Jumat dalam Masa Biasa XIX

12 Agustus 2011
Yos 24: 1-13  +  Mzm 136  +  Mat 19: 3-12
 
 
 
Lectio :
Suatu hari datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?" Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?" Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah." Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin." Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."
 
 
 
Meditatio :
'Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?'.
Itulah pertanyaan yang diungkapkan orang-orang Farisi untuk mencobai Yesus. 'Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?'. Pertanyaan ini amat tendensius bahwa laki-laki boleh menceraikan isterinya, tak ada hak bagi seorang perempuan menolaknya. Sekali pertanyaan ini arahnya amat jelas.
'Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?' sahut Yesus. 'Laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia'. Jawaban Yesus amat tegas bahwa memang manusia diciptakan dan dikondisikan untuk saling melengkapi satu sama lain, laki-laki dan perempuan bersatu padu dalam perkawinan. Perkawinan adalah kehendak Allah, dan Allah yang mempersatukannya, karena itu  yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.
Laki-laki tidak boleh menceraikan isterinya; sebaliknya perempuan juga tidak boleh menceraikan suaminya. Laki-laki mendapat tekanan, karena kita berada dalam dunia patriakhal, peran laki-laki amat dominan. Tidak ada perceraian apapun alasannya!
'Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?' tanya orang-orang itu. Musa mengijinkan perceraian. Bukankah dia itu nabi besar?
'Karena ketegaran hatimu, Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian', tegas Yesus. Perceraian tidak dikehendaki Allah. 'Aku berkata kepadamu: barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah'. Yesus sepertinya mengjinkan perceraian, jika ada perzinahan, tetapi sebaliknya, Dia malahan semakin menguncinya, karena memang pada waktu itu tidak mungkin dan tidak akan ada keberanian seorang perempuan mengadakan perzinahan. Sekali lagi, Yesus mengembalikan pada kehendak Allah dari semula: Allah tidak menghendaki perceraian;  yang telah dipersatukan Allah, tak seorang pun berhak menceraikannya.
Melihat buntunya jalan menuju perceraian, murid-murid itu berkomentar: 'jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin'. Benar memang! 'Tetapi tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja'. Bagaimana mungkin seseorang tidak menikah? Sekarang ini bahkan ada yang mempersoalkan: bagaimana mungkin seseorang bisa terlambat menikah? Akhirnya, karena suara-suara yang menderu-deru dan menantang ini dan mental diri seseorang yang kacangan,  beberapa orang segera kawin dan menikah tanpa persiapan yang memadai, tanpa pengenalan diri satu sama lain. Seorang laki-laki tidak mengenal baik calon suaminya, demikian juga sebaliknya seorang perempuan tidak mengenal baik calinsuaminya.  Aneh tapi nyata. Keterlaluan dan kebodohan. Ada pula yang takut dikejar usia!
Ketidak-abadian perkawinan akhirnya menjadi ajang perbantahan. Semua hanya mencari alas an, supaya diijinkan untuk bercerai dan kawin lagi, dan tidak ada yang lain; makna cinta diputar-balik, hanya untuk bercerai dan kawin lagi! Bersyukurlah Gereja tetap mengumandangkan suara kenabian yang menyampaikan kehendak Tuhan sedari semula. Perkawinan akan terkondisi abadi, bila memang ada persiapan yang memadai dan pengenalan diri satu sama lain. Gereja amat menghargai perkawinan sebagai realitas yang luhur dan suci.  
'Ada memang orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya', ada pembawaan genetis yang menghalanginya. Kita hanya semakin mengharapkan campurtangan Tuhan yang semakin besar. 'Ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain', inilah yang harus kita tentang dan lawan, karena memang membinasakan hak azasi manusia; tindakan orang-orang yang tidak bertanggungjawab.  'Ada orang yang membuat dirinya demikian, karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga'. Inilah kemauan luhur dan mulia yang perlu kita hormati, karena mereka berusaha ambilbagian dan menghadirkan realitas kebangkitan (Mat 22: 30).
Perkawinan adalah realitas yang luhur dan mulia. Ketiadaan persiapan yang memadai, tanpa pengenalan diri satu sama lain, dan diperburuk egoisme diri yang mengeras semakin menambah besar jumlah perceraian. Kiranya negara sebagai lembaga tertinggi dalam hidup sosial semakin mampu meredam merebaknya perceraian, dan bukan malahan semakin memberikan kesempatan. Dari buahnya kita mengenal pohonnya. Indonesia adalah Negara yang bermartabat!
 
 
Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus, semakin limpahkanlah kesetiaan dalam diri kami, terlebih-lebih keluarga-keluarga muda, agar kami semua kedapatan setia sampai akhir hidup kami. Dan semoga terang RohMu sendiri menyertai kami, agar dalam menghadapi aneka persoalan keluarga, kami menanggapinya dengan kepala dingin dan hati yang jernih, sehingga terjagalah keutuhan keluarga dan rumahtangga kami. Amin.
 
Contemplatio :
          Yang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia.
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening