Rabu Masa Biasa XVII

27 Juli 2011
Kel 34: 29-32  +  Mzm 99  +  Mat 13: 44-46
 
 
 
Lectio :
Bersabdalah Yesus kepada para muridNya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.
Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."
 
 
Meditatio :
' Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu'.
Harta terpendam, sebagaimana disebutkan dalam perumpamaan Yesus ini, berarti lebih berharga dan bernilai dibanding dengan seluruh kekayaan yang dimilikinya, walau mungkin kekayaan lebih banyak dari harta benda itu. Secara kwantitas kekayaan yang dimilikinya mungkin amatlah tinggi, tetapi secara kualitas, nilai harta yang terpendam ini lebih tinggi dan paling berharga. Dia berani merelakan seluruh kekayaannya untuk mendapatkan harta yang terindah dan sungguh-sungguh bermakna. Tak ubahnya seperti 'seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu'. Kiranya tidak dipersoalkan seberapa besar jumlah kekayaan yang dimilikinya, sebab memang perumpamaan lebih dimaksudkan pada kemauan seseorang yang berani meninggalkan segala yang dimilikinya guna mendapatkan sesuatu yang lebih indah dan berharga, harta terpendam atau sang mutiara indah itu.
Demikianlah Kerajaan Surga itu sungguh-sungguh bernilai dan luar biasa maknanya. Nilai Kerajaan Surga itu amat tinggi dalam hidup manusia;  hanya saja orang-orang, yang terbiasa berselera tinggi, yang dapat merasakan. Siapa mereka? Mereka, tidaklah dimaksudkan sebagai  orang-orang kaya yang mempunyai aneka barang antik dan mewah, melainkan orang-orang yang memang terbiasa memilih segala sesuatu, yang sungguh bernilai bagi dirinya, yang terpenting dan lebih berguna bagi dirinya. Dia bukan pengumpul barang antik, dia juga bukan orang yang bangga dengan segala yang dimilikinya, karena memang banyak hartanya; tetapi dia memang terbiasa memilih sesuatu yang indah dalam hidupnya dalam kata dan tindakan. Dia adalah seseorang yang  terbiasa mengadakan  discretio spirituum (Latin: pembedaan roh), memilih sesuatu yang lebih baik dan lebih benar guna mewujudkan rasa damai, keadilan dan sukacita bagi banyak orang (Rom 14: 17). Tidak pernah terbersit dalam dirinya untuk memuasan diri, semua diukur dan dibenarkan oleh diri sendiri, sebaliknya segala yang dibuatnya berintensikan untuk kepentingan bersama, semua orang bisa menikmati, semua orang merasa dilibatkan dan dikutsertakan, dan semua orang merasa lega. Semua dilakukannya untuk semua orang, omnia omnibus.
Seluruh lajur kiri adalah hak saya dalam mengendarai kendaraan;  adalah hal yang fatal, kalau saya mengambil lajur kanan dan menerjangnya, karena memang bukan hak saya, itu hak orang lain yang datang dari arah berseberangan dengan saya. Namun sebaliknya, bila ada orang menerobos lajur kiri, yang kita gunakan dan itu memang hak kita, amatlah baiklah kalau kita memberikannya dengan sukarela; kita mengalah demi keselamatan bersama. Secara hokum, kita menang, tetapi kita bersama mendapatkan celaka. Perlu keberanian mengambil yang terbaik.
Dalam aneka pesta tersedia aneka jenis masakan yang nikmat dan lezat.  Perlu keberanian mengambil yang terbaik. Semua yang terhidang memang tersedia untuk dikonsumsi, tetapi saya harus berani membatasi diri dari keinginan mencicipi semuanya, karena memang saya tidak ditentukan aneka bentuk konsumsi, saya lebih berkuasa dari mereka;  saya diminta untuk berani mengendali diri mengatasi segala, demi kesehatan dan semangat matiraga.
Perlu keberanian untuk mengambil yang terbaik, ketika di hari Minggu saya hendak pergi ke gereja merayakan hari kebangkitan Kristus, datang seorang tamu untuk datang sekedar berbincang-bincang. Saya menanggapi mereka dengan mengatakan saya hendak pergi ke gereja terlebih dahulu, saya harus berani terus-terang dan jujur mengatakannya, karena memang ada kebutuhan menikmati sabdaNya secara bersama-sama, saya memperhatikan  fitrah saya, yang ditebus olehNya; tidaklah demikian, bila daerah tempat  tinggal kami ada di kota besar, yang memberikan banyak kesempatan merayakan misa kudus di banyak paroki, bahkan sampai Minggu malam pun masih terbuka kesempatan seluas-luasnya.
Perlu keberanian untuk mengambil yang terbaik, bila saya jatuh dalam dosa. Karena memang tidak ada keinginan saya untuk jatuh dan jatuh dalam dosa, saya berkeinginan untuk hidup baik, walau kecenderungan diri untuk memuaskan diri amat kuat. Saya akan selalu memanfaatkan rahmat sakramen tobat,  yang menguduskan dan membersihkan diri saya dari kuasa dosa. Saya diberi kesempatan untuk mendapatkan rahmat pengampunan, maka saya gunakan;  jiwa mendapatkan kepastian dan ketenangan,  karena ada keyakinan diri bahwa dosa-dosa saya dihapuskan. Keberanian saya menerima rahmat sakramen pertobatan berarti menanggapi kasih karunia Allah yang dilimpahkan kepada kita melalui GerejaNya yang kudus!
Perlu keberanian untuk mengambil yang terbaik bagi hidup.  Sayang  memang,  kalau harta terpendam atau mutiara itu kita sia-siakan. Perlu berlatih kita semua menjadi orang-orang yang selera tinggi.
 
 
 
Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus, kirimkanlah Roh KebijaksanaanMu kepada kami, agar kami dapat berpikir dengan jernih, berkata-kata dengan benar dan bertindak dengan tepat, sehingga semuanya itu membiasakan kami untuk bertindak seturut kehendakMu, sebab memang kehendakMulah mutiara yang indah dalam hidup kami yang memberikan ketentraman jiwa. amin
 
 
Contemplatio :
          Biasakanlah kami ya Tuhan untuk memilih yang terbaik bagi hidup.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening