Pesta Penampakan Tuhan

6 Agustus 2011
2Pet 1: 16-19  +  Mzm 97  +  Mat 17: 1-9
 
 
 
Lectio :
Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.
Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."
Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: "Berdirilah, jangan takut!" Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri.
Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."
 
 
Meditatio :
'Suatu kali Yesus berubah rupa di depan mata para murid; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang'.
Berubah rupa yang dimaksudkan di sini berubah kehadiran dan keberadaanNya. Wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Yesus menampakkkan kehadiran ilahiNya secara utuh; Dia menyembunyikan kemanusiaanNya, dan menampakkan keallahanNya. Pada saat itu 'nampak juga Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia', yang memang semakin menegaskan Siapakah Yesus itu. Dialah Allah yang menjadi manusia.
Itulah peristiwa indah, peristiwa adikodrati, yang tampak di depan mata ketiga muridNya, Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, ketika bersama-sama dengan mereka Yesus naik ke sebuah gunung yang tinggi; di situ mereka sendiri saja. Apakah Yesus sengaja mengajak mereka? Apakah Yesus sengaja memamerkan diri kepada para muridNya?  Pasti sengaja!
'Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia'. Itulah reaksi spontan Petrus menikmati hal yang indah itu. Kemauan berkata-kata seperti itu, tentunya Petrus juga tidak ingin semuanya ini cepat berlalu, tentunya dia ingin berlama-lama tinggal dalam kemuliaan Allah.
Permohonan Petrus itu ditanggapi dengan turunnya awan yang terang menaungi mereka semua dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: 'Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia'. Ternyata maksud dan kehendak Bapa di surge sendiri untuk memamerkan Yesus sang Putera, bukan untuk mencari pujian dan hormat, melainkan meminta semua orang untuk mendengarkanNya. Mendengarkan Yesus adalah kewajiban bagi setiap orang! Karena memang Dialah Sabda Allah (Yoh 1: 14). Yesus adalah Allah yang datang ke dunia guna menyelamatkan seluruh umat manusia!
Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. Menghadapi realitas surgawi, hanya jiwa yang merunduk  dan bertelut di hadapanNya dapat dan layak dilakukan oleh setiap orang. Kemauan Petrus dan teman-temannya tidak sesuai dengan kehendak Tuhan Bapa di surge. Mengikuti Yesus bukanlah untuk menikmati hal-hal yang indah, yang memang secara sengaja dipamerkan oleh Yesus hari ini; mengikuti Yesus berarti mendengarkan Dia, sebab Dialah Anak yang dikasihi Bapa, dan hanya kepadaNyalah Bapa berkenan. Mendengarkan Yesus tidaklah cukup dengan kedua daun telinga kita, tetapi terlebih dengan telinga hati; yang konkritnya sepertinya dikatakan Yesus dalam Injil kemarin dengan berani menyangkal diri, memikul salib dan mengikutNya.
Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: 'berdirilah, jangan takut!'. Yesus meneguhkan mereka, bahwasannya mereka pasti mampu mendengarkan suaraNya, sebab selama para murid bersamaNya, Yesus pasti akan selalu mengamati dan membantu mereka untuk mendengarkan sabdaNya. Kita pun dalam mendengarkan sabdaNya akan merasa terbantu oleh kehadiranNya, sebab keyakinan diri bahwa Roh Kristus yang penuh kasih ada bersama kita, kita akan mendegarkan Dia sendiri berbicara secara dekat, dan bukan jauh di sana. 
Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: 'jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati'. Bukankah dengan mengetahui siapakah Yesus itu semakin banyak orang akan percaya kepadaNya? Mungkin itulah perkiraan kita. Namun tak dapat disangkal, karya pewartaan Kristus tidak mengandalkan pada kekuatan kesaksian-kesaksian dan apa kata orang; Yesus menyampaikan ajaran dan kasihNya dan pada akhirnya orang diminta memberi jawaban iman sendiri, ketika Dia membiarkan diri dan menyerahkan nyawa di kayu salib menjadi tebusan bagi banyak orang (Mat 20: 28).
Petrus yang ikut bersuara dalam pengalaman indah itu, sungguh terkenang dan kagum. Dalam bacaan pertama dia memberi kesaksian: 'kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: -Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan-. Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus'.
          Kita pun tak jarang mengalami peristiwa indah sebagaimana dialami Petrus, Yakobus dan Yohanes; tak sama persis memang, tetapi sungguh-sungguh membahagiakan dan melegakan jiwa. Tak jarang pula, ada di antara kita yang ingin mendirikan kemah-kemah di situ agar dapat berlama-lama menikmatinya, malahan ada yang ingin bermalas-malasan dalam kemah, sambil melarikan diri dari kesibukan sehari-hari. Peristiwa Tabor ini adalah anugerah dari Tuhan Allah sendiri, yang memang tak perlu dikejar; setiap orang akan menerimanya dengan cuma-cuma.
 
 
Oratio :
 
Ya Yesus, dinyatakan oleh Bapa, siapakah Engkau sebenarnya itu. InjilMu hari ini mengajak kami untuk berani mendengarkan dan mendengarkan Engkau, karena memang itulah kehendak Bapa di surge, maka buatlah kami mempunyai yang telinga yang peka akan bisikan suaraMu yang begitu lembut.
Yesus, perdengarkan selalu suaraMu itu.
 
 
Contemplatio :
          Inilah AnakKu, dengarkanlah Dia.
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening