Rabu Masa Biasa XVI

20 Juli 2011
Kel 16: 1-5.9-15  +  Mzm 78  +  Mat 13: 1-9
 
 
 
Lectio :
Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai.
Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.
Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"
 
 
Meditatio :
'Yesus naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai'.
Teknik itulah yang dipakai Yesus dalam pengajaran. Dia sengaja naik ke perahu dan duduk di situ sambil mengajar, agar Dia tidak terhimpit oleh desakan banyak orang yang mengerumuni dan mendengarkan Dia. Bagus juga pilihan Yesus ini, Dia menjauhi umatNya agar dapat mengajar dan menyampaikan kebenaran kepada mereka. Ada baiknya, sekali waktu kita harus mengambil jarak dengan seseorang agar kita dapat berkomunikasi baik dengan dia; kita menjauhi dia bukan untuk melarikan diri daripadanya, melainkan sebaliknya kita ingin mendekati dan dapat berkomunikasi dengan baik dan penuh kasih.
Ada baiknya kita berdiam diri untuk belajar dan belajar, belajar untuk tidak banyak bicara, belajar untuk merenung dan bermeditasi, agar hati kita semakin intensif dalam berkomunikasi. Sebab tidak ubahnya sebuah parang yang dipakai terus-menerus untuk menebang, ada baiknya diajak berhenti dan kita asah; kemauan baik kita untuk berhenti menebang, kemauan baik kita untuk mempertajam parang akan memperlancar kerja kita dalam menebang.
Ada seorang penabur keluar untuk menabur banyak benih.
Ada yang jatuh di pinggir jalan,
          lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.
Ada yang jatuh di tanah yang berbatu-batu,
          benih itu pun segera tumbuh, tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.
`Ada yang jatuh di tengah semak duri, tetapi makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.
Ada juga yang jatuh di tanah yang baik lalu berbuah:
          ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.
Dalam kesempatan Minggu lalu kita merenungkan bahwasannya kita sering jatuh dalam wilayah abu-abu. Tidak ada di antara kita yang tepat jatuh di tanah yang berbatu-batu atau tanah yang penuh semak berduri. Akibat canggihnya peralatan dan tekhnologi pertanian sekarang ini, aneka jenis tanah pun bisa dikelola menjadi subur dan menghasilkan banyak buah. Namun tak dapat disangkal taburan benih-benih semak berduri juga bisa tumbuh di mana-mana; kesuburan tanah menjadi incaran juga bagi mereka.
Apa yang dapat kita buat?
Kita hanya mengharapkan belaskasihan para penggarap, karena memang mereka mempunyai aneka pengetahuan dalam pengelolaan, terutama sang pemilik tanah itu sendiri. Kita biarkan sang penggarap mengerjakan dan mencangkul tanah kehidupan kita ini; dan tidak ada yang lain.
'Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!'. Penegasan Yesus ini meminta kita semua agar kita mau dikelola oleh sang penggarap-pengarap.
 
 
 
Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus, kami bersyukur kepadaMu atas kasih karuniaMu yang besar. Rundukanlah hati kami, ya Yesus, agar kami mau dikelola dan digarap oleh pekerja-pekerja kebun anggurMu sendiri, agar kami menjadi tanah yang subur dan menghasilkan banyak buah.  Amin.
 
 
Contemplatio :
          Akulah pokok anggur yang benar.
 
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening