Sabtu Masa Biasa XIII

2 Juli 2011
Kej 27: 1-5.15-29  +  Mzm 135  +  Mat 9: 14-17
 
 
 
Lectio :
Pada waktu itu datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?"
Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya."
 
 
Meditatio :
'Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?'.
Berani sungguh murid-murid Yohanes bertanya demikian kepada Yesus, sang Guru. Keberanian berbicara memang akan memberikan kepuasan diri kepada setiap orang. Ketidakberanian melontarkan dengan kata-kata segala bentuk kepahitan hidup, khususnya kepada lawan hidupnya, membuat pengalaman pahit mengendap dalam tubuh seseorang dan menjadi beban hidup untuk melangkah ke depan. Lebih baik kita berbicara dan bertanya: mengapa dan mengapa agar semenjak awal segalanya dapat dimengerti satu dengan lainnya. Ketidakmauan kita bertanya hanya mendatangkan rasa sakit.
Apakah ada aturan baru, atau memang sengaja: mengapa murid-murid-Mu tidak berpuasa, sedangkan kami dan orang Farisi berpuasa. Semua orang lagi berpuasa, kenapa kalian tidak berpuasa? Kalian tidak menghormati Perjanjian Lama, tradisi atau memang kalian tidak menghormati kami yang sedang berpuasa! Para murid Yohanes ingin tahu mengapa semuanya itu terjadi. Apakah ada perasaan irihati yang mengarah kepada kecemburuan social di antara mereka terhadap para murid Yesus? Atau memang sebenarnya mereka juga ingin bebas dari aturan berpuasa?
'Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?', tegas Yesus kepada mereka: 'tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa'.  Selama ada bersama dan tinggal bersama Yesus, setiap muridNya tidak perlu berpuasa. Karena memang Dialah sang Mempelai laki-laki. Dialah yang mengendalikan semua muridNya. Dalam kendali Yesus, segala kata-kata, perilaku dan tindakan para murid akan selalu mengikuti kehendakNya, dan sebaliknya, mereka akan selalu diperhatikan oleh sang Mempelai; Yesus akan menegur dan mengarahkan para muridNya. Puasa akan tetap dijalankan oleh para murid, dan itu memang juga kehendakNya, bila mereka berada jauh dari Yesus, tidak bersama sang Mempelai laki-laki.
Segala-galanya ada waktunya!  'Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya'. Penyataan Yesus menegaskan bahwasannya berpuasa hendaknya dilakukan tidak sebatas ada tidaknya kesempatan dan waktu, atau musim untuk berpuasa; setiap orang wajib berpuasa, bila dia tidak bersama Yesus, selama dia jauh dari Yesus, selama dia berada di luar kendali sang Mempelai.
Puasa bukanlah sebatas makan dan minum, dan terlebih-lebih dalam pengalaman Gereja, kita tidak hanya diajak berpuasa, tetapi kita juga diajak untuk berani berpantang. Berpuasa dan berpantang dimaksudkan agar kita mampu mengendalikan segala yang di luar hidup kita; segala sesuatu yang dapat dirasakan ataupun ditangkap oleh indera, hendaknya tidak mengendalikan hidup kita, kitalah yang menguasai dan mengkomandani semuanya itu. Kita menguasai dan mengendalikan diri, dan hanya mengarahkan hati dan budi kita kepada segala perkara-perkara di atas, di mana Kristus bertakhta,  dan bukan hanya yang ada di bumi (Kol 3: 1-2).
Injil mengingatkan dan mengajak kita untuk berpuasa, tinggal dalam kendali Yesus Tuhan. Entah bagaimana kita dalam mengkaitkan pengalaman Ishak, Ribka dan Yakub. Ada permainan dalam mengunduh berkat. Ada banyak permainan dan trik-trik dalam pergaulan hidup ini. Manusia ini memang homo ludens (Latin: pemain). Allah sepertinya membiarkan semuanya itu. Bagus memang dan menarik: bermain dalam kehidupan, tetapi kiranya janganlah kita mempermainkan kehidupan, dan mengabaikan Dia yang di atas.
 
 
 
 Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus, semoga kami mampu mengendalikan diri kami hanya untukMu,  karena hanya dalam Dikaulah kami beroleh ketenteraman hidup penuh sukacita. Yesus, teguhkan hati kami. Amin.
 
 
Contemplatio :
          Aku ingin tinggal bersamaMu.
 
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening