Hari Minggu Biasa XVI

17 Juli 2011
Keb 12: 13.16-19  +  Rom 8: 26-27  +  Mat 13: 24-30
 
 
 
Lectio :
Yesus membentangkan suatu perumpamaan kepada mereka semua, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu.
Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?
Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku."
 
 
Meditatio :
'Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai'.
Jawaban itulah yang diberikan oleh sang empunya tuaian menanggapi pertanyaan: 'maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?'. Keduanya dibiarkan tumbuh dan berkembang bersama-sama. Semenjak awal Allah menghendaki segalanya baik adanya. Dan memang kenyataan hidup sekarang ini, seperti yang digambarkan dalam perumpamaan tadi. Ada orang jahat ada orang baik, semuanya hidup bersama-sama dan serentak dalam tempat dan waktu yang sama.
Bukanlah tidak mampu Allah memutar-balik semua orang menjadi baik adanya. Bukan tidak mampu juga Allah membuat semua orang hanya mempunyai iman dan agama yang satu dan sama. Allah membiarkan umatNya dalam keberagaman hidup. Allah malahan mengajak setiap orang untuk mampu melihat sesame apa adanya: dia ternyata lebih baik dari saya, dia itu lebih berhasil dan sukses daripada saya, dia lebih rajin dan cekatan daripada saya, dia lebih sengsara dan menderita daripada saya; saya berbeda dengan dia dan dia berbeda dengan saya. Keberanekaragaman hidup seharusnya membuat orang untuk berpacu untuk belajar dan belajar tentang kehidupan: bagaimana hidup saya ini harus lebih baik lagi dan bagaimana saya bisa menerima dan memahami orang lain, entah yang unggul dari saya atau malahan kurang. Malahan untuk mensyukuri kemurahan hati Tuhan kita diajak untuk 'berlomba-lomba dalam kebaikan' (Al Maidah 48). Kebhinekaan dalam hidup mengajak dan sekaligus memurnikan cinta kasih kita terhadap Tuhan Yesus. Tidaklah cukup bagi saya untuk berteriak-teriak Tuhan, Tuhan, tetapi harus juga melakukan kehendak Bapa di surge (Mat 7: 21).
Tuhan Allah yang mahakuasa tidak semena-mena terhadap umatNya, bahkan terhadap mereka yang melawan, tetap dikasihi dan disayangiNya. Ilalang pun Engkau biarkan tumbuh dan berkembang. Sekali lagi, seperti dikatakan dalam bacaan pertama, 'kalau mau Engkau dapat bertindak otoriter, tetapi tidak Engkau lakukan; dan dengan berlaku demikian Engkau mengajar umat-Mu, bahwa orang benar harus sayang akan manusia. Anak-anak-Mu Kauberi harapan yang baik ini: Kauberikan kesempatan untuk bertobat apabila mereka berdosa'. Perhatian memang harus lebih diberikan kepada mereka yang berkekurangan daripada mereka yang sudah berkelimpahan. Itulah kehendakMu,  ya Tuhan.
Yesus pun dalam doaNya kepada Bapa membiarkan para muridNya, kita semua, tinggal dalam keberanekaragaman hidup di dunia ini: 'Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat dan menguduskan mereka dalam kebenaran' (Yoh 17: 15.17). Yesus tidak mengambil mereka, namun juga tidak membiarkan sendirian, melainkan memohonkan bantuan dan kekuatan dari Bapa, sang Penguasa kehidupan, untuk melindungi dan mendampinginya. Sebab berkat karya penebusanNya (Gal 4: 5) dan kepercayaan kita kepadaNya kita telah diangkat menjadi anak-anak Bapa di surge, sehingga kita 'bukan lagi dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia' (Yoh 17: 16).
'Pada waktu menuai aku akan berkata kepada para penuai: kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku'.
Itulah yang akan terjadi pada akhir jaman; akan terjadi pemisahan secara tegas di antara umatNya: yang berkenan kepadaNya dan yang tidak. Namun demikian, dalam proses perjalanan hidup, Tuhan Allah yang hidup, ternyata mengundang dan mengundang setiap orang untuk datang kepadaNya. Perumpamaan tadi memang hanya menyatakan keberadaan yang beraneka ragam, tetapi ternyata Allah tidak membiarkan semua demikian adanya. Seperti bacaan pertama tadi, 'Kau memberikan kesempatan untuk bertobat apabila mereka berdosa', dan Engkau pun telah membuktikannya dengan berani bergaul  dan makan bersama dengan mereka, orang-orang yang dicap pendosa (Mat 9: 10-13), dan memang kematian dan kebangkitan Kristus adalah jaminan keselamatan bagi semua orang yang bertobat kepadaNya.
Kalau Tuhan saja memberikan kesempatan setiap orang untuk datang bertobat,  maka baiklah kita ambil bagian di dalamnya. Minimal dalam pergumulan doa apapun, kita tetap diminta untuk mendoakan sesame kita, tentunya mereka yang sempat terjatuh dalam dosa. Hal itulah yang dikatakan dalam bacaan kedua tadi: kalaupun tokh dalam kesempatan dan pada tahap tertentu 'Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus'. Mereka semua, walau sempat jatuh dalam dosa, tetap disebut Paulus sebagai orang-orang kudus, karena memang mereka semua adalah orang-orang pilihan Allah.
 
 
 
Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus,  Engkau membiarkan kami tinggal bersama dengan semua orang di dunia ini. Engkau pun telah mengajari kami bagaimana kami harus hidup bersama. Semoga kami semakin hari semakin memahami keberadaan sesame kami dan mengetrapkan hukum kasihMu kepada mereka, sebagaimana yang selalu kami katakan kepadaMu, sehingga kami tidak hanya dapat berkata-kata, melainkan juga bertindak. Amin.
 
 
Contemplatio :
          Biarkanlah mereka hidup bersama.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening