Sabtu Biasa XIV


9 Juli 2011
Kej 49: 29-32  +  Mzm 105  +  Mat 10: 24-33
 
 
 
Lectio :
Tegas Yesus kepada  kedua belas murid-Nya: "Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.
Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.
Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.
Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga."
 
 
Meditatio :
'Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya'.
Pernyataan tradisional ini amat terasa juga dialami oleh Yesus, bahwasannya seorang guru tidak akan dikalahkan oleh muridnya. Namun tidaklah demikian jaman sekarang ini; kemampuan manusiawi yang terus berkembang dan  dengan adanya aneka fasilitas media elektronik, seorang murid dapat melebihi gurunya; dan juga seorang hamba, yang telah lepas dan mandiri, dapat melebihi kemampuan tuannya. Semuanya amat terbuka dan dimungkinkan terjadi. Malahan tak jarang, sekarang ini kebo nusu gudhel (Jawa: orangtua belajar dari anaknya), seorang guru belajar kembali atau menyegarkan ilmu pengetahuannya dari para muridnya. Semuanya bisa terjadi, karena adanya kesempatan bagi setiap orang untuk mengembangkan diri dalam aneka bidang kehidupan.
'Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya'. Entah apa maksud penegasan Yesus ini. Apakah pernyataannya ini untuk menanggapi reaksi orang-orang Farisi yang menuduh Yesus mengusir setan dengan kuasa beelzebub (Mat 9: 34), sebagaimana kita renungkan hari Selasa lalu?
'Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah'.
Kepada para muridNya, kepada kita semua, Yesus meminta agar  kita menyampaikan segala sesuatu yang kita inginkan daripadaNya; sekali lagi, karena keselamatan itu disampaikan kepada semua orang, tanpa terkecuali. Semua  orang berhak mendengarkan sabda dan kehendakNya, karena semua orang menginginkan hidup kekal bersama Allah, karena kita umatNya diciptakan sesuati dengan gambarNya.
Walau harus berhadapan dengan serigala-sergala yang ganas dan siap menerkam, Yesus menegaskan: 'janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka'. Penganiayaan dan pembinasaan memang akan terjadi, tetapi hendaknya para murid tidak gentar menghadapi semuanya itu. Karena memang ulah mereka tidak menentukan kesejatian hidup seseorang. Hidup dan mati tidak berada dalam tangan mereka. Hidup atau mati, kita milik Tuhan! Mereka hanya mampu membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa. Takutlah kepada Dia, sang Empunya kehidupan, yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Dan terlebih, sebagai orang-orang yang tercipta sesuai gambarNya, orang-orang yang dikasihNya, seluruh muridNya adalah orang-orang yang berharga di mataNya. Hanya karena cinta, kita berharga di hadapanNya. 'Burung pipit, yang dijual seharga dua ekor seduit, dan seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu, apalagi kamu yang lebih berharga dari pada banyak burung pipit!'. Harga kita lebih tinggi dari segala ciptaan lainnya!
'Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga'.
Keberanian berhadapan dengan serigala-serigala yang ganas  adalah keberanian seseorang untuk mewartakan kabar keselamatan, kabar tentang Kerajaan Surga, keberanian untuk berbagi kasih yang sudah kita terima secara cuma-cuma. Ketidakseriusan kita untuk berbagi kasih terhadap sesama tidak ubahnya penyangkalan diri kita terhadapNya. Itulah yang dikatakanNya tadi: 'setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga'.
Sebaliknya, seperti yang kita renungkan kemarin, keberanian diri, yang mengandalkan bantuan RohNya, untuk bersaksi dan bersaksi tentang kasihNya, akan semakin mendatangkan berkat bagi kita. 'Barangsiapa bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat'.
Membuat orang merasa damai dan jauh dari segala ketakutan dan kekuatiran adalah bukti nyata dari berbagi kasih. Itulah yang dibuat oleh Yusuf dalam bacaan pertama tadi. Kata Yusuf kepada sanak-saudaranya: 'memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga'.  Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya.
          Menyenangkan hati orang dan membuatnya damai adalah bentuk pemberian diri dalam berbagi kasih. Kiranya  pengalaman Yusuf ini menjadi pengalaman bagi kita dalam merendahkan dan merundukkan diri di hadapan sesame, sebab hanya dengan demikian, kita menjadi berkat bagi orang-orang yang kita jumpai. Janganlah kita merasa senang, aman dan bebas dari aneka gangguan, bila ditakuti dan dijauhi banyak orang. Keberundukkaan kita kepada sang Empunya kehidupan akan lebih terasa, bila kita wujudkan terhadap sesame.
 
 
 Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami hanya takut kepadaMu, sebab hanya Engkaulah sang Empunya kehidupan. Semoga keberanian kami ini mendukung kami untuk semakin siap sedia berbagi kasih dan menjadi saksi-saksiMu dalam pergaulan kami sehari-hari.
Tuhan berkatilah kami selalu. Amin.
 
 
Contemplatio :
          Takutilah kepada Dia yang berkuasa membunuh badan dan melemparkan kamu ke dalam api abadi.
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening