Selasa Paskah III

10 Mei 2011
Kis 7: 51-60  +  Mzm 31  +  Yoh 6: 30-35
 
 
 
Lectio :
Kata  mereka, orang-orang yang mencari Yesus: 'tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga."
Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia."
Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa." Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.
 
Meditatio :
'Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: mereka diberi-Nya makan roti dari sorga."
Itulah tantangan yang diberikan kepada Yesus oleh orang-orang yang mendengarNya. Mereka menantang sebagai tanggapan atas perkataan Yesus sendiri: 'inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah',  sebagaimana kita renungkan kemarin. Mereka telah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Yesus telah menyembuhkan banyak orang dan memperganda roti. Namun mereka belum percaya juga akan pekerjaan-pekerjaanNya, malahan seperti yang dikatakan tadi, mereka membandingkan dengan keperkasaan Musa yang mampu menurunkan roti dari surge.
'Aku berkata kepadamu', sahut Yesus kepada mereka, 'sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia'. Musa memang yang berdoa dan meminta roti itu, tetapi yang memberikan adalah Bapa di surge. Bangsa Israel tinggal memungut dan memungut roti itu dan memakannya (Kel 16).
Peristiwa itulah yang kiranya diharapkan banyak orang sekarang ini, 'Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa'; mereka  hanya ingin memungut dan mengambil makanan tanpa berjerih payah, maka pantaslah kalau banyak orang memaksa Dia menjadi raja (Yoh 6: 15).    Benarkah demikian?    Tidak!   Melemahkan anugerah luhur yang sudah diberikan Tuhan kepada umatNya,  yakni akal budi dan kehendak bebas.
'Akulah roti hidup', tegas Yesus kepada mereka, 'barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi'. Yesus memberikan jaminan kepada mereka semua. Dialah roti hidup yang turun dari surge. Berani datang dan percaya kepadaNya berarti menikmati roti yang benar, pemberian dari Bapa di surge; dan lebih dari itu, barangsiapa berani datang kepadaNya dia tidak akan lapar dan haus lagi.
Perkataan yang sungguh-sungguh menjanjikan!
Dalam Kisah Para Rasul kita dengar:  Stefanus dengan berani dan tanpa takut sedikitpun menerima penderaan dan lemparan batu, karena memang dia hendak membuktikan kebenaran yang diyakininya, bahwa Yesus adalah kebangkitan. Dia tidak takut akan kematian, karena dia telah terlebih dahulu datang dan percaya kepada Kristus, sang Kebangkitan dan hidup; malahan ketika dirajam, dia berdoa dan merelakan dirinya, katanya: 'ya Tuhan Yesus, terimalah rohku', dan dengan ikhlas pula dia mendoakan mereka yang merajamnya: 'Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!'; sebuah doa menutup dan mengakhiri hidupnya.
'Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa', kiranya juga menjadi seruan kita bersama, tetapi bukan sekedar roti yang dinikmati oleh bangsa Israel di padang gurun dan mereka mati, tetapi Roti hidup, yang  memberi  kehidupan.
 
Oratio :
Yesus Kristus, kami cenderung hidup bersenang-senang; kami mohon, ajarilah kami, ya Yesus, agar kami tidak mendambakan kesenangan yang fana ini, atau pun selera yang menggebu-gebu untuk menikmati  makanan yang membuat kami biasa, melainkan ajarilah  kami merindukan makanan yang memberi kehidupan abadi, yakni Roti hidup.
Yesus, ajarilah kami untuk semakin berani percaya dan datang kepadaMu, amin.
 
Contemplatio :
            'Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa'
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening