Senin Biasa XIV

4 Juli 2011
Kej 28: 10-22  +  Mzm 91  +  Mat 9: 18-26
 
 
 
Lectio :
Sementara Yesus berbiincang-bincang, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: "Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup." Lalu Yesus pun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.
Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.
Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia: "Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur." Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.
 
 
Meditatio :
'Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup'.
Sebuah permintaan dari seorang kepala rumah ibadat, yang datang dan menyembah Yesus. Dan Yesus, tanpa banyak komentar, lalu bangun berdiri dan mengikuti orang itu, bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Yesus tidak memperhitungkan bahwasannya yang memanggil itu seorang Yahudi yang teguh dalam tradisinya; sepertinya Yesus hanya memperhatikan kemauan dia untuk berani datang kepadaNya. Kemauan datang kepada Yesus adalah sebuah kepercayaan, sebuah pengakuan bahwa Dia adalah sang pemilik hidup, karena memang sang kepala rumah ibadat itu datang untuk mencari dan mendapatkan kehidupan. 'Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup'.
Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut. Benar memang, Yesus menghadapi peristiwa kematian; peristiwa yang menggetarkan dan membuat banyak orang bersedih. Yesus tidak mempersoalkan kenapa anak perempuan itu meninggal. Yesus pasti mengetahuinya!  'Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur', tegas Yesus. Entah kenapa Yesus berkata demikian. Saya beranggapan: penegasan ini sengaja diucapkan demikian oleh Yesus, karena memang Dialah Penguasa kehidupan, Dialah sang Pencipta yang mendatangi umatNya secara langsung dan nyata. Kehidupan dan kematian berada dalam kuasaNya, bukankah Dia adalah Allah atas orang-orang hidup dan orang-orang mati? (Rom 14: 9). Yesus berkuasa untuk menghidupkan!
Sang kepala rumah ibadat percaya kepadaNya, tetapi tidak demikian dengan sanak-saudaranya, orang-orang satu komunitasnya, orang-orang yang berada di sekitarnya. Mereka menertawakan Dia, mereka meremehkan Yesus. Hidup bersama hendaknya tidak melemahkan, bahkan mematikan semangat seseorang dalam berkenalan dengan Tuhan. Sekali lagi, mereka sanak-saudara kita, orang-orang satu komunitas kita, orang-orang yang berada di sekitar kita, tak jarang melemahkan dan mematikan pengenalan kita akan Allah dan kasih karuniaNya. Kemapanan hidup dan perasaan puas diri seringkali menutup kemungkinan yang lebih besar dalam mengenal Allah. Keagungan dan kemuliaan Tuhan Allah tidaklah sebatas daya tangkap isani.
Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Orang-orang yang menaruh simpati kepada kepala rumah ibadat diusirNya. Aneka suara seruling dan ratap tangis menutupi duka, tetapi hendaknya tetap membuka akan kasih Allah yang sungguh-sungguh nyata. Kunjungan kepada keluarga yang berduka adalah suatu penghiburan yang tak ternilai; sebuah peneguhan kepada keluarga di tengah menghadapi peristiwa paling pahit dalam kehidupan. Namun ada baiknya, kita juga mendoakan mereka yang baru meninggal, menjawabi panggilan sang Ilahi, dengan berani mendoakan mereka. Doa untuk arwah adalah keluhuran hati untuk mendoakan mereka, yang sudah meninggal, agar kasih Allah yang Maharahim tetap dirasakan oleh mereka. Kemauan tobat mereka, yang belum terpenuhi, dapat disempurnakan oleh doa-doa kita yang masih dalam peziarahan ini. Kiranya kasih Tuhan Allah tidak terpotong oleh peristiwa kematian, doa-doa kita melapangkan pengharapan mereka yang telah meninggal untuk menerima pengampunan dosa dari Allah. Dan memang kasih Allah mengatasi kematian!
Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.
'Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau'.
Kemauan dan kepercayaan sang kepala rumah ibadat tadi kiranya semakin diteguhkan ketika mendengar ucapan Yesus ini: 'teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau'. Sebuah peneguhan yang diberikan kepada seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. Pilihan saya tidak salah! Aku pun akan mendapatkan! Kiranya ucapan hati inilah yang juga menjadi harapan kepala rumah ibadat. Kepercayaannya kepada Yesus sungguh benar. Kemauannya untuk datang kepada Yesus untuk bermohon dan bermohon sungguh-sungguh dibenarkan.
'Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh'. Kata-kata hati terucapkan oleh perempuan itu. Itulah kata-kata iman. Amat sederhana memang, tidak masuk akal, dan lucu. Itulah iman. Dan sewaktu Yesus mengatakan: 'teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau',  sembuhlah perempuan itu.
 
Iman itu berharap, sebagaimana dikatakan Injil tadi. Namun tak dapat disangkal iman itu juga berjanji untuk semakin berani berserah diri kepada Tuhan Allah, yang memang telah banyak berbuat baik kepada kita umatNya. Yakub, dalam bacaan pertama memberi contoh, katanya: 'jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu'. Iman mendorong setiap orang untuk berani bersyukur dan bersyukur kepada Tuhan
 
 
 
 Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus, kami bersyukur kepadaMu atas rahmatMu yang Engkau  berikan kepada kami. Tambahkanlah iman kami agar  mampu menghadapi aneka pengalaman kehidupan, terlebih pengalaman yang tidak mengenakkan. Dan semoga dalam komunitas, kami memberi kesempatan kepada setiap orang untuk berkembang dalam mengenal Engkau, dan malahan komunitas-komunitas kami menjadi lahan yang subur untuk bibit-bibit  iman yang Engkau taburkan dalam diri kami. Amin.
 
 
Contemplatio :
          Tambahlah iman kami.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening