Kamis dalam Masa Biasa

18 Agustus 2011
Hak 11: 29-39  +  Mzm 40  +  Mat 22: 1-14
 
 
 
Lectio :
Suatu hari Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka: "Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka.
Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.
Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."
 
 
Meditatio :
'Pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu'.
Begitulah keputusan raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Sebab ia telah mengundang banyak orang datang perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Mereka tidak mengindahkan pesta itu dengan alasan: ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, bahkan sebaliknya malahan ada yang menangkap hamba-hamba raja yang diutusnya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. 'Pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu'. Dan sungguh, pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.
Itulah perumpamaan Yesus tentang Kerajaan Surga. Kerajaan Surga diwartakan pertama-tama kepada orang-orang yang dipilihNya, tetapi mereka semua tidak menanggapinya; semua menyelesaikan urusannya masing-masing, padahal undangan itu adalah sebuah kehormatan dan penghargaan, malahan ada di antara mereka yang menanggapi undangan ini dengan kekerasan. Mereka yang tidak mau diselamatkan, akan dibinasakan.
Bagaimana dengan kita? Bukankah kita adalah orang-orang pilihanNya? Berkat sakramen baptis, kita disatukan menjadi orang-orang yang mendapatkan jaminan hidup kekal; berkat sabda dan doa-doa kita pun dikuduskan dan disucikan oleh Allah, malahan dalam sabda dan sakramen kita diijinkan berjumpa dengan Dia, kita boleh mendengarkan dan memandang Dia. Kita nikmati undanganNya, kita rasakan kehadiranNya
'Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta?', tegur raja ketika melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Raja bukannya meminta setiap orang harus berpakaian mewah, bukan pakaian yang dijadikan ukuran pesta; ketidakmauan orang itu berpakaian pesta menunjukkan keseriusannya dalam menikmati perjamuan perkawinan itu. Dia telah berbuat baik, Dia telah mengundang kita, tanpa memperhitungkan siapakah kita ini;  amatlah baik kalau kita tanggapi undangan itu dengan penuh perhatian. Allah telah berbuat baik, saya wajib menanggapinya! 'Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi', tegas raja. Sekali lagi, tidak memenuhi undangan berarti menolak keselamatan. 'Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih'. Inilah kehendak Tuhan, yang egois, yang tidak dapat ditawar, yang menyelamatkan!
Menanggapi undangan Tuhan memang perlu mengorbankan acara dan kepentingan diri kita. Menanggapi undangan Tuhan terkadang tidak ubahnya seperti keberanian Yefta, sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama tadi, memenuhi nazarnya  kepada TUHAN. 'Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran'. Tuhan pun memenuhi kemauan Yefta dengan menyerahkan mereka musuh-musuhnya ke dalam tangannya; dan Yefta pun dengan rela dan berat hati menyerahkan puterinya yang terkasih.
 
 
Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami mempunyai hati untukMu, mengingat keselamatan hanya datang daripadaMu, Engkaulah sumber keselamatan. Engkau menuntut kami berani mengutamakan diriMu di atas segala kepentingan diri kami. Berat, ya Tuhan, sungguh berat. Bantulah kami selalu  untuk semakin mengerti kehendakMu bagi kami. Amin.
 
 
Contemplatio :
          'Pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu'.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening