Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

24 Juni 2011
Yes 49: 1-6  +  Kis 13: 22-26  +  Luk 1: 57-66.80
 
 
 
Lectio :
Genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia.
Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, tetapi ibunya berkata: "Jangan, ia harus dinamai Yohanes." Kata mereka kepadanya: "Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian." Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: "Namanya adalah Yohanes." Dan mereka pun heran semuanya. Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: "Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia. Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel.
 
 
Meditatio :
'Genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia'.
Kelahiran bayi memang selalu membawa sukacita, kehadiran sang buah hati membuat keluarga bersorak-sorai. Demikianlah kelahiran anak Elizabet. Selain dia adalah seorang isteri Zakharia, imam agung, Elizabet mengandung sang buah hati di usianya yang sudah lanjut, dan dimulai dengan peristiwa yang menggemparkan, dengan penampakkan malaikat  Tuhan kepada Zakharia (Luk 1: 8-23). Kelahiran sang bayi laki-laki itu membahagiakan banyak orang, 'tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia'.
'Ia harus dinamai Yohanes!'
Itulah keberanian seorang perempuan tua, Elizabet, pemilik sang buah hati, yang tetap tegas pada pendiriannya. Dia pasti sudah mendengarkan sharing pengalaman suaminya. Elizabet tidak mau goyah dengan 'suara-suara kata orang', termasuk para saudara dan orang-orang yang berada di sekelilingnya, yang lebih mengutamakan tradisi keluarga dengan memaksa menamai anak itu Zakharia, pada hari kedelapan saat menyunatkan anak itu. 'Tidak, ia harus dinamai Yohanes!', tegasnya. Elizabet tetap berkeras hati kepada kehendak Tuhan, walau memang 'tidak ada di antara sanak saudaranya yang bernama demikian'.  Yohanes adalah kemauan Tuhan Allah!  Dengan mengaku diri sebagai seorang beriman, memang seseorang ditantang lebih berani mendengarkan dan mengutamakan suara Tuhan dan kehendakNya, dan bukannya suara-suara keluarga yang seringkali terpaut pada tradisi lama.  Keberanian Elizabet haruslah menjadi keberanian bagi bapa ibu, yang mengkomandani bahtera keluarga, dan meneguhkan kesiap-sediaan diri untuk dikucilkan keluarga, karena mengutamakan kehendak Tuhan.
Apalah hak seorang ibu dalam keluarga? 'Kadit neam kau' (=gak main kau),  mungkin ucapan pedas itulah yang didengar Elizabet dari para tetangganya, seandainya dia tinggal di tengah-tengah arema. Sekali lagi, 'tidak ada di antara sanak saudaranya yang bernama demikian'. Akhirnya, 'mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu'. Suamilah sang pemimpin rumahtangga, dialah pemberi keputusan terakhir dalam keluarga. 'Namanya adalah Yohanes', itulah kata-kata yang dicoretkan Zakharia pada batu tulis. Mereka pun heran semuanya!
Dan lihatlah, 'seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah'. Zakharia yang bisu sekarang bisa berkata-kata dan bersorak-sorai. Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: 'menjadi apakah anak ini nanti?'.  Sebab tangan Tuhan menyertai dia.
Kelahiran Yohanes memang membuat dunia gonjang-ganjing (Jw: gegap gempita), banyak orang bersorak-sorai karenanya; banyak orang bertanya-tanya, karena kekaguman mereka. Sepertinya kelahiran Yohanes lebih meriah dan lebih semarak dibandingkan dengan kelahiran Yesus, sang Al Masih. Dia hanya lahir di sebuah palungan, tak ada seorang pun yang memperbincangkannya: 'menjadi apakah Anak ini nanti?'.  
'Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel'. Namun demikian, Yohanes tidak menggunakan dukungan publik itu untuk kepentingan dirinya. Dia tidak mau menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Dia bukan seorang politikus. Yohanes adalah salah seorang yang tahu menempatkan diri. Dengan sadar dan tegas, dia mengatakan: 'aku bukan Mesias' (Yoh 1: 20), 'aku bukanlah Dia yang kamu sangka, tetapi Ia akan datang kemudian dari padaku. Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak' (Kis 13: 25). Yohanes amat sadar akan tugasnya yang hanya membawa setiap orang kepada pertobatan mempersiapkan kedatangan sang Al Masih, sebagaimana dikatakan dalam bacaan kedua tadi. 'Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan' (Luk 3: 16-17).
Kiranya sabda Tuhan melalui nabi Yesaya, sebagaimana dalam bacaan pertama tadi: 'sekarang firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepadaNya, dan supaya Israel dikumpulkan kepadaNya, maka aku dipermuliakan di mata TUHAN, dan Allahku menjadi kekuatanku, firman-Nya: terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi', juga menjadi kesadaran penuh dari Yohanes pembaptis. Dia tahu benar Siapakah Dia yang dinanti-nantikan oleh dunia dan seisinya, dan bukan dirinya.
Pesta kelahiran Santo Yohanes Pembaptis mengingatkan dan mengajak kita untuk bersikap rendah hati dalam pergaulan dengan sesame. Yohanes tahu atas segala kemampuan yang dimilikinya, sebab memang dia 'adalah nabi Allah Yang Mahatinggi; yang akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka' (Luk 1: 75-77). Dia menggunakan segala kasih karunia yang dimilikinya, dan tetap taat dan setia hanya pada tugas yang diberikan kepadanya, dan tidak yang lain.
 
 
 
 Oratio :
 
Yesus, ajarilah kami bersikap rendah hati dan berani menerima keberadaan diri, sebagaimana diteladankan Yohanes Pembaptis. Ajarilah kami untuk mudah berkata: biarlah aku semakin menjadi kecil dan dia semakin bertambah besar.
Yesus  sucikanlah hati kami.  Amin.
 
Contemplatio :
          Sesudah aku akan datang Dia yang lebih besar daripadaku.
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening