Hari Raya Kemerdekaan Indonesia

17 Agustus 2011
Sir 10: 1-8  +  1Pet 2: 13-17  +  Mat 22: 15-21
 
 
 
Lectio :
Suatu hari pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"
Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."
 
 
Meditatio :
'Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?'
Inilah kata-kata yang manis yang disampaikan orang-orang Farisi bersama-sama orang-orang Herodian yang sengaja memang hendak menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. 'Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka'.  Mereka menyampaikan pujian dan kebenaran, karena memang mereka melihat dan mengenal keberadaan Yesus. Namun semuanya itu disampaikan bukan dengan ketulusan hati, melainkan untuk menyampaikan jeratan kepadaNya. 'Katakanlah kepada kami pendapatMu: apakah diperbolehkan membayar pajak kepada kaisar atau tidak?'
Yesus mengetahui kejahatan hati mereka. Mencobai Tuhan adalah kesia-siaan. 'Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?', tegas Yesus kepada mereka. Sebab kalau Yesus menyetujui pembayaran pajak berarti Yesus itu seorang Yahudi yang pro terhadap penjajah,  bangsa Romawi; Dia bukan seorang nasionalis. Sebaliknya, kalau Yesus menentang pembayaran pajak, mereka akan menjadikan dan membiarkan Yesus sebagai seorang pemberontak, yang tentunya berujung pada kebinasaan. Namun Yesus sudah tahu  semuanya itu, karena itu  mengapa kamu mencobai Aku, tegas Yesus. Yesus pun kiranya tidak menghadapi sebuah dilema!
'Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah',  tegas Yesus. Hendaknya kita mengerti bahwa jawaban Yesus ini tidaklah semata-mata berdasarkan gambar dan tulisan kaisar; tidak ada gambar dan tulisan Allah dalam mata uang itu. Dan Yesus pun tidak menanggapi langsung pertanyaan mereka tadi: apakah diperbolehkan membayar pajak kepada kaisar atau tidak?.  Bila diteliti, Yesus malahan menyetujui orang-orang membayar pajak, sebab pembayaran pajak adalah kewajiban bagi setiap anggota kemunitas sosial, termasuk warga negara dan bangsa. Pajak adalah ongkos sosial yang harus dibayar masyarakat dan dipakai untuk pembangunan dan kepentingan pemerintah dan masyarakat sosial. Bangsa Yahudi yang dibawah otoritas Romawi memang wajiblah menyerahkan pajak itu kepada pemerintah Romawi, yakni kaisar.
Namun tak dapat disangkal, sebagai bangsa terpilih, yang selalu diagung-agungkan dan dipamerkan sebagai umat yang mempunyai dan dimiliki Allah, dan bangga akan para nabiNya (2Raj 5: 8), umat Israel juga harus menaruh iman kepercayaan, harapan,  kemauan hati dan ibadat hanya kepada Tuhan Allah, sang Empunya kehidupan (Yos 24: 21-24). Inilah kehendak Tuhan Allah dan sekaligus kemauan umatNya yang kudus. Semuanya inilah yang wajib diberikan kepada Allah, 'berikanlah kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah',   tegas Yesus tadi. Penyataan Yesus ini mengingatkan kepada mereka semua bahwa mereka adalah bangsa yang luhur dan terpilih oleh Allah, dan bukannya dibawah otoritas dunia.
Apa yang kita berikan kepada Pemerintah atau Presiden? Membayar pajak tentunya dan mentaati aturan sosial. Kita memang negara demokrasi, tetapi kiranya juga harus kita akui bahwa Tuhan Allah  memberkati mereka, sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama tadi: 'Di dalam tangan Tuhan terletak kuasa atas bumi, dan pada waktunya Ia mengangkat orang yang serasi atasnya. Di dalam tangan Tuhanlah terletak kemujuran seorang manusia, dan kepada para pejabat dikaruniakan oleh-Nya martabatnya'. Demikian juga santo Petrus juga meneguhkan: 'tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik'. Mengapa? Apakah kita kembali ke teokrasi? Bukan! Pertama, karena kita percaya akan kemurahanhati Tuhan Allah, kedua, mereka yang duduk di pemerintahan juga orang-orang beragama, walau ada yang  kurang beriman.
 
Apa yang sudah kita berikan kepada Tuhan? Tuhan Yesus sudah pernah meminta kita:  kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dan kasihilah sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Karena itu, Sirakh dalam bacaan pertama menuliskan: 'hendaklah engkau tidak pernah menaruh benci kepada sesamamu apapun juga kesalahannya, dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu. Kecongkakan dibenci oleh Tuhan maupun oleh manusia, dan bagi kedua-duanya kelaliman adalah salah'. Demikian juga Petrus memesankan kepada kita: 'hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!'
 
 
 
Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus, puji syukur kepadaMu atas limpahan kasihMu kepada bangsa dan negara kami. Alam semesta dan kemerdekaan bangsa. Semua anugerahMu itu belum dinikmati oleh seluruh warga bangsa kami, karena pemerintah kami belum pandai mengelolanya, malahan menjadi ajang mendapatkan kuasa dan kekayaan.
Semoga Engkau semakin melimpahkan rahmat Roh KudusMu bagi para pimpinan pemerintahan kami, agar mereka dapat bertindak bijak dalam mendampingi rakyat dan bangsa kami ini. Semoga di hari ulangtahun kemerdekaan ini, kami semua diingatkan akan cita-cita bangsa kami yang tertera dalam Pancaila.
Yesus, berkatilah bangsa dan negara kami selalu, amin.  
 
 
Contemplatio :
Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening