Kamis dalam Masa Biasa XXII

1 September 2011
Kol 1: 9-14  +  Mzm 98  +  Luk 5: 1-11
 
 
 
Lectio :
Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.
Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.
Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa." Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia." Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.
 
 
 
Meditatio :
'Yesus menyuruh Simon supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu'.
Kreatif kali Yesus dalam memilih teknis dalam pengajaran. Dengan menaiki perahu, banyak orang tidak bisa mengemuni diriNya, sehingga dengan leluasa Dia dapat mengajar dan bebas bergerak, sehingga Yesus dapat memandang semua orang yang mendengarkan Dia. Pewartaan adalah penyampaian sabda ilahi, namun begitu memerlukan ketrampilan insane dalam menyampaikannya, karena semuanya itu disampaikan dalam bahasa dan budaya manusia. Yesus Tuhan yang berkuasa atas umatNya tetap menggunakan bahasa  dan budaya umatNya, agar sabda dan kehendak Bapa di surge dapat ditangkap dan dimengerti umatNya.
'Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan'.  
Itulah perintah Yesus kepada Simon Petrus setelah Dia mengajar. Entah mengapa tiba-tiba Yesus meminta Petrus menangkap ikan. Apakah Yesus lapar, sehingga menyuruh menangkap ikan? Tidak disebutkan. 'Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa'. Itulah komentar Petrus, seorang murid yang amat reaktif. Ia melawan permintaan sang Guru, karena memang dia lebih tahu dalam mencari ikan dibanding sang Gurunya. Yesus adalah seorang anak tukang kayu, sedangkan Petrus adalah seorang nelayan tulen, apalagi dikatakan dia baru saja mencari ikan semalaman, tetapi tidak mendapatkan seekorpun. 'Namun karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga', tegas Petrus.  Alasan apa yang membuat Petrus bersikap sigap begitu, apakah sebagai rasa terima kasih dan hormatnya kepada Yesus, yang telah menyembuhkan ibu mertuanya dan banyak orang di kampungnya? Petrus lebih tahu memang menangkap ikan, tetapi Yesus lebih berkuasa dalam mendapatkan ikan.
Sungguh, setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Yesus menunjukkan kuasaNya atas alam semesta dan atas kehidupan ini, dan Petrus seorang nelayan, yang memang ahli dalam menangkap ikan, dibuatNya tidak berdaya. Yesus membuat segala-galanya indah pada waktunya, karena memang semalam-malaman, dia tidak mendapatkan seekorpun. Mukjizat itu tidak terjadi ketika mereka sedang bekerja keras semalam-malaman, melainkan ketika pagi hari sewaktu Yesus meminta sendiri untuk melakukannya.
'Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa'. Pengakuan Petrus yang jujur, tersungkur di depan Yesus, sebab dia telah sempat melawan dan menantang sang Guru, seorang Tukang Kayu ini. Pengakuan dan pertobatan Simon Petrus lebih terasa kuat daripada Yakobus dan Yohanes, yang sama-sama takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap, karena memang Petrus sempat melawanNya. Benarlah penegasan Yesus: 'Aku berkata kepadamu: dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih' (Luk 7: 47).
'Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia', tegas Yesus. Yesus tidak menghendaki mereka larut dalam penyesalan, karena pekerjaan yang telah dilakukanNya. Yesus melakukan semuanya itu untuk menyatakan diri Siapakah sebenarnya sang Guru mereka. Yesus mengundang mereka untuk semakin menaruh perhatian terhadap diriNya. Yesus meminta para murid menangkap ikan, bukan karena diriNya lapar, Yesus hendak menyatakan diriNya. Diceritakan tadi, 'sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus'. Mereka tidak menikmati hasil tangkapan mereka, karena memang mereka tidak kelaparan. Yesus malahan menunjukkan Siapakah diriNya; sebagaimana Dia telah menyuruh mereka menebarkan jala ke tempat yang lebih dalam, demikian juga mulai sekarang Yesus mengajak mereka menjadi penjala manusia, 'mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia'. Pewartaan sabda dan kebenaran adalah kehendak dan kemauan Tuhan Yesus, bukan kemauan Gereja!
'Karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga'. Inilah keberanian Petrus menerima kemauan Tuhan Yesus, sang Guru mereka. Saya menegaskan: ini adalah keberanian Petrus, karena memang tak jarang kita ini merasa lebih pandai, lebih banyak mengetahui daripada orang lain. Sayalah yang lebih tahu dan kamu itu  tidak tahu apa-apa. Tidak banyak orang berani bersikap seperti Petrus, bahkan dalam bersikap kepada Tuhan; padahal keberanian percaya dan berserah kepada kehendak Tuhan, sebagaimana dicontohkan Petrus, lebih banyak mendatangkan berkat dan rejeki.
          Paulus dalam bacaan pertama tadi juga mengingatkan agar kita semakin berani percaya dan menerima kehendak Tuhan. Katanya: 'kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar, dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang'.
          Bahkan berkat kematian dan kebangkitan Kristus, sang Guru, Paulus juga menegaskan bahwa:  'Bapa telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa'.
 
 
 
Oratio :
 
Yesus Kristus, pertajamlah hati dan budi kami agar kami mengerti kehendak dan kemauanMu, dan teguhkanlah diri kami agar berani melakukan kehendakMu itu. Sebab tak jarang, kami ini merasa diri pandai tahu segala-galanya, kami sering lupa ingatan bahwa Engkau lebih berkuasa atas kehidupan ini. Yesus, ajarilah kami untuk semakin rendah hati. Amin.  
 
Contemplatio :
          'Bertolaklah ke tempat yang dalam'.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening