Rabu dalam Masa Biasa XVIII

3 Agustus 2011
Bil 13: 1-2  +  Mzm 106  +  Mat 15: 21-28
 
 
 
Lectio :
Suatu hari Yesus pergi dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita." Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak." Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel."
Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku." Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.
 
 
Meditatio :
'Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita'.
Itulah seruan seorang perempuan Kanaan,  ketika Yesus pergi dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Dan kita ingat dalam bacaan pertama tadi Kanaan adalah orang-orang jajahan, mereka harus disinggkirkan dan dimusnakan. Wajar memang orang-orang Israel meremehkan orang-orang Kanaan. Lihatlah, Yesus sama sekali tidak menjawabnya, Dia tidak bergeming sedikitpun; malahan murid-murid-Nya yang merasa gelisah, dan meminta kepada-Nya: 'suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak'.
'Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel', jawab Yesus tegas. Perempuan itu bukan orang Israel. Karya pewartaan dan keselamatan pertama-tama diarahkan kepada bangsa Israel, umat terpilih, bangsa kesayangan, bangsa yang sudah dikomandaniNya dan dilepaskan dari perbudakan Mesir. Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh. Namun bagaimana Dia dapat dengan sadar mengatakan 'Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel'. Di manakah belaskasihNya? Di mana keallahanNya?
Perempuan Kanaan ini memang seorang pemberani sungguh. Dia mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: 'Tuhan, tolonglah aku'. Dia meminta dan meminta. Yesus menjawab: 'tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing'. Inilah rumusan yang disampaikan Yesus kepadanya,bahwasannya  Dia diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel,  dan bukan kepada yang lain. Jatah keselamatan itu disampaikan kepada orang-orang pilihanNya.
'Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya', kata perempuan itu tidak kehabisan akal. Dia sadar dan menerima bahwa dirinya dianggap seperti anjing. Dia dimarahi, dan dia ditegur oleh Tuhan, tetapi tidak marah dan membalas, atau putus asa. Perempuan ini sadar bahwa roti itu memang bukan jatah yang diberikan kepadanya, tetapi salahkan kalau remah-remah roti yang bertaburan dari meja itu dijilat dan dinikmatinya, guna menutupi dirinya sedang lapar. Dia terus memohon dan memohon, karena dia percaya bahwa Yesus itu mampu membuat segalanya baik dan indah.
'Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki', tegas Yesus kepadanya; dan seketika itu juga anaknya sembuh. Iman menyelamatkan perempuan Kanaan itu! Yesus dibuatnya tidak berkutik oleh perempuan ini. Yesus harus membuka lebar-lebar rumusan selama ini. Keselamatan adalah kehendak Tuhan Allah semenjak semula, tetapi Yesus tidak lagi terikat oleh pengalaman sejarah penyelamatan, sebab keselamatan tidak ditentukan oleh garis sejarah keturunan, melainkan pada kemauan dan kehendak Bapa  di surge. Tepatlah apa yang kita renungkan kali lalu bahwa 'sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku'. (Mat 12: 5)
Ketekunan dan kesabaran perempuan Kanaan kiranya harus menjadi pembelajaran bagi kita. Kalau kita cepat merasa puas dan lancar-lancar saja dalam doa-doa, apakah doa-doa kita sudah berkenan kepada Tuhan? Kita harus berani bertanya! Boleh dikata,  doa harus disertai oleh daya juang insane, karena memang doa harus mampu mengangkat jiwa, mengarahkan wajah guna memandang Allah, dan membuat tangan kita terbuka sebagai ungkapan keterbukaan hati kepadaNya. Di sinilah sulitnya berdoa. Sulit, tapi bisa dan memang harus diperjuangkan seperti perempuan Kanaan tadi.
 
 
 
Oratio :
 
Ya Yesus, buatlah kami menjadi orang-orang yang tak kunjung putus asa dalam berdoa. Malahan sebaliknya, buatlah kami orang-orang yang menjadikan doa sebagai nafas kehidupan; sebab sebagaimana kami tidak bernafas akan mati, demikianlah tanpa doa, kami akan kering dan binasa.  Amin.
 
 
Contemplatio :
          Yesus sucikanlah hati kami
 
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening