Hari Raya Pentakosta

12 Juni 2011
Kis 2: 1-11  +  1Kor 12: 3-7.12-13  +  Yoh 20: 19-23
 
 
 
Lectio :
Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.
Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."
 
 
Meditatio :
'Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya'.
Itulah lukisan monumental, yang diberikan Lukas, sungguh amat menarik. Kehadiran ilahi yang mengatasi kemampuan kodrati manusia seperti adanya lidah-lidah api dan  kemampuan berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain amat tampak dan dapat ditangkap oleh indera manusia. Dan inilah yang perlu kita catat:  'Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit, dan mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri'. Kehadiran Roh Kudus membuat seseorang dimengerti oleh orang lain, karena Roh itu menyatukan dan memampukan seseorang berbahasa kasih!
Roh itu menyatukan dan memampukan seseorang berbahasa kasih!
Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus menjelaskan: memang 'ada rupa-rupa karunia, ada rupa-rupa pelayanan, ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama'. Keberanekaragaman karunia, pelayanan dan aneka perbuatan ajaib dilimpahkan kepada GerejaNya yang kudus oleh Allah sendiri. Namun tidak semua orang menerima yang sama, melainkan yang satu berbeda yang lain. Semuanya diberikan dan dihidupkan oleh Roh Tuhan, yang satu dan sama; semuanya itu dipersembahkan untuk kepentingan GerejaNya dan bukan kepentingan perseorangan atau kelompok tertentu. Roh itu menyatukan dan memampukan seseorang berbahasa kasih!
Seorang penikmat kasih karunia Allah pertama adalah seorang merasakan adanya pemberian Allah dalam dirinya, dia selalu berani bersyukur dan bersyukur karena pemberian Allah itu; kedua ia menerima dan mengakui kenyataan bahwa ada orang lain yang menerima juga pemberian dari Tuhan, bukan hanya dirinya, yang mungkin pemberianNya itu berbeda dengan yang diterima dirinya, bahkan mungkin lebih agung dan mulia daripada yang dimiliki dirinya, karena itu dia tidak akan menyombongkan diri dan memandang rendah orang lain, malahan ketiga ia siap membagikan karunia yang indah kepada orang lain, yang ada di sekitarnya, karena memang semuanya itu diterima dan 'dikaruniakan sebagai penyataan Roh untuk kepentingan bersama'.
Hari Raya Pentakosta adalah hari raya kesatuan dan keutuhan Gereja karena dilahirkan dan dihidupkan oleh Roh yang satu dan sama. 'Sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh'. Hari Raya Pentakosta bukanlah kenangan akan peristiwa yang dilukiskan oleh Lukas, yang memang mengambil alih pesta Pentakosta Yahudi yang menyatukan banyak orang; bagaimana terjadinya peristiwa itu bukanlah perhatian utama; perhatian lebih diarahkan kelahiran dan kehidupan Gereja ada dalam kuasa Roh Kristus yang bangkit dan hidup!   Sebab semenjak RohNya tinggal dalam diri kita, kita 'dapat mengaku dan berseru: Yesus adalah Tuhan'.
          Hari Raya Pentakosta bukanlah kenangan akan peristiwa yang dilukiskan oleh Lukas. Pentakosta adalah kenangan akan kehadiran Roh Kristus yang kudus dalam diri GerejaNya. Yohanes malahan secara sederhana menceritakannya sebagai perjumpaan pribadi antara Kristus dan umat yang dikasihiNya. Pada saat itu  'Ia mengembusi para muridNya dan berkata: terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada. Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu'. Pentakosta adalah peristiwa iman, yang mana Gereja diingatkan akan kelahiran, kehidupan dan perutusannya dalam RohNya, yakni berbagi kasih.
          Roh itu menyatukan dan memampukan seseorang berbahasa kasih!
 
 
 
 Oratio :
 
 Yesus Kristus, kuasailah kami dengan RohMu yang kudus agar kami menjadi orang-orang penikmat kasih karuniaMu dan siap membagikannya kepada orang  lain demi GerejaMu yang satu, kudus, katolik dan apostolik.
 
 
Contemplatio :
Roh itu menyatukan dan memampukan seseorang berbahasa kasih!
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening