Jumat Masa Biasa XVI

22 Juli 2011
Kel 20: 1-17  +  Mzm 19  +  Mat 13: 18-23
 
 
 
Lectio :
'Dengarlah arti perumpamaan penabur itu', tegas Yesus, 'kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan.
Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.
Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat."
 
 
Meditatio :
'Ketika  seseorang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu'.
Itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Amat jelas di situ: betapa lemahnya orang yang mendengarkan firman Tuhan itu. Dia tidak mampu menghadapi kekuatan yang lebih besar dari dirinya; yang sebetulnya disebabkan oleh karena ketidakberdayaan dirinya sendiri menghadapi kenyataan hidup, bukan karena kekuatan dari luar, melainkan karena kelemahan diri. Banyak orang dengan mudah dan ringan kali melangkahkan kaki meninggalkan Yesus sang Juru Selamat,  karena tawaran hidup yang menggiurkan. Pengenalan akan Yesus yang adalah satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup dilepas begitu saja; banyak yang diakibatkan karena alasan pekerjaan dan dapur. Namun kiranya tidak perlu menutup mata bahwasannya kebaikan hati Tuhan terpancar dalam ciptaanNya, maka kiranya kehadiran Allah sang Empunya kehidupan tetap dapat dinikmati dan dialami dalam pengembaraan hidup.
'Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad'.
Itulah realitas benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, yakni mereka orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Sabda yang didengarkannya tidak meresap dan berakar dalam hati, cukup sebatas pengetahuan saja. Bila ternyata ada kenyataan hidup yang pahit dan susah, tiada sapaan kasih, dan datangnya bertubi-tubi aneka bentuk kecelakaan yang menguras harta benda, membuat seseorang bisa beralih dari kasih Allah, dan malahan memberanikan diri mencari kekuatan yang datang bukan dari Allah. Mereka mencari kekuatan-keuatan yang menyerupai Allah, kekuatan yang menyenangkan dan menghibur diri, yang semuanya itu hanya bersifat sementara dan malahan mengarahkan seseorang kepada kebinasaan. Mereka ini memang adalah orang-orang yang tidak tahan dalam derita, yang tidak bersabar dalam memanggul salib. Mereka  memang  orang-orang yang  tidak layak menjadi murid-muridNya.
'Kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah'.
Inilah benih yang ditaburkan di tengah semak duri; yakni mereka orang-orang yang mendengarkan  firman itu, tetapi juga sebagai sebatas pengetahuan dan tidak dijabarkan dalam tindakan. Mereka adalah pendengar-pendengar sabda yang menipu diri, dan bukannnya mereka yang mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya. Pengenalan akan Yesus sang kebenaran hanyalah  sebatas tambahan dan tempelan hidup, dan bukannya substansi kehidupan. Ketika ada waktu luang dan bebas dari aneka  kesibukan,  aku mendengarkan suara Tuhan. Tuhan saya ingat, bila memang ada waktu senggang; dan bukannya sebaliknya,  Tuhan, yang mengatasi waktu itu, menguasai dan memimpin aku. Maka benarlah di tengah-tengah ketidapastian hidup, di tengah kekuatiran akan dunia yang semakin menguat, apalagi desakan untuk mempunyai harta benda semakin gencar, kesempatan untuk mencari Tuhan Yesus, yang tidak mendatangkan hujan berkat itu, semakin semakin menyempit dan hilang. Nama baptisan adalah asersoris belaka yang seringkali menambah kemunafikan diri.
'Yang jatuh di subur, ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat'.
Mereka yang menghasilkan banyak buah, karena firman Tuhan menjadi kekuatan hidupnya. Kasih karunia yang dinikmatinya menyuburkan tanah kehidupan, terlebih dia mau menanggapi segala taburan kebaikan yang diberikan Allah, yang semuanya itu semakin mendatangkan berkat bagi dirinya.
Sebagaimana sang empuanya tuaian bergembira dengan banyak panenan yang melimpah, demikianlah Tuhan Bapa di surge bergembira, bila menanggapi sabda yang ditaburkanNya dalam diri kita. Bila pertobatan satu orang saja sudah membuat surge bersukacita (Mat 18:13), apalagi kedatangan seseorang yang telah menghasilkan banyak buah.  Amatlah menarik kiranya, yang hendaknya kita beri tekanan adalah  pada keselamatan setiap orang yang mendengarkan sabda dan kehendakNya, dan bukannya pada menyenangkan hati Tuhan, sebab memang Tuhan tidak memerlukan semuanya itu. Menyenangkan hati Tuhan adalah istilah pengungkapan diri kita, sedangkan keselamatan hidup adalah kerinduan setiap orang untuk berkumpul kembali dengan sang Khaliknya.
Perintah-perintah Tuhan sebagaimana yang sering kita kenal sebagai 10 Perintah Allah sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama, mengarahkan kita semua, yang sering jatuh dalam wilayah abu-abu,  untuk berani mengandalkan firman Tuhan. Pengandalan firman Tuhan memang membutuhkan daya juang tinggi, tetapi amat mendatangkan berkat bagi diri kita masing-masing.
 
 
 
 
Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus, kami bersyukur kepadaMu atas kasih karuniaMu yang besar.  Engkau pun telah menjadikan kami tanah-tanah yang subur dan siap menghasilkan banyak buah, hanya saja kami malas diri dalam berbagi kasih kepada orang lain.  Tuhan Yesus, tobatkanlah dan  kasihilah kami.  Amin.
 
 
Contemplatio :
          FirmanMu adalah kebenaran dan hidup!
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening