Minggu Biasa XIV

10 Juli 2011
Yes 55: 10-11  +  Rom 8: 18-23  +  Mat 13: 1-17
 
 
 
Lectio :
Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka.
Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"
Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?" Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.
Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.
Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.
 
 
Meditatio :
'Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!'
Yesus meminta kita untuk berani mendengar dan mendengar! Kita diberi telinga supaya mampu mendengarkan dan belajar tentang segala yang berada di luar diri kita. Terlebih belajar mendengarkan sabda dan kehendakNya yang menyelamatkan, mendengarkan kehidupan!
Salah satu pengajaranNya adalah tentang seorang penabur.  'Ada seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!'.
Seorang penabur yang menyebarkan banyak benih. Ada yang jatuh di pinggir jalan. Ada yang jatuh di tanah yang berbatu-batu.  Ada yang jatuh di tengah semak duri. Pada ketiga jenis tanah ini, ada yang tumbuh, ada juga yang tidak. Kalau pun tumbuh hanyalah sementara saja, karena tidak berakar dan desakan semak duri. Dan ada juga yang jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.
Mengapa penabur itu sembarang menebarkan benih? Apakah memang dia tidak tahu banyak tentang bercocoktanam? Apakah memang dia seorang kaya, tapi benar-benar bodoh, sehingga tidak bisa menggunakan harta bendanya dengan tepat?
Sepertinya memang perumpamaan ini tidak berbicara tentang pertanian. Penabur ini menaburkan benih pada semua tanah yang dimilikinya. Penabur ini adalah Tuhan Allah sendiri yang menghendaki keselamatan seluruh umatNya. Dia tidak memandang muka dalam menyampaikan sabda dan kehendakNya. Dia memang Tuhan Allah yang murah hati, yang memang memberi hujan dan menerbitkan matahari, bukan hanya kepada orang yang baik dan benar, melainkan juga kepada mereka, orang-orang jahat dan berdosa. Dia mewartakan sabdaNya agar semua orang beroleh keselamatan.
Perumpamaan kali ini menyampaikan kenyataan hidup: bagaimana sikap orang-orang menanggapi kabar keselamatan. Ada banyak orang yang memang terang-terangan tidak mau menjawabi sapaan Tuhan Allah. Mereka adalah orang-orang yang bijak dan pandai, yang mengandalkan kekuatan insani dan memang tidak mau berpegang teguh kepada kehendak Bapa di surge. Injil Minggu lalu mengingatkan kita. Ada pula orang-orang yang mau mendengarkan sabda keselamatan, tetapi sayangnya kehendak sang Khalik tidak menjadi perhatian utama dalam hidupnya. Sabda tidak berakar, sehingga tidak menjadi kekuatan seseorang dalam menghadapi penindasan atau penganiayaan,  aneka kesulitan dan tantangan, malahan terhimpit oleh kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan. Ada banyak saudara-saudari kita yang begitu setia dalam mendengarkan dan melaksanakan sabda dan kehendakNya; dan mereka menikmati buah-buahnya.
Kita termasuk jenis tanah yang bagaimana?
Banyak orang mengakui dengan jujur bahwa dirinya sering jatuh berada di wilayah abu-abu! Seringkali merasa dirinya sebagai orang yang bijak dan pandai, seringkali kehidupannya seperti tanah yang berbatu-batu, atau tanah yang dipenuhi semak berduri, atau untuk sementara waktu dapat menikmati diri sebagai tanah yang subur.
'Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya'.
Penyataan Tuhan Allah melalui nabi Yesaya, sebagaimana tertera dalam  bacaan pertama tadi, menunjukkan keagungan dan kemurahan hati Tuhan. Inilah cinta kasih Allah. Cinta yang terus meluap dan melimpah, yang tidak dikendalikan oleh kenyataan dan keberadaan mereka yang dicintaiNya. Cinta yang merangkul dan mengayomi setiap orang, kita semua, yang sering jatuh dalam wilayah abu-abu!
Karena itulah, Yesus meminta kita, agar kita berani mendengarkan dan mendengarkan sabdaNya. Yesus meminta demikian, karena dalam diri kita ada 'karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, malahan terus ditambahkan, karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya'.  
dan bukankah kita, seperti dikatakan juga dalam bacaan kedua tadi, bahwa: 'seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah'.
 Hari Minggu ini mengajak kita untuk sungguh-sungguh berani menggunakan segala kasih karunia yang kita terima dari Tuhan. Keengganan kita menggunakan kasih karunia yang kita miliki, tak ubahnya seekor semut yang mati di lumbung gula. Karena itu, sekali lagi 'berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya'.
 
 
 Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus, pertajamlah telinga dan mata hati kami, agar kami dapat mendengarkan sabdaMu dan mampu melihat segala keindahan yang Engkau limpahkan kepada kami. Kami mohon kepadaMu juga, ya Yesus, agar kami mau memanfaatkan segala fasilitas kasih yang Engkau berikan kepada kami.  Amin.
 
 
Contemplatio :
          Berbicaralah ya Tuhan, hambaMu siap mendengarkan.
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening