Minggu dalam Masa Biasa XIX

7 Agustus 2011
1Raj 19: 9-13  +  Rom 9: 1-5  +  Mat 14: 22-33
 
 
 
Lectio :
Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.
Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun redalah. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah."
 
 
Meditatio :
'Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ'.
Seorang Yesus Tuhan masih menyempatkan diri untuk berdoa dan berdoa. Dia telah menyembuhkan banyak orang dan mempergandakan banyak roti, sebagaimana kita renungkan dalam hari Minggu kali lalu. Dia membuat segalanya baik adanya. Namun dengan setia, Yesus berdoa dan berdoa kepada Bapa di surge. Orang sehebat itu masih berdoa dan berdoa. Kiranya menjadi pembelajaran kita untuk setia berkanjang dalam doa. Doa adalah sebuah kemauan untuk memberikan waktu bagi Tuhan, menyempatkan diri untuk berjumpa barang sejenak, berkata-kata dengan Dia dan mendengarkan suaraNya. Doa adalah kesempatan kita setor wajah kepada Yesus, agar kita merasakan kehadiranNya. Kita  gunakan kesempatan indah ini,  bukankah kemarin kita juga diingatkan: 'Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia'.
Yesus sendiri, dan bukan para murid,  yang meminta orang-orang sebanyak itu untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Kemungkinan, bila para muridNya yang meminta pulang, mereka tidak akan mau mendengarkan, karena memang orang-orang yang telah disembuhkan dan dikenyangkan ini, tidak mau dipisahkan dengan Kristus sang Guru; mereka pun sepertinya hendak ramai-ramai berteriak biarkanlah kami dirikan kemah di sini bersamaMu, ya Yesus. Yesus meminta mereka, dan mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
'Tenanglah! Aku ini, jangan takut!'.
Seru Yesus kepada para muridNya. Yesus menenangkan mereka, karena mereka terkejut dan ketakutan; sebab betapa mengagetkan dan bagaimana bisa terjadi, di tengah malam kira-kira jam tiga, Dia berjalan di permukaan air; teriakan 'itu hantu!', teriakan ketakutan sempat terlontar dengan kerasnya. Mereka terkejut, karena memang Yesus menampilkan diri dengan cara-cara di luar daya tangkap inderawi mereka. Yesus mengatasi hokum alam. Teriakan itu hantu hanya sebuah ungkapan ketidakberdayaan mereka melihat kenyataan ilahi yang selalu menampakkan keagungan dan kedahsyatan Tuhan
'Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air', itulah keberanian Petrus. Petrus menantang Yesus! Yesus harus mempertangungjawabkan kebenaran yang disampaikanNya.  'Datanglah!', jawab Yesus.  Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di permukaan air mendapatkan Yesus. Yesus memang benar!
Namun ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: 'Tuhan, tolonglah aku!'. Tiupan angin semakin lama terasa semakin menguat; dan tak jarang tiupan angin yang malahan seringkali mendapatkan lebih banyak perhatian, mengalahkan perhatian akan kebenaran. Inilah kelemahan Petrus. Inilah kelemahan kita; dan saat itulah robohlah kita!
Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: 'hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?'. Tepatlah teguran Yesus ini disampaikan kepada kita semua. Kepercayaan kita kepada Kristuslah yang seharusnya semakin kita perteguh di tengah-tengah kuatnya tiupan angin kehidupan. Kepercayaan akan Kristus malahan harus menjadi penuntun langkah kehidupan kita ini.  'Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, demikian juga gempa yang menggoncang bumi dan api yang berkobar-kobar', sebagaimana diceritakan dalam bacaan pertama, tidak menyurutkan nyali Elia untuk tetap setia menantikan kehadiran Tuhan Allah. Namun ketika didengarnya bunyi angin sepoi-sepoi basa datang, Elia segera menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu menanggapi kehadiranNya.  Elia lebih memperhatikan kehadiran Tuhan yang memanggilnya, daripada aneka tanda-tanda kedahsyatan alam.
Setelah Yesus dan Petrus naik ke dalam perahu, angin pun redalah; dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: 'sesungguhnya Engkau Anak Allah'. Sebab hanya Tuhan Allah, dan tidak ada yang lain,  yang berkuasa atas alam semesta dan seluruh ciptaan. Yesus berkuasa dan mengatasi segala ciptaanNya. Kalau kemarin Allah menyatakan Yesus dengan bersabda: 'Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan', hari ini bersama bersama para muridNya, hendaknya kita berseru: 'sungguh Engkaulah Anak Allah', karena memang Yesus telah banyak menyelamatkan kita dari aneka tiupan angin kehidupan.
 
 
Oratio :
 
Ya Yesus, Engkau menyatakan kehadiranMu yang mengatasi alam semesta, Engkau mengatasi dan berkuasa atas hokum alam. Semoga pengalaman para murid hari ini semakin membuat kami percaya dan percaya kepadaMu, bahwa Engkaulah Allah yang hidup.
Yesus kami juga bersyukur kepada atas anugerah hidup yang Engkau limpahkan kepada kami. Semoga kami semakin mampu menikmati hidup ini  dengan melaksanakan kehendakMu. Yesus berkatilah kami selalu. Amin.
 
 
Contemplatio :
          Yesus, sungguh Engkaulah Anak Allah
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening