Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

25 Juni 2011
Ul 8: 2-3.14-16  +  1Kor 10: 16-17  +  Yoh 6: 51-58
 
 
 
Lectio :
Yesus  berkata kepada semua orang, kataNya: "Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."
Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan."
Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya."
 
 
Meditatio :
'Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia'.
Perkataan Yesus ini menggoncangkan banyak orang yang mendengarkanNya. Bertengkarlah  antara sesama mereka dan berkata: 'bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan'. Wajarlah mereka semua merpertanyakan kehendakNya.
Dengan tegas Yesus menyatakan: 'Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, pertama, ia mempunyai mempunyai hidup, kedua, mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman, ketiga, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku'.
Jangan ragu dan gentar, 'sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman'.  Penyataan itu diungkapkan Yesus secara nyata sekali lagi, ketika bersama para muridNya Dia mengadakan perjamuan malam. Ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: 'Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku. Demikian pula, Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: 'Minumlah, kamu semua, dari cawan ini' (Mat 26: 26-27). Penyataan Yesus ini sekaligus menanggapi kegalauan orang-orang yang mendengarkanNya tadi. Roti itu benar-benar tubuhNya, dan anggur dalam cawan itu benar-benar minuman. Doa berkat yang dipanjatkan Yesus sungguh-sungguh mengubah kodrat dan hakekat roti dan anggur. Inilah peristiwa transubstansi! (perubahan kodrat). 'Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya'.
Roti yang diberikanNya ini berbeda sungguh roti lainnya; kalau roti manna sengaja diberikan agar kita 'mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN', sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama tadi, sebaliknya dalam Injil hari ini, Yesus malahan mewajibkan setiap orang yang percaya kepadaNya, makan daging dan minum darahNya. Yesus mewajibkan, karena memang Dia menghendaki kita beroleh selamat, beroleh hidup kekal.
Ada baiknya kita pertajam kemauan Yesus ini dengan penyataanNya sendiri yang dikemukakan di suatu kesempatan lain; sebab bukankah dengan 'percaya kepada-Nya kita tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3: 15-16), dan bukankah dengan 'melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga, kita diperkenankan memasuki Kerajaan Surga' (Mat 7: 21). Mengapa Yesus masih begitu menekankan kita makan daging dan minum darahNya?
Saya secara berani menyatakan: Yesus bukanlah anggota NATO (not action talk only), Dia memang menyampaikan kehendak Bapa, tetapi juga melaksanakan segala yang menjadi kehendak Bapa di surge. Dia tidak hanya menyatakan tentang pemanggulan salib untuk beroleh keselamatan, Dia sendiri malahan mau memanggul salib dosa kita, dan bahkan mati di kayu salib demi keselamatan kita manusia. Yesus menyerahkan nyawa menjadi tebusan seluruh umat manusia; dalam kurban salib, Dia menampakkan secara nyata dan lugas kurban hidup dan darahNya, dalam Ekaristi yang membaharui kurban Paskah Perjanjian Lama, Dia menyerahkan tubuh dan darahNya, yang tampak nyata dalam roti dan anggur, 'yang sungguh-sungguh makanan dan sungguh-sungguh minuman'.
Dengan makan tubuh dan darahNya, Kristus mengajak kita juga ambilbagian dalam hidupNya secara penuh, yang tampak nyata dalam perayaan Ekaristi, di mana kita tidak hanya mendengarkan sabdaNya, tetapi kita juga menerima santapan 'roti yang turun dari surga'; dalam Ekaristi, pertama, kita diberi kesempatan untuk mengubah tubuh kita yang fana ini dengan tubuh dan darahNya yang abadi, kedua, kita siap menjadi kurban syukur seperti kurban Kristus sendiri, yang memang adalah ungkapan nyata dari cinta kasihNya, 'tidak ada cinta yang lebih besar daripada cinta seorang yang menyerahkan nyawa bagi sahabat-sahabatnya'.
Dalam Ekaristi, kita makan bersama Kristus sang Pengorban dan sekaligus Kurban kudus. Ekaristi adalah Perjamuan Syukur, kita tidak hanya mendengar dan mendengar, kitapun diundang untuk bersekutu. Paulus yang begitu intense dengan perayaan Ekaristi ini, menegaskan: 'bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu'.
          Karena itu, salah satu keunggulan semua orang yang setia menikmati perjamuan bersamaNya adalah kesatuan hati dan budi, satu jiwa. Paguyuban kristiani menandai kita adalah penikmat-penikmat  perjamuan bersamaNya. Keutuhan diri sebagai anggota Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik seharusnya lebih tampak daripada mereka yang hanya menjadi pendengar sabda. Kesatuan dalam kurban altar kiranya harus semakin tampak dalam kata dan tindakan, perilaku dan karya. Dalam Ekaristi, kita beroleh sabda dan roti yang turun dari surge, jiwa raga kita diteguhkan dan disempurnakan;  maka tepatlah yang dikatakan santo Pius X,  bahwa Ekaristi adalah jalan paling singkat menuju surge, sebab jiwa raga kita dikuduskan.
 
 
 
 
 Oratio :
 
Yesus, buatlah kami orang-orang yang setia  menikmati tubuh dan darahMu, karena memang kami ingin menjadi kurban pujian yang menyenangkan hatiMu. Kami adalah orang-orang yang merindukan selalu tinggal bersamaMu, ya Yesus Tuhan kami.
Tambahkanlah iman kami agar semakin setia dan terpacu oleh kerinduan yang luhur dan mulia itu, dan kami beroleh keselamatan dari padaMu.
 
Contemplatio :
          Makanlah dan Minumlah, sebab dagungKu benar-benar makanan dan darahKu benar-benar minuman.
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening