Selasa Masa Biasa XII

21 Juni 2011
Kej 13: 5-18  +  Mzm 15  +  Mat 7: 6.12-14
 
 
 
Lectio :
Yesus berkata: "Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu."
"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.
Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya."
 
 
Meditatio :
'Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu'.
Hanya orang-orang bodohlah yang bertindak demikian; memberikan sesuatu yang tidak tepat sasaran, bertindak sembrono dan sembarangan aja; sebab bagaimana dapat dimengerti memberikan barang kudus kepada anjing? bagaimana memberikan mutiara kepada babi, karena bukan makanannya, malahan bisa-bisa babi itu akan menyerangnya?
Apakah mungkin itu terjadi? Bahasa kiasan itu dimaksudkan agar kita bertindak secara proporsional dalam melakukan sesuatu. Tak jarang memang kita bertindak secara asal-asalan sesuai dengan selera pribadi, walau sebenarnya kita tidak menemukan kenikmatannya. Tidak ada larangan bagi seseorang untuk mencampur rujak manis dan soto dalam satu piring dan menikmatinya; jujur, tidak ada kelezatannya. Tidak ada larangan untuk makan siobak sebanyak-banyaknya, enak dan lezat memang, tetapi kiranya tidak menenteramkan kesehatan. Pilihan tindakan yang tidak proporsional tidak memberikan makna yang indah bagi diri seseorang, walau mungkin memberikan kesenangan sesaat.
Ada teman-teman kita yang begitu gemar mempraktekan aneka macam metode doa. Mereka merasa bangga dapat berdoa dan berdoa dengan aneka macam metode dan teknik yang dipilihnya. Ada banyak orang pun bangga telah mampu melambungkan doa dengan aneka permohonan, dan merasa terpuaskan dapat memanjatkannya dalam doa bersama-sama komunitas. Ada baiknya kita memfokuskan segala usaha doa kita sebagaimana dipesankan Tuhan yang kita dengarkan melalui pembacaan Kitab Suci. Kemarin Yesus meminta kita agar tidak mudah menghakimi sesame; saat itu tepatlah kita renungkan: sejauhmana kita bertindak dan bersikap dalam pergaulan sehari-hari, apakah kita mudah main telunjuk kepada sesame kita, dan kita mohon rahmat kasihNya, agar kita tidak mudah jatuh dalam dosa itu, malahan memohon agar kita dapat mampu melihat kehadiranNya dalam diri sesame kita. Kita arahkan doa-doa kita kepada kemauan Tuhan untuk tidak mudah menghakimi itu, dan percayalah yang lain kiranya akan ditambahkanNya kepada kita.
'Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi'.
Benarlah penyataan Yesus ini. Kebutuhan untuk diperhatikan, dilayani dan dihormati memang ada dalam diri setiap orang. Namun amatlah baik, kalau kita berani mendahului memberikan semuanya itu kepada orang lain, atau pun minimal kita berani membalas kasih setiap orang, yang telah banyak berbuat baik kepada kita. Tuhan Allah tidak pamrih dalam memperhatikan kita. Karena memang Allah adalah Kasih, dan Kasih itu adalah Allah. Dia tidak hanya bertindak hanya berdasarkan kemauan dan keinginan kita. Karena Allah memang murah hati. Ada baiknya, bila bermohon dan bermohon itu, kita mengikuti kehendakNya. Bukankah Yesus sendiri telah mengajarkannya dalam doa Bapa Kami: 'jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga'?  Kita  mengamini doa Bapa Kami  kalau memang kita juga mau mendahulukan dan  mengikuti kehendak dan kemauan Tuhan Bapa di surge, dan bukannya kemauan diri sendiri.
 
'Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya'.
Tidak mudah mengamini kehendak Tuhan Bapa yang berbelaskasih; tidak mudah pula menyelaraskan nada doa kita dengan suara lantunan Tuhan yang menyampaikan kehendakNya. Roh itu penurut dan daging ini lemah. Tepatlah kalau Yesus tadi mengingatkan kita untuk setia mengikuti kehendakNya bagaikan orang  memasuki pintu yang sempit dan harus berdesak-desakan untuk mendapatkan sesuatu yang indah.
'Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka'. Perintah ini dipraktekkan secara konkrit oleh Abraham ketika meminta Lot saudaranya untuk menentukan pilihannya terlebih dahulu dalam menempati daerah penggembalaan. Abraham yang sudah berusia, lebih banyak mempunyai pengalaman, lebih dikasihi Tuhan, berani mendahulukan Lot yang masih muda. 'Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri'. Abraham menghendaki pendamaian dari Lot, saudaranya, maka ia pun memberikan yang terbaik bagi Lot untuk memilih bagian terindah bagi dirinya sendiri.
          Keberanian dan kerelaan Abraham meneguhkan panggilan yang telah didengar-dengar sebelumnya. Yang meneguhkan adalah Tuhan Allah sendiri. SabdaNya: 'pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmu pun akan dapat dihitung juga. Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu'.
 
 
 
 Oratio :
 
Yesus, ajarilah kami semakin hari semakin bijak dalam bertindak, agar kami dapat menikmati hasil buah tindakan kami sendiri, namun terlebih kami berani menyukakan hati setiap orang yang ada di sekitar kami.  Yesus jadikanlah kami berkat bagi sesame kami.  Amin.
 
Contemplatio :
          Jadikanlah aku pembawa damai.
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening