Kamis Masa Biasa XIII

30 Juni 2011
Kej 22: 1-19  +  Mzm 115  +  Mat 9: 1-8
 
 
 
Lectio :
Suatu hari naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri.
Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni." Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: "Ia menghujat Allah." Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: "Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" -- lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu --: "Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" Dan orang itu pun bangun lalu pulang.
Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia.
 
 
Meditatio :
'Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni'
Kata-kata inilah yang diucapkan Yesus kepada seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Dia orang Nazaret. Keberanian orang lumpuh itu dibopong oleh teman-temannya menghadapNya dirasakan Yesus sebagai pengalaman iman. Benarlah memang, hanya orang yang mempunyai iman, berani datang kepadaNya, memohon kepadaNya.
'Ia menghujat Allah', kata beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya. Memang benar yang dikatakan oleh mereka ini: hanya Allah yang berhak, mampu dan berkuasa mengampuni dosa-dosa umat manusia. Tindakan orang Nazaret ini sungguh-sungguh menghujat Allah! Kalau pun tokh Dia ini Mesias, mengapa Dia bertindak demikian? Kesulitan para ahli Taurat adalah menerima kenyataan ilahi,  yang di luar kemampuan nalar mereka; mereka terikat akan gambaran lampau tentang Mesias, karena memang gambaran itu tertera jelas dalam Kitab Suci. Kata-kata dan tindakan Yesus Mesias yang sekarang ini tidak sama persis sama, dan malahan melebihi dari apa yang termaktub dalam Perjanjiaan Lama, maka amatlah sulit dimenegerti dan bahkan diterima mereka. Suatu pembelajaran bagi kita untuk berani menerima ide, gagasan, program dan bahkan tindakan yang baru dan cemerlang, walau jauh-jauh sebelumnya semuanya itu belum pernah terbayangkan;  dan kenyataannya, keunggulan dalam EQ (emotional equivalen) lebih mudah menerima reformasi kehidupan daripada mereka yang mengandalkan IQ (intellectual qualiaty).
Yesus, yang mengetahui pikiran mereka, berkata: 'mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa'. Intense inilah yang hendak dinyatakan oleh Yesus, bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa, karena memang Dialah Allah yang menjadi manusia.
Kalau ditanyakan: mana yang lebih mudah dikatakan mengampuni atau menyembuhkan? Bagi Yesus, bukanlah soal semuanya itu. Namun kiranya dengan pengampunan dosa menunjukkan siapakah Dia itu sebenarnya! Dia bukan saja seorang nabi, yang berkuasa atas untuk bernubuat dalam aneka pengajaran, Dia pun juga bukan sekedar Seorang pembuat mukjizat dan mampu mengusir setan. Dialah Allah, yang menyatakan diri sehingga dapat dilihat, didengar dan diraba oleh manusia (1Yoh 1: 1). Dia memang datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Luk 19: 10).
'Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!', kata Yesus kepada orang lumpuh itu, dan orang itu pun bangun lalu pulang. Yesus membuat segala-galanya menjadi indah! Maka orang banyak  yang melihat hal itu menjadi takut, lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia.
Berani datang kepada Yesus adalah pengalaman iman. Bila sebuah peristiwa yang sulit ditangkap oleh nalar itu adalah peristiwa yang indah, akan mudah dilaksanakan, sebagaimana dialami oleh orang lumpuh itu, dia mengharapkan kesembuhan dan ia akan mudah tergerak untuk melakukannya. Tidaklah demikian, bila pengalaman iman itu harus berhadapan dengan perisitwa pahit dan bertentangan dengan pengaharapan kita. Abraham yang sudah dijanjikan menjadi bapa bangsa dan keturunannya bagaikan bintang di langit dan pasir di laut, kini harus berani menerima kenyataan, ketika Tuhan meminta ungkapan cinta dan perhatiannya, yang katanya hanya tertumpu kepada Tuhan. Kata Tuhan Allah kepadanya: 'ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu'.
          Dan lihat, dengan taat dan setia Abraham mengamini apa yang dikehendaki Tuhan; yang tentunya dia tidak bertindak bodoh dan semudah itu mengaminiNya, melainkan pasti adanya pergulatan hidup untuk mengaminiNya. Namun kiranya memberi pembelajaran bagi kita bahwasannya mengamini hal-hal yang indah tidaklah sulit, apalagi kalau memang sudah menjadi harapan kita, dan kita dalam keadaan lemah dan terjepit; tetapi tidaklah mudah, bila kita dihadapkan dengan peristiwa yang pahit dan tak masuk akal, dan tak sesuai dengan kemauan dan keinginan sehat kita.
 
 
 
 
 Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus, hari demi hari Engkau singkapkan kepada kami misteri agung dan kemuliaanMu. Semoga penyingkapan ini semakin membuat  kami untuk percaya kepadaMu dan menaruh harapan  kepadaMu, terlebih bila kami harus menghadapi peristiwa pahit dan menjengkelkan, sebagaimana dihadapi oleh Abraham bapa kami. Amin.
 
 
Contemplatio :
          Imanmu telah meyelamatkan engkau.
 
 


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening