Minggu Masa Biasa XVII

24 Juli 2011
1Raj 3: 5-12  +  Rom 8: 28-30  +  Mat 13: 44-46
 
 
 
Lectio :
Yesus membentangkan suatu perumpamaan:  "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."
 
 
Meditatio :
'Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu'.
Kerajaan surge adalah sesuatu yang terindah dalam hidup, yang memberi jaminan kemapanan hidup. Dia yang telah  menemukan harta terpendam, yang memang nilainya jauh lebih tinggi dari kekayaan yang dimilikinya, akan menjual semua miliknya itu guna mendapatkannya.  Ia ingin mendapatkan, karena memang harta itu amat berharga dan memberi jaminan hidup. Tidak ubahnya dengan 'seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu'.
Hanya sayangnya, banyak di antara kita ini mempunyai selera kacangan, maaf, bukan maksud saya untuk meremehkan. Sebab tak jarang, kita ini ingin banyak mempunyai atau menikmati sesuatu, tetapi hanya secara asal-asalan saja. Asal punya, asal ada, asal pernah! Kita ingin menikmati mie yang lezat, tetap enggan untuk meracik bumbu, kita hanya mengandalkan mie instant. Kita harus berani meracik bumbu untuk mendapatkan santapan mie yang lezat! Bagaiamana kita dapat menikmati kelezatan santapan mie, kalau memang hanya mie instant. Selera tinggi, bukan dimaksudkan, agar kita memilih segala yang mewah dan wah! Bukan ini pula yang dimaksudkan dalam perumpamaan ini. Sebab sesungguhnya segala yang indah ditemukan dalam kemurnian ciptaan, dan kita merasakannya sebagaima Dia yang menciptakan segala-galanya indah adanya.
Kerajaan Surga bukanlah barang yang mewah, tetap sesuatu yang amat berharga dan istimewa. 'Kerajaan Surga bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus' (Rom 14: 17). Kerajaan surge adalah keinginan dan dambaan, kerinduan dan idaman hati bagi setiap orang. Kerajaan Surga menjadi kerinduan setiap orang, karena memang Kerajaan Surga adalah realitas keselamatan hidup, kondisi hidup yang menyenangkan dan membahagiakan, bukan kelak di akhir jaman, melainkan sekarang ini boleh kita nikmati. Mungkin tampak pahit bagi orang lain dan tidak menguntungkan, namun inilah pilihan saya yang memang membuat sukacita jiwa dan menenteramkan hati. Sulit diterangkan dengan rumusaan dan data, tetapi Kerajaan Surga itu 'nikmat hidup'  (istilah yang sering digunakan dalam mimbar-mimbar pagi), sebuah pengalaman hidup yang dirindukan banyak orang; malahan sering kali dirasa kurang rasional.
Apakah 'nikmat hidup' seperti ini juga menjadi pilihan hidup kita?
'Nikmat hidup' yang dipilih Salomo cukup menggelikan, tetapi dikehendaki Tuhan. Ketika Tuhan menanyakan: 'mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu'. Salomo hanya meminta: 'Ya TUHAN, Allahku, Engkaulah yang mengangkat hamba-Mu ini menjadi raja menggantikan Daud, ayahku, sekalipun aku masih sangat muda dan belum berpengalaman.Demikianlah hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kaupilih, suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya. Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?'.
Sahut Tuhan Allah: 'oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu, melainkan pengertian untuk memutuskan hukum, maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorang pun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorang pun seperti engkau'. Dia meminta yang terindah dalam hidupnya. Salomo meminta modal hidup, dan bukannya  makanan atau minuman, bukan pula pakaian atau tempat kediaman. Salomo meminta kehidupan, dan bukan kematian!
Dan dalam cerita selanjutnya Salomo mendapatkan tambahan berkat yang sungguh-sungguh melimpah ruah, karena memang dia meminta yang terindah dalam hidupnya.
Ada seorang ibu yang sudah kena kanker stadium empat, waktu kami kunjungi, dia berkata dan meminta: 'stadium empat, berat;  saya percaya  mukjizat itu ada, tapi biarlah, doakan saya, supaya saya kuat memanggul salib ini, saya yakin Yesus memberi yang terindah' (bdk. Luk 22: 42). 'Ibu yakin?' tanya saya. 'Saya yakin!' tegasnya. Dia hanya meminta yang terindah dalam hidupnya.
Kita diminta untuk mencari dan mencari mutiara indah yang terpendam itu, karena memang mutiara itu diperuntukan bagi kita. Mutiara itu tidak diberikan kepada orang lain, melainkan kepada kita, umat kesayanganNya. Itulah memang kehendak Tuhan Allah. Namun sekali lagi, mutiara itu, bukannya seperti buah durian yang tiba-tiba jatuh dari atas, melainkan mengajak kita untuk berusaha mencarinya; kita letakan pikiran dan budi kita itu pada mutiara yang indah itu, dan bukan kepada yang lain, sebab 'di mana mutiaramu berada, di situ juga hatimu berada' (Mat 6: 21). Kita diminta untuk setia mencari dan mencarinya, karena memang mutiara itu jatah dan milik kita, kita adalah ahli waris. Dengan bahasanya sendiri, Paulus dalam bacaan kedua merenungkannya; katanya: 'kita tahu, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah'. Kita adalah orang-orang yang terpanggil dan dipilihNya, sebagaimana rencana kehendakNya. 'Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya'. Kita yang telah dipilihNya mendapatkan warisan untuk dibenarkan dan dimuliakan.
'Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu'  (Mat 6: 33).
Kiranya sabda Yesus inilah yang meneguhkan kita untuk berani mencari dan mencari harta terpendam, sang mutiara yang indah itu.
 
 
 
 
Oratio :
 
Yesus, tanamkanlah dalam diri kami,  selera tinggi dalam hidup ini, yakni keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang paling indah,  yang amat berguna dalam hidup ini, yang memang menjadi kerinduan hati setiap orang, yakni Kerajaan Surga. Sebab selera inilah yang akan mengarahkan hati dan budi kami hanya kepadaMu.   Amin.
 
 
Contemplatio :
          Engkaulah sang Mutiara hidupku.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening