Sabtu Masa Biasa XII

25 Juni 2011
Kej 18: 1-15  +  Mzm  +  Mat 8: 8-17
 
 
 
Lectio :
Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita." Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya." Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya."
Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi." Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.
Setibanya di rumah Petrus, Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangunlah dan melayani Dia. Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita."
 
 
Meditatio :
'Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh'.
Inilah ucapan iman seorang perwira. Dia memang datang kepada Yesus dan memohon kepada-Nya: 'Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita'. Seorang perwira mengurusi seorang hamba, dan bukan orang bawahan dalam profesinya. Seorang tuan besar dan masuk dalam struktur pemerintahan masih mau memperhatikan dan mencarikan kesembuhan bagi seorang hambanya. Sungguh, dia itu orang yang baik hati.
'Aku akan datang menyembuhkannya', jawab Yesus kepadanya. Dengan rela hati juga Yesus menanggapi permintaan perwira itu.'Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh'. Dia tidak berani menerima Yesus yang mau datang ke rumahnya; bukan karena tidak mau menerima, melainkan karena dia merasa tidak layak menerimaNya. 'Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya'.
Sungguh luar biasa orang ini. Dia orang hebat, bukan karena kepandaian dan pangkatnya yang tinggi, melainkan karena kerendahan hatinya, dan mau merundukkan diri di hadapan Tuhan Yesus. Yesus sendiri merasa heran atas sikap perwira ini, lalu berkatalah Dia kepada mereka yang mengikutiNya: 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel'. Yesus heran, karena memang sang perwira ini, bukanlah orang Israel, bukan dari kumpulan orang-orang terpilih, bukan termasuk orang-orang yang dibanggakan, dia bukan termasuk pula orang-orang yang mampu 'bernubuat demi namaNya, dan mengusir setan demi namaNya, dan mengadakan banyak mujizat demi namaNya juga' (Mat 7: 22), sebagaimana kita renungkan 2 hari lalu. Di luar orang-orang yang terpilih ternyata ada orang yang suci, baik dan benar.  Di luar Gereja ada keselamatan. Itulah kehendak Tuhan!
'Aku berkata kepadamu', sambung Yesus, 'banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi'.   'Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya', jawab Yesus menanggapi permintaan sang perwira itu; dan memang benar sembuhnya hamba perwira itu.
Malam itu juga Yesus pun menyembuhkan ibu mertua Petrus, mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: 'Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita'.
Iman memang mengatasi akal budi, namun bukan melemahkan, melainkan saling melengkapi satu sama lainnya. Keberanian sang perwira tadi datang kepada Yesus dan memohon kesembuhan bagi hambanya, hanya karena dia percaya dan percaya bahwa Yesus mampu membuat sesuatu yang indah. Dia datang kepada Yesus, karena percaya. Dia percaya segalanya bisa terjadi pada dirinya, yakni hambanya sembuh, karena Yesus.
          Tidaklah demikian dengan Sarai, ketika dia mendengar bahwa sesuatu, yang diharapkan keluarganya jauh-jauh sebelumnya, akan terjadi pada dirinya, apalagi mengingat ketidakberdayaan dirinya, dia menertawakan dirinya. Mana mungkin bisa terjadi pada dirinya. Ini berarti dia melawan kehendak Tuhan terhadap dirinya.
          Ketika Sara mendengar firman Tuhan: 'sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki', tertawalah dia dalam hatinya, katanya: 'akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?'. Mengapakah engkau tertawa?  'Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk TUHAN?', tegur Tuhan, walau Sara tetap menyangkal.
 
 
 
 
 Oratio :
 
Yesus, tambahkanlah iman kepercayaan kami kepadaMu, agar kami mudah menyerahkan hidup dan segala rencana kami kepadaMu. Kami percaya Engkau Mahakuasa dan murah hati, tetapi hati ini begitu mengandalkan diri dan terlalu rasional.
Yesus, lembutkanlah hati dan budi kami.
 
Contemplatio :
          Katakanlah sabdaMu kepada kami, ya Tuhan, maka kami akan selamat.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening