Senin Masa Biasa XV

11 Juli 2011
Kel 1: 8-14  +  Mzm 124  +  Mat 10:34 – 11:1
 
 
 
Lectio :
Kata Yesus kepada para muridNya:  "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.
Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya."
Setelah Yesus selesai berpesan kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka.
 
 
 
Meditatio :
'Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang'.
Keras kali penyataan Yesus ini. Aku datang bukan untuk membawa damai di atas bumi. Bagaimana semuanya ini? Bukankah pada waktu kelahiranNya para malaikat bersama sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah dan bersorak-sorai: 'kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya' (Luk 2: 13-14) dan bukankah 'namaNya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai' (Yes 9: 5)?
Benar memang! Yesus datang membawa kabar sukacita, kabar keselamatan, tetapi tidak semua orang menerimanya dengan senanghati. Tak jarang kabar keselamatan, yang memang harus disampaikan kepada mereka itu, disambutnya bagaikan serigala (Mat 10: 16). Semenjak kelahiranNya Simeon sudah menegaskan pula: 'sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan', dan kepada Maria, ibuNya, dikatakan: 'suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri' (Luk 2: 34-35).
Aku datang untuk membawa pedang, karena 'Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya'. Mereka harus dipisahkan, karena mereka saling mengikat satu sama lain. Mereka tidak memberikan kebebasan. Mereka menutup diri dari dunia luar, bahkan mereka mengabaikan sang Pemberi hidup, Sumber keselamatan. Karena itu. 'barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku'. Yesus membawa pedang, karena ingin menempatkan umat yang dikasihiNya itu pada posisi yang benar di hadapan Allah. Yesus, Anak Manusia, harus menjadi perhatian utama dalam hidup, karena memang Dialah Allah yang menyelamatkan. Dia bukan allah yang berdiam jauh di sana, allah yang hanya duduk manis dan yang minta dihormati dan disembah. Dia Allah yang datang menjumpai dan menyelamatkan seluruh umat yang dikasihiNya.
Itulah tugas perutusan Yesus yang membawa pedang ke dunia. Sebaliknya, kita yang telah mendengarkan dan percaya kepadaNya. Yesus menambahkan:
Pertama, 'barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya'. Yesus yang sudah memisahkan, Dia meminta kepada orang-orang yang percaya kepadaNya untuk mengikuti Dia dengan sepenuh hati. Bukan  ukuran dan kemampuan kita masing-masing yang kita pakai untuk mengikuti Dia, melainkan seturut ukuran dan kemauan Yesus sendiri, sebagaimana yang dilakukanNya sendiri, yang menjadi tebusan banyak orang. Mengikuti Yesus, bukanlah untuk bersenang-senang, bersorak-sorai dan memuja-mujiNya; mengikuti Yesus berarti memikul salib kehidupan kita sehari-hari dan siap kehilangan nyawa.
Kedua, namun begitu, dalam perutusanNya ke 'tengah-tengah serigala', Yesus memberi penghiburan, baik kepada mereka yang diutusNya ataupun kepada mereka yang menerima kehadiran para muridNya. KataNya: 'barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar'. Bukan pula mereka yang diutusNya, dan kebetulan menjalankan tugas resmi dalam aneka pewartaan, tetapi juga mereka, kaum kecil dan sederhana, yang telah setia mendengarkanNya. 'Barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya'.   Sebab memang,  'apa yang kamu lakukan  untuk saudaraKu yang paling hina ini, Engkau telah melakukannya untuk Aku' (Mat 25: 40).
Allah yang membawa pedang guna memisahkan dan memurnikan, sebenarnya bukanlah hal baru dalam sejarah perjalanan hidup bangsa Israel. Allah yang mendorong dan merestui kepergian umatNya ke Mesir, hari ini diceritakan dalam bacaan pertama, memulai proses pemisahan dan pemurniaan umatNya. Injil dan pengalaman bangsa Israel yang kita dengar hari ini memberi pembelajaran bagi kita bahwasannya hidup ini suatu perjuangan, bukan mung mampir ngombe (Jawa: singgah minum, sementara), kesempatan berleha-leha.  Hidup adalah perjuangan, yang harus dipertanggungjawabkan (Rom 14: 12). Mengenal dan mengikuti Tuhan Yesus pun adalah sebuah perjuangan:  memanggul salib. Inilah rumusan hidup yang benar!
 
 
 Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus, Engkau selalu memurnikan dan memurnikan hidup kami, dan kami sulit menerimanya. Karena kecenderungan kami ini hanyalah untuk berhura-hura saja; hanya dalam situasi sukacita saja mata kami terbelalak, memandang dan mencari Engkau. Kami sering tidak setia dalam memanggul salib. Yesus, ampunilah segala dosa dan kesalahan kami ini. 
Santo Benediktus, doakanlah kami agar kami menjadi orang-orang setia dalam mengikuti Yesus, Tuhan kita. Amin.
 
 
Contemplatio :
          Aku datang untuk membawa pedang!
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening