Kamis Masa Biasa XII

23 Juni 2011
Kej 16: 1-16  +  Mzm 106  +  Mat 7: 21-29
 
 
 
Lectio :
Yesus berkata: "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"
"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."
Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.
 
 
Meditatio :
'Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga'.
Melakukan kehendak Bapa di surge amatlah penting dan mendasar dalam hidup ini, terlebih dalam beroleh keselamatan, masuk dalam Kerajaan Surga. Yesus sendiri mengakui: 'Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku' (Yoh 6: 38), dan 'itulah makananKu' (Yoh 4: 34). Demikianlah juga Dia meminta agar kita berani melakukan kehendak Bapa, sebagaimana Dia telah melakukannya; tidak cukup hanya sebagai pendengar-pendengar sabda yang menipu diri (Yak 1: 22), tidak cukup pula hanya dengan berseru Tuhan, Tuhan!.
Memang benar, bisa saja orang mendengarkan dan mendengarkan tetapi tidak melakukan kemauan dan kehendak Tuhan, bisa juga seseorang memanggil-manggil nama Tuhan, tetapi tidak mau melaksanakan perintah-perintahNya. Kiranya pengalaman yang membahagiakan bagi setiap orangtua, bila nasehat dan ajarannya didengarkan dan dilaksanakan oleh putera-puterinya.
Apakah dengan demikian Tuhan Bapa di surge itu egois?
Ya benar, Tuhan Allah kita itu amat-amat egois! Hanya orang-orang yang mau mendengarkan dan melakukan kehendakNya itulah yang beroleh keselamatan daripadaNya. Sebab memang hanya Dialah sang Pencipta dan Penyelamat, dan tidak ada yang lain. Namun Tuhan yang berbelaskaih tetap memberi kebebasan kepada setiap orang untuk tidak taat kepadaNya.
'Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!', tegas Yesus.
Lihat, sungguh menarik! Sangat mentakjubkan!  Mereka yang menerima aneka karunia seperti mampu bernubuat, mengusir setan dan mengadakan banyak mujizat demi namaNya pun bisa tidak akan menikmati sukacita abadi, bila memang tidak melaksanakan kehendakNya. Mereka menikmati anugerah Tuhan, tetapi tidak mendapatkan keselamatan. Dengan demikian kiranya menjadi pemaham kita bersama bahwa anugerah Tuhan ternyata juga diberikan kepada orang-orang yang tidak berkenan kepadaNya. Sungguh murah hati Bapa di surge! Dia memang tidak membeda-beda umatNya dalam menerima anugerah-anugerahNya; sinar mentari dan hujan diberikanNya kepada orang-orang yang baik dan jahat (Mat 5: 45).
Mereka yang diperkaya oleh pelbagai anugerahNya juga tetap mampu melakukan kejahatan dan tipudaya, karena memang bukan kehendak Allah yang menjadi pegangan hidupnya, melainkan hanya anugerah-anugerahNya. Anugerah-anugerahNya mampu membuat seseorang tenggelam dalam kejahatan dan bahkan berhias dan berbulu domba, sebagaimana kita renungkan kemarin, bila memang tidak tetap berpaut kepada kehendak Allah yang menyelamatkan. Menikmati anugerahNya, tetapi tidak mau mengikuti apa yang dikatakan sang Pemberinya akan mendatangkan teguran yang tidak mengenakkan. Terhadap mereka dengan tegas Yesus menyatakan: 'Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!'
'Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya', sabdaNya. Mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya  akan memberikan kenyamanan dan perlindungan hidup.
Kegelisahan sebuah keluarga memang, bila tidak mendapatkan karunia anak. Demikianlah yang dirasakan 'Sarai, isteri Abram itu, yang tidak mempunyai anak', sebagaimana diceritakan dalam bacaan pertama tadi. Apakah kehadiran seorang anak di tengah keluarga sebagai bukti cinta kasih dan perhatian Tuhan?   Ya, benar!   Walau, tak mampu merasakan kehausan jiwa seorang ibu, dengan berat saya pun mengatakan, bukan satu-satunya. Kalau  pun berat juga untuk mengatakan 'itu kehendak Tuhan', baiklah kita yakin bahwa Tuhan Allah akan mengatur. Dia mempunyai rencana tersendiri.
          Tuhan Allah yang lamban menepati janjiNya itulah yang sering tidak kita mengerti. Allah pun sadar akan semuanya itu! Dalam pengalaman Abraham,  Allah pun tidak menghukum dirinya, Sarai dan Hagar, hambanya. Sungguh, hanya kehendak Tuhan yang menyelamatkan!
 
 
 
 
 Oratio :
 
Yesus, ajarilah kami menjadi pelaku-pelaku sabdaMu, dan bukannya pendengar-pendengar sabda yang sering menipu diri. Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku, menurut perkataanMu. Kiranya kemauan dan keberanian Maria ini juga menjadi keberanian kami dalam melakukan kehendakMu.  Amin.
 
Contemplatio :
          Dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga, dia yang masuk dalam Kerajaan Surga.
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening