Kamis dalam Masa Biasa XVIII

4 Agustus 2011
Bil 20: 1-13  +  Mzm 95  +  Mat 16: 13-23
 
 
 
Lectio :
Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi."
Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."
Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias. Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."
 
 
 
Meditatio :
'Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?'.
Kiranya pertanyaan Yesus ini hendak menegaskan sejauhmana pengenalan umat yang dikasihiNya itu. Apakah mereka sadar dan merasakan bahwa diriNya datang untuk menyelamatkan umat Israel yang terceraiberai. Bukankah perutusanNya ke dunia itu hanya diperuntukkan kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel, sebagaimana kita renungkan kemarin. Yesus datang hendak menggenapi kemauan Allah semenjak semula, agar semua manusia selamat. Atas pertanyaanNya itu, para murid menyahut: 'ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi'.
Itulah jawaban banyak orang yang didengar oleh para muridNya selama ini. Yesus tidak mempersoalkan kebenarannya, karena memang mereka berjumpa denganNya dalam kurun waktu yang amat terbatas. Pengenalan mereka amat terbatas. Bagaimana dengan mereka sendiri yang berkumpul dengan Yesus setiap hari? Karena itu, 'apa katamu, siapakah Aku ini?', tanya Yesus kepada mereka.
'Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!', jawab Simon. Itulah pengenalan Simon, itulah pengenalan para murid kepada Yesus! Kata Yesus kepadanya: 'Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga'. Tepatlah juga apa yang dikatakan oleh Yohanes dalam Injil bahwasannya tidak ada orang yang mengenal Anak selain Bapa, dan juga kepada orang-orang Bapa menyatakannya. Simon dapat menjawab seperti itu karena kasih karunia Allah sendiri. Dan atas keberanian mengungkapkan iman kepercayaannya, Yesus menambahkan:  'Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga'. Simon menerima limpahan kasih karunia Allah yang begitu besar lagi; dia menerima kunci Kerajaan Surga, bukan penguasa atas Kerajaan Surga, melainkan penanggungjawab bahwa Kerajaan Surga itu milik semua orang yang berkenan kepadaNya. Simon harus terus mengusahakan dan mengusahakan, agar semua orang berkenan menikmatiNya.
'Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau'.
Itulah sahutan tegas dari Simon Petrus, semenjak Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Simon Petrus mengungkapkan semua itu sebagai bentuk tangungjawabnya kepada sang Guru; Yesus telah berjasa kepada dirinya, wajarlah kalau kita menjaga dan melindungi Dia. Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia. Seorang anak manusia ingin melindungi dan menjaga Anak Allah?
'Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia', hardik Yesus kepada Petrus. Dia yang baru dipuja-puji, kini ditegur keras oleh Yesus. Karena dalam hati yang satu dan sama masih bercokollah 'segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan' (Mrk 7: 21-22). Kasih karunia Allah tidak menghapus hak dan martabat manusia. Dan di sinilah kepandaian dan kelicikan kuasa kegelapan bermain atas hidup kita. Kasih karunia yang diterima Petrus seakan-akan memberi kesempatan si iblis untuk bergerilya tampil sebagai seorang pahlawan. Ingat, keunggulan kita dalam hidup rohani semakin membuka kesempataan kuasa kegelapan bergerilya dalam hidup kita. Keunggulan kita dalam hidup rohani menuntut kita untuk selalu berani mengadakan pembedaan roh, 'sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna' (Rom 12: 2).
Sekali lagi, Petrus bermaksud baik melindungi sang Gurunya, tetapi di sinilah yang sering terjadi: kemauan baik kita tidak selalu sesuai dengan kemauan banyak orang; dan tak jarang kita memaksakan kehendak kita kepada orang lain, karena kita beranggapan: inilah pilihan cara dan tindakan yang paling baik; padahal tidaklah demikian bagi orang lain. Kiranya kita tidak perlu mengharuskan orang lain mengenakan cara pandang kita. Terlebih lagi kepada Tuhan yang memang lebih menguasai hidup kita.
Keunggulan hidup rohani Musa, sebagaimana diceritakan dalam bacaan pertama, ternyata juga diuji oleh Tuhan. Tuhan meminta kepada Musa: 'ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya'. Namun Musa dan Harun dengan berang kepada umat Israel berkata: 'dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?'. Apakah Musa yang mengadakan mukjizat itu? Mengapa dia merasa terpaksa memancarkan air? Bukankah Allah yang mengadakan, dan Musa hanya tangan kananNya saja? Mereka memperkosa kehendak Allah!  Maka firman Tuhan kepada Musa dan Harun: 'karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka'.
 
 
Oratio :
 
Ya Yesus, terima kasih atas segala anugerah yang Engkau limpahkan kepada kami; kasihMu sungguh besar kepada kami. Ajarilah kami agar hati dan budi kami tetap berani berjaga dan berjaga, karena Engkau pun tetap membiarkan gandum dan ilalang tumbuh bersama dalam diri kami. Kuasailah kami dengan Roh KudusMu, agar kami semakin bijak dalam hidup ini, dan selalu memilih yang terbaik bagi hidup kami dan berkenan kepadaMu.  

Santo Yohanes Maria Vianney doakanlah kami, yang lemah ini. Amin.
 
 
Contemplatio :
          Kristus, Engkaulah Putera Allah yang hidup
 
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening