani!  Ada kemauan segalanya bisa dilampaui.
Mengapa Maria mengunjungi Elizabet? Tidak disebutkan memang, namun paling sedikit dia mau berbagi kasih terhadap Elizabeth yang telah masuk dalam bulan keenam dalam masa penantiannya, secara sengaja Maria mau membantu dan menolong Elizabet yang sebentar lagi akan melahirkan seorang anak laki-laki. Secara sengaja pula dan bertekad bulat, 'Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya'.
'Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?'
Itulah tanggapan Elizabet atas salam yang diberikan oleh Maria. Apakah dia menggunakan kata keren  Shalom, yang dibangga-banggakan sebagian orang-orang kristiani sekarangini, karena sudah bisa berbahasa asing, maaf mungkin, karena gak mau kalah saingan dengan saudara-saudari kita yang bisa menggunakan bahasa asing. Gunakan bahasa ibu dalam menyapa seseorang, karena hati akan lebih berperan, dan suara akan semakin terasakan nyaman oleh telingah hati. Sapaan selamat pagi, selamat siang, selamat jalan, selamat tinggal terasa mengalir dalam jiwa mereka yang mendengarnya, bila diucapkan dengan hati, tidak hanya dengan bibir dan bahasa asing.
Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus. 'Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?'. Sambutan Elizabet ini adalah ungkapan iman akan Tuhan yang berbelaskasih, dia mampu melihat kehadiran Tuhan dalam diri Maria saudarinya, dan dia merundukkan diri di hadapannya. Elizabet, yang telah menikmati karunia agung, masih mampu melihat dan memandang seorang Maria, yang menikmati karunia lebih agung dan mulia dari dirinya, bahkan Elizabet mampu melihat kehadiran sang Tuhan dalam diri Maria yang masih muda belia ini, sebab Maria yang ada di depannya ini adalah ibu Tuhan datang mengunjungi dirinya!
Anak yang ada dalam rahim-nya melonjak kegirangan. Anak yang ada di dalam rahim Elizabet tahu bahwa Anak yang ada dalam rahim Maria, jauh lebih besar daripada dirinya; walau memang pada waktu itu sang bayi dalam kandungan Elisabet belum bisa berkata-kata 'membuka tali sandalNya pun aku tidak pantas' tentang sang Bayi yang ada di depannya. Bukan saja Elizabet yang mengungkapkan imannya, anak yang ada dalam rahimnya pun dengan berani mengungkapkan iman, sebab dia tahu bahwa Dia yang akan lahir sesudah dirinya jauh lebih besar daripadanya. Anak dalam kandungan Elizabet melonjak kegirangan, karena dia dikunjungi oleh seorang Anak yang seharusnya dikunjungi olehnya. Anak Elizabet sekarang ini akan dipersiapkan dan disambut  oleh Anak Maria, yang memang seharusnya dialah yang menyambutNya. Inilah misteri keselamatan yang seringkali tidak dapat diikuti oleh nalar manusia.
Keberundukan seseorang di hadapan orang lain adalah wujud penghormatan kepada seseorang yang memang patut dihormati, tetapi di balik semua itu, keberundukkan dirinya juga menunjukkan keluhuran hatinya yang mampu menempatkan diri di hadapan orang lain.
'Berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana'.
Maria dipuji bahagia oleh Maria karena kepecayaannya kepada kehendak Tuhan, sebab Maria sungguh-sungguh seorang yang beriman; dia menerima kabar sukacita dari Allah dan mengamininya, tidak seperti suaminya, Zakharia yang meragukan kabar sukcita yang diterimanya dan meminta tanda daripadaNya bahwa kehendak Tuhan itu akan terjadi pada diri isterinya. 'Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya' (Luk 1: 18). Allah pun memberi tanda kepada, 'Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya' (Luk 1: 20).
Demikian juga, berbahagialah setiap orang yang percaya kepada kehendak Tuhan, yang selalu baik adanya. Elizabet secara sengaja memuji bahagia setiap orang yang percaya kepada kehendak Tuhan, yang memang mendatangkan keselamatan itu.
Kiranya sukacita kedua perempuan ini pun menggenapi kehendak Tuhan sebagaimana dikatakan dalam kita Zefanya tadi: 'janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu. TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai, seperti pada hari pertemuan raya'. Mereka berdua bersukacita dan bergembira karena memang mereka merasakan kehadiran Tuhan di tengah-tengah perjalanan hidup mereka.
 
Oratio :
Yesus, ibuMu adalah orang yang sungguh-sungguh beriman, sebab dia berani mengamini segala kehendak Tuhan, dan berani juga membagikannya kepada orang lain. Dalam segi usia dan pengalaman hidup, dia memang harus berani belajar dari Elizabet yang penuh Roh Kudus itu. Sebaliknya, Elizabet pun merunduk di hadapan Maria, sang ibuMu.
Yesus, tambahkanlah keberanian iman kami. Amin.
 
Contemplatio :
Siapakah aku ini, sehingga Tuhan memperhatikan daku.
 
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening